Cegah stunting, Puskesmas melakukan pelatihan PMBA selama 6 hari

Published by bambanglipuro on

suasana pelatihan kader PMBA
peragaan teknik menyusui yang benar

Status gizi baik pada balita dan bayi menjadi modal awal terciptanya generasi Indonesia yang sehat, cerdas dan kuat. Permasalahan gizi yang saat ini menjadi sorotan di tingkat nasional adalah prevalensi balita stunting yang masih tinggi di Indonesia. Data Riskesdas tahun 2013 menunjukkan jumlah balita stunting di Indonesia sebanyak 37% (hampir 9 juta), dan bila di bandingkan dengan negara-negara di asia tenggara, Indonesia menduduki peringkat ketiga jumlah balita stunting terbanyak di Asia tenggara.

Stunting menjadi fokus kementerian kesehatan karena stunting akan menurunkan kualitas SDM bangsa Indonesia di waktu mendatang. Anak-anak yang mengalami stunting akan memiliki tingkat kecerdasan yang tidak maksimal, lebih rentan terhadap penyakit, ukuran fisik tubuh kerdil dan perkembangan organ tubuh tidak optimal.

Disebutkan dalam laman kementerian kesehatan bahwa stunting disebabkan karena kekurangan gizi dalam waktu lama itu terjadi sejak janin dalam kandungan sampai awal kehidupan anak (1000 Hari Pertama Kelahiran). Beberapa faktor yang mempengaruhi antara lain karena rendahnya akses terhadap makanan bergizi, rendahnya asupan vitamin dan mineral, dan buruknya keragaman pangan dan sumber protein hewani. Faktor ibu dan pola asuh yang kurang baik terutama pada perilaku dan praktik pemberian makan kepada anak juga menjadi penyebab anak stunting apabila ibu tidak memberikan asupan gizi yang cukup dan baik. Ibu yang masa remajanya kurang nutrisi, bahkan di masa kehamilan, dan laktasi akan sangat berpengaruh pada pertumbuhan tubuh dan otak anak.

Masalah ini merupakan ancaman yang serius untuk generasi di masa yang akan datang, untuk itu kader kesehatan perlu dibekali dengan informasi yang lengkap dan keterampilan yang matang untuk mencegah stunting di masyarakat. Untuk itu, Puskesmas Bambanglipuro menyelenggarakan pelatihan pemberian makanan bayi dan anak (PMBA) selama 5 hari yaitu pada 5 – 10 agustus 2019. Pelatihan ini diikuti oleh 12 peserta terpilih yang berasal dari 3 desa di wilayah kecamatan bambanglipuro.  Peserta tersebut merupakan kader aktif dan memiliki kemampuan untuk menjadi penggerak perubahan perilaku terkait penanganan stunting di masyarakat, yang terdiri dari koordinator kader desa, kader KPM desa, dan perwakilan kader dusun.

Materi pelatihan yang disampaikan disesuaikan dengan buku panduan booklet pesan utama dari direktorat bina gizi dan KIA kementerian kesehatan tahun 2014 tentang paket konseling pemberian makan bayi dan anak.. Materi cukup lengkap mulai dari gizi untuk ibu hamil dan menyusui, posisi menyusui, pemberian MP ASI sesuai usia dan pemantauan pertumbuhan secara rutin. Keseluruhan materi disampaikan melalui penjelasan, diskusi, praktek dan simulasi kegiatan di posyandu.

Melalui kegiatan ini diharapkan kader dapat melaksanakan tugasnya dengan lebih baik, dapat memotivasi dan memberikan pendampingan kepada sasaran yang membutuhkan.

#cegah stunting, itu penting (ALY)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *