Dukung Desa Siaga, Puskesmas menyelenggarakan pelatihan P3K

Published by bambanglipuro on

Penyebab kematian akibat trauma dan pendarahan di Indonesia tercatat lebih dari 30 persen. Kasus tersebut umumnya disebabkan karena pertolongan dan penanganan yang kurang tepat dan cepat. Oleh karenanya, membawa korban kecelakaan ke rumah sakit yang memiliki sarana memadai merupakan hal penting ditunjang dengan pertolongan pertama pada saat terjadinya kecelakaan.

Rabu, 25 September 2019 Puskesmas Bambanglipuro  menyelenggarakan pelatihan desa siaga dengan tema penanganan kegawatdaruratan di masyarakat. Dalam kegiatan ini puskesmas bekerjasama dengan pemerintah desa Sumbermulyo, Mulyodadi Dan Sidomulyo untuk menghadirkan masing-masing 10 warga desa sebagai peserta pelatihan. Para peserta yang dikirimkan oleh desa terdiri dari anggota Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB), karang taruna dan sebagian dari tokoh masyarakat dusun.

dr Tarsisius Glory, kepala Puskesmas Bambanglipuro menyatakan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari kegiatan desa siaga yang bertujuan agar anggota masyarakat dapat mendeteksi kondisi gawat darurat, kemudian warga dapat memberikan pertolongan sederhana hingga petugas kesehatan datang. Beliau berharap bila semua masyarakat telah memiliki kemampuan ini maka derajad kesehatan masyarakat di Kecamatan Bambanglipuro akan meningkat. Beliau juga mengingatkan warga agar setiap warga memiliki no telepon PSC 119 Bantul yaitu (0274) 2811119. PSC 119 Bantul adalah unit layanan gawat darurat Kabupaten Bantul yang akan memberikan layanan kegawatdaruratan di seluruh wilayah Kabupaten Bantul. Tim PSC ini dapat memberikan pertolongan medis dengan cepat dan tepat karena selain menggunakan ambulan gawat darurat juga dilengkapi dengan petugas dan sarana komunikasi dengan layanan kesehatan, sehingga proses penyelamatan pasien dapat lebih terjamin.

Untuk melengkapi tim kegawatdaruratan ini, Puskesmas Bambanglipuro  memberikan perlengkapan P3K Kit kepada semua desa. Perlengkapan yang diberikan seperti : Sarung tangan, masker, kassa, gunting, betadine, rivanol, minyak kayu putih, dll serta dilengkapi dengan tas. Melalui alat ini diharapkan dapat menjadi stimulan bagi tim desa untuk berkembang dan berperan serta dalam kegiatan di masyarakat.

Fokus dalam kegiatan ini adalah peserta dapat memberikan pertolongan pertama pada kecelakaan/penyakit dengan cepat dan tepat. Dalam penyelamatan nyawa pasien, kecepatan dan ketepatan dalam penyelamatan pasien adalah hal penting yang harus diperhatikan. Periode waktu di mana pasien harus mendapatkan penanganan medis segera disebut Golden Time. Misalkan golden time untuk serangan jantung adalah 2 jam. Bila waktu ini terlewati maka kemungkinan pasien untuk dapat diselamatkan atau pulih kembali akan semakin kecil.

Materi pelatihan disampaikan dengan 2 metode yaitu diawali dengan ceramah dan dilajutkan dengan praktek. Dalam materi ceramah disampaikan tentang prinsip P3K dan dilanjutkan praktek untuk tindakan evakuasi dan balut bidai. Peserta yang terdiri dari 3 desa mendapatkan giliran secara kelompok untuk melakukan praktek. Praktek evakuasi pasien patah tulang mendapatkan penekanan yang lebih dari pemandu terutama patah pada tulang leher dan tulang belakang. Penolong harus mempertahankan posisi leher dan tulang belakang yang dicurigai patah agar tidak bertambah parah. Peserta pelatihan melakukan praktek pelepasan helm, pemasangan penyangga leher dan evakuasi dengan tandu.

Pelatihan ini akan terus dilanjutkan setiap tahun dengan materi yang akan terus di update oleh Puskesmas Bambanglipuro .

Salam sehat (Anang)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *