Puskesmas Banguntapan II Telah Melaksanakan Survey Kepuasan Pelanggan Berdasarkan Dimensi Mutu Pelayanan Kesehatan di Bagian Pendaftaran Pasien Sebagai “Effects” Pergantian Sistem Baru

Dalam rangka mewujudkan keadaan sehat tersebut banyak cara yang harus diupayakan. Salah satu diantaranya adalah penyelenggaraan pelayanan kesehatan. Jika pelayanan kesehatan tidak tersedia, tidak tercapai, tidak terjangkau, tidak berkesinambungan, tidak terpadu dan atau tidak bermutu akan sulit terwujud keadaan sehat tersebut. Puskesmas sebagai salah satu pemberi pelayanan kesehatan dasar memegang peranan yang penting dalam konsep ini untuk mewujudkan kesehatan masyarakat dengan biaya yang terjangkau. Selain melaksanakan upaya kuratif berupa pengobatan, puskesmas juga melaksanakan upaya promotif serta preventif atau pencegahan terjadinya suatu penyakit dalam kelompok atau masyarakat.

Puskesmas Banguntapan II sebagai salah satu Puskesmas di Kabupaten Bantul dengan tiada henti berusaha memegang peranan dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya. Berbagai kiat telah dilaksanakan bukan hanya meningkatkan kesadaran masyarakat untuk ikut bertanggungjawab atas kesehatan lingkungan serta perilaku hidup sehat secara mandiri tetapi meningkatkan kualitas pelayanan puskesmas sehingga masyarakat mendapatkan pelayanan sesuai dengan apa yang diharapkannya.

Berdasarkan hasil keluhan pelanggan, baik internal maupun eksternal, Pendaftaran Pasien merupakan salah satu bagian yang banyak dikeluhkan oleh pelanggan. Oleh karena itu, puskesmas melakukan upaya perbaikan mutu dengan melaksanakan perubahan sistem di pendaftaran. Dengan adanya perubahan sistem, akan dilihat seberapa layaknya, dan seberapa tepatnya untuk meminimalisir keluhan yang ada dengan mengukur tingkat kepuasan pelanggan berdasarkan Dimensi Pelayanan di Bagian Pendaftraan Pasien Puskesmas Banguntapan II.

Survey ini dilakukan pada bulan April 2016, dengan jumlah responden sebanyak 35 responden (pasien) yang datang ke Puskesmas Banguntapan II. Penilaian meliputi aspek Dimensi Pelayanan di bagian Pendaftaran Pasien Puskesmas Banguntapan II. Hasil dari survey ini dilaporkan kepada Tim Manajemen Mutu yang selanjutnya akan diteruskan kepada Kepala Puskesmas Banguntapan II. Sehingga melalui survey kepuasan pelanggan ini, dapat diketahui persepsi pelanggan terhadap mutu pelayanan berdasarkan dimensi pelayanan sehingga dapat diketahui dan dievaluasi serta ditindaklanjuti sebagai upaya peningkatan mutu di bagian Pendaftaran Pasien Puskesmas Banguntapan II.

Pengumpulan data dilakukan dengan cara menyebarkan kuesioner secara acak kepada responden sejumlah 35 responden. Responden yang dimaksud disini adalah pasien baik laki-laki maupun perempuan yang berkunjung ke Puskesmas Banguntapan II. Kuesioner dibagikan di bagian pendaftaran pasien.

HASIL DAN PEMBAHASAN KUISIONER

Data hasil kuesioner di rekapitulasi berdasarkan identitas responden, meliputi nama, jenis kelamamin, alamat, dan nomor telepfon. Sedangkan pengolahan data survey dilakukan dengan menghitung berapa banyak pasien yang menjawab “Ya” dan “Tidak” sesuai dengan jumlah kuisioner

Dari data responden yang di survey dapat diinformasikan bahwa responden dengan jenis kelamin perempuan lebih banyak (60%) dari responden berjenis kelamin laki-laki yang berjumlah (40%). Hal ini disebabkan oleh jumlah kunjungan pasien yang didominasi oleh perempuan serta kemauan mengisi kuisioner laki-laki yang relatif lebih rendah dibandingkan perempuan.

Dari tabel hasil Survey Kepuasan Pelanggan Berdasarkan pada Dimensi Mutu Pelayanan Kesehatan yang dilakukan di bagian Pendaftaran Pasien, dihasilkan bahwa :

  1. Kompetensi Teknis

Kompetensi Teknis Petugas Pendaftaran yang dimaksud disini adalah kemampuan petugas untuk melakukan kegiatan pendaftaran sesuai dengan prosedur yang ada. SOP pendaftaran pasien merupakan pedoman bagi petugas untuk melakukan kegiatan pendaftaran pasien, sedangkan bagan alur adalah tata cara melakukan proses pendaftaran pasien baik dilihat dari pasien maupun petugas itu sendiri.

Dari 35 responden, terdapat 25 responden yang mengetahui bahwa di bagian pendaftaran terdapat bagan alur pendaftaran pasien. Namun demikian, semua responden yang mengetahui bagan alur tersebut tidak dapat membaca langkah-langkah nya karena bagan terlalu kecil. Sedangkan 10 responden yang lain, tidak mengetahui adanya bagan alur pendaftran tersebut. Hal ini dikarenakan bentuk dan ukuran bagan tidak informatif.

Dari 35 responden, terdapat 30 responden yang mengetahui alur pendaftaran pasien, dan 5 lainnya tidak mengetahui alur pendaftaran pasien. 30 responden tersebut sebagian adalah pasien lama sehingga sudah mengetahui alur pendaftaran pasien, sebagian yang lain karena melihat tata cara mendaftar dari pasien lainnya, yang lainnya karena bertanya kepada pengunjung puskesmas maupun petugas yang ada. Tidak ada infomasi yang jelas tentang tata cara mendaftar sehingga masih ada responden yang mengetahui alur pendaftaran.

Dari 35 responden, dapat diinformasikan bahwa semua responden mengetahui bahwa petugas pendaftaran sudah melaksanakan pekerjaannya sesuai dengan alur pendaftaran pasien.

  1. Akses Pelayanan

Akses Pelayanan di bagian pendaftaran yang dimaksud disini adalah bagaimana pelanggan mengetahui informasi tempat pendaftaran pasien, baik melalui denah, leaflet, maupun letak pendaftaran pasien itu sendiri.

Dari 35 responden, terdapat 34 responden yang mengetahui tempat pendaftaran pasien karena letak tempat pendaftaran pasien berhadapan langsung dengan pintu masuk puskesmas, namun ada 1 responden yang tidak mengetahui tempat pendaftaran pasien. Hal ini dimungkinkan karena walaupaun secara fisik bentuk layout pendaftaran sudah menunjukkan bahwa tempat tersebut merupakan tempat pendaftaran pasien tetapi tidak terpampang tulisan “Pendaftaran Pasien” yang bisa dibaca setiap kali pengunjung puskesmas datang, terutama bagi pasien baru.

Dari 35 responden, terdapat 33 responden yang mengatakan tempat pendaftaran pasien mudah dijangkau, sedangkan 2 responden lain mengatakan bahwa tempat pendaftaran pasien tidak mudah dijangkau. Hal ini kemungkinan dikarenakan pasien harus menulis formulir pendaftaran, dan bagi pasien lansia maupun yang tidak bisa menulis akan merasa kesulitan untuk mengakses pendaftaran pasien.

  1. Kesinambungan Pelayanan Kesehatan Dasar

Kesinambungan Pelayanan Kesehatan Dasar yang dimaksud adalah konsistensi database yang ada di komputer sehingga riwayat pasien tetap berada dalam 1 rekam medis.

Dari 35 responden, terdapat 11 responden yang merupakan pasienbaru, sedangkan 24 lainnya merupakan pasien lama. Namun semua responden mengatakan bahwa petuugas pendaftaran telah melakukan identifikasi data pasien pada saat mendaftar pasien. Dan hanya ada 1 responden yang tidak mengetahui bahwa identifikasi data pasien dilakukan setiap kali mendaftar.

Hal ini menunjukkan adanya kesinambungan identitas pasien dengan berkas rekam medis. Pasien akan diidentifikasi datanya guna untuk menemukan nomor rekam medis yang akurat, sehingga berkas yang digunakan tidak salah, dan riwayat pasien akan tetap berkesinambungan.

Meliputi pelayanan yang berkesinambungan, seperti imunisasi, kunjungan bayi, dan rekam medis harus tercatat dengan lengkap dan berkesinambungan.

  1. Efektivitas Pelayanan Kesehatan Dasar

Efektivitas Pelayanan Kesehatan Dasar merupakan pencapaian tujuan dari kegiatan pendaftaran. Sistem pendaftaran mengalami perubahan dikarenakan banyak nya pasien yang komplain bahwa berkas rekam medis belum sampai ke pelayanan, padahal jika ditelusur hal ini dikarenakan data identitas pasien tidak ditulis dengan lengkap sehingga petugas kesulitan dalam mengidentifikasi data pasien.

Dari 35 responden, 34 responden mengatakan perubahan sistem pendaftaran yang baru yaitu berkomunikasi langusng dengan petugas sangat efektif karena identifikasi data lebih lengkap, akurat, dan jelas, dibandingkan dengan sistem pendaftaran pasien yang lama. Pada sistem yang baru pasien dapat bertanya dan diidentifikasi banyak hal sehingga cukup dengan sekali berkomunikasi diharapkan sudah menjawab pertanyaan pasien. Pada sistem yang lama, pasien hanya menuliskan formulir, kemudian menumpuk formulir dipendaftaran dan menunggu panggilan di ruang tunggu pelayanan. Namun yang terjadi justru pasien akan dipanggil beberapa kali untuk memenuhi data yang belum diisi lengkap, hal ini justru menghampat pelayanan. Tidak hanya itu, pasien yang sudah lama menunggu di ruang tunggu pelayanan merasa sudah mendaftar tetapi belum dipanggil sehingga pasien protes padahal proses pendaftaran pasien tersebut baru dilaksanakan.

Banyak nya pasien yang merasa bahwa pendaftaran dengan sistem yang baru ini justru lebih efeltif dibuktikan melalui turunnya jumlah komplainan pasien terkait berkas rekam medis pasien yang belum sampai ke pelayanan.

  1. Efisiensi Pelayanan Kesehatan Dasar

Pelayanan yang terpusat pada intinya, dan tidak berbelit-belit merupakan pelayanan yang efisien. Di bagian pendaftaran diharapkan, proses pendaftaran yang cepat dan tepat serta tidak berbelit-belit.

Dari 35 responden, terdapat 31 responden yang mengerti dan memahami sistem pendaftaran yang baru, 4 diantaranya tidak mengetahui perubahan sistemnya. Artinya, 31 responden mengetahui perubahan sistem lama ke sistem baru, dimana semua bisa menilai apakah pelayanan di pendaftaran yang sekarang berbelit-belit atau tidak. Data responden mengatakan bahwa 9 orang berpendapat bahwa pelayanan di bagaian pendaftaran berbelit-belit, hal ini dikarenakan pasien harus menunggu petugas memanggil nomr antrian di pendaftaran, dan melakukan identifikasi data yang memakan banyak waktu dibandingkan sisitem lama dengan pasien hanya menulis, menumpuk, dan langsung menunggu di ruang tunggu pelayanan.

Menulis formulir pasien merupakan kebijakan kepala puskesmas mulai dari tahun 2011. Namun kebijakan tersebut tidak mewajibkan pasien yang menuliskan. Terdapat kemudahan dalam pengisian formulir bagi lansia, pasien difable, maupun pasine yang buta huruf.

Dari 35 responden, terdapat 18 responden yang mengetahui bahwa ada kemudahan tersebut, sedangkan 17 responden tidak mengetahui adanya kemudahan itu, Hal ini disebabkan oleh tidak ada nya infomasi tentang kemudahan tersebut sehingga paien tidak mengetahui informasi nya.

  1. Kenyamanan Pelayanan

Kenyamanan  Pelayanan berhubungan dengan pasien yang merasa nyaman dengan kondisi yang ada di bagian pendaftaran pasien, misal : ruang tunggu bersih, ventilasi dan cahaya cukup, sesuai antrian, dll

Dari  35 responden, dapat dihasilkan bahwa semua responden menyatakan bahwa ruang tunggu pendaftaran pasien bersih, 34 diantaranya menyatakan bahwa tempat pendaftaran juga bersih, rapi dan indah, hanya ada 1 responden yang berpendapat bahwa ruang pendaftaran tidak bersih, rapi, dan indah. Hal ini disebabkan karena pada saat melakukan pendaftaran, biasanya semua sarana dan prasarana memang tidak pada tempatnya, mengingat bahwa petugas pendaftaran dituntut untuk melakukan pelayanan yang cepat dan tepat. Tidak hanya itu, tidak adanya loker tas mengakibatkan petugas meletakkan tas pada loker papan puskesmas yang menyebabkan menjadi kurang rapi dan indah.

Ventilasi dan pencahayaan sudah cukup, terbukti dari 35 responden, ada 32 responden yang menyatakan bahwa tempat pendaftaran mempunyai ventilasi dan pencahayaan yang cukup. 3 sisanya menyatakan kurang terang mungkin disebabkan oleh pasien tersebut datang dari luar puskesmas sehingga ketika masuk ruangan, terkesan pencahayaannya kurang. Letak pendaftaran tepat didepan pintu masuk, sehingga cahaya dari luar sebagian besar membantu pencahayaan di ruang pendaftaran, ditambah 2 lampu yang ada di ruang tersebut.

Antri adalah salah satu perubahan sistem dibagian pendaftaran pasien. Dengan adanya sistem antrian, pasien mengetahui kapan mereka akan dilayani, dan berapa lama waktu mereka menunggu di pendaftaran. Hal ini mengurangi tingkat ketidakadilan dalam pemberian pelayanan di bagian pendaftaran, Pasien dilayani sesuai dengan nomor antrian yang ada. Dari 35 responden yang dilakukan survey, semua responden menyatakan bahwa semua pasien dilayani sesuai dengan nomor antrian.

  1. Keamanan Pelayanan

Keamanan Pelayanan berhubungan dengan tingkat resiko yang dialami pasien di bagian pendaftaran pasien, sehingga pasien merasa aman.

Resiko yang mungkin terjadi di bagian pendaftran pasien meliputi : salah nama, salah nama KK, salah alamat, dan yang paling vatal adalah salah nomor rekam medis pasien.

Dari 35 responden, terdapat 34 responden yang mengetahui bahwa petugas pendaftaran harus melakukan identifikasi data pasien, 1 responden menyatakan tidak mengetahui akan hal tersebut. Sulit untuk dianalisa, mengapa responden tidak mengetahui bahwa petugas melakukan identifikasi data. Kemungkinan yang terjadi adalah pasien merupakan pasien lama dan rutin, database sudah ada dan lengkap, sehingga petugas tidak melakukan identifikasi data. Namun hal ini sangat kecil sekali karena setiap kali mendaftar, jika data tidak diidentifikasi maka petugas tidak akan dapat melakukan pendaftaran pasien. Kemungkinan lain adalah pertanyaan survey yang sulit untuk dipahami oleh pelanggan.

Dari 35 responden, 34 diantaranya mengetahui bahwa setiap kali mendaftar petugas akan melakukan kroscek data, namun 1 responden menyatakan petugas tidak melakukan kroscek data. Data responden ini sulit untuk dipahami, karena jika petugas pendaftaran tidak melakukan kroscek data, petugas pendaftaran tidak akan bisa melakukan pendafatran ke pelayanan mana yang dituju pasien.

Dari 35 responden, 34 diantaranya menyatakan bahwa petugas selalu memberitahukan nomor antrian pasien tersebut dan mengarahkan pasien untuk menunggu di ruang tunggu pelayanan. Namun, 1 responden mneyatakan bahwa petugas tidak memberitahukan nomor antrian dan tidak mengarahkan pasien tersebut untuk menunggu di ruang tunggu antrian. Data responden ini sama dengan responden yang menyatakan bahwa petugas tidak melakukan kroscek data, dan tidak mengetahui bahwa petugas selalu melakukan identifikasi data pasien setiap mendaftar. Hal yang sama, ada kesulitan dalam menganalisa hal tersebut. Tetapi ada kemungkinan petugas pendaftaran lupa atau pertanyaan survey yang kurang dapat dipahami responden.

  1. Hubungan Antar Manusia

Berhubungan dengan petugas. Muka berseri, ras simpatik dan ramah. Hubungan antar manusia bisa dilakukan antar petugas, bisa dilakukan antara petugas dengan pasien.

Dari 35 responden, 34 diantaranya menyatakan bahwa petugas pendafatran ramah, melakukan pelayanan dengan cepat dan tepat, selalu memberikan tanggapan terhadap keluhan pasien. 1 responden yang tidak setuju dengan pernyataan tersebut.

Dilihat dari jam pelayanan di bagian pendaftaran yang dimulai jam 07.30, Ada 2 dari 35 responden yang menyatakan bahwa petugas pendaftaran tidak tepat waktu.

  1. Petunjuk yang Jelas

Berhubungan dengan papan petunjuk, atau denah, dan atau informasi yang tersedia. Dari 35 responden yang di survey, 13 responden menyatakan bahwa mereka mengetahui jam pelayanan di pendaftaran, 22 diantarannya tidak mengetahui karena tidak ada informasi yang mudah dibaca oleh pasien di tempat pendaftaran pasien. Sama hal nya dengan denah tempat pendaftaran. 13 responden dari 35, menyatakan bahwa pernah melihat denah ruang pendaftaran pasien, namun pada saat ditinjau kembali denah tersebut sudah tidak ada.

KESIMPULAN 

Berdasarkan hasil survey kepauasan pelanggan berdasarkan dimensi mutu pelayanan yang dilakukan, masih terdapat ketidakpuasan pelanggan terhadap mutu pelayanan kesehatan di bagian pendaftaran pasien. Dapat disimpulkan bahwa 15,4 % dari dimensi mutu pelayanan dinyatakan masih terdapat ketidakpuasan pelanggan, sedangkan 84,6 % dari dimensi mutu pelayanan yang disurvey dinyatakan puas dengan pelayanan bagian pendaftaran pasien

SARAN

  1. Membuat bagan alur pendaftaran pasien dengan sistem baru, dengan format yang lebih besar sehingga pasien bisa membaca dengan jelas
  2. Membuat papan petunjuk tempat pendafatarn yang digantung pada langit-langit sehingga letak pendaftaran pasien nampak jelas dan informatif
  3. Membuatkan informasi yang mudah terbaca pasien tentang kemudahan pengisian formulir bagi difable, lansia, buta huruf, dan pasien lain yang tidak bisa mengisi formulir
  4. Menempelkan jadwal pendaftaran pasien, berikut dengan jenis pelayanan nya
  5. Memasang denah ruang pendaftaran (kembali)

 

(Khatemi)

Perbaikan Sistem Pendaftaran Pasien Mampu Meminimalisir Keluhan Pasien

Dalam rangka perbaikan sistem dalam peningkatan mutu pelayanan di bagian pendaftaran pasien. Koordinator Pendafatran Pasien melakukan Analisa Manajemen Resiko yang sering terjadi di bagian pendaftaran pasien dengan metode FMEA (Failure Mode and Effect Analysis) yaitu mengidentifikasi kegagalan disetiap tahapan dalam melakukan kegiatan pendaftaran. Ada beberapa tahap yang dilakukan dalam Analisa FMEA, yaitu :

  1. Memilih dan Menetapkan Proses yang Berisiko Tinggi
  2. Membuat flow chart (diagram alur) yang rinci yaitu menentukan titik awal dan akhir dari proses,dan menganalisa flow chart
  3. Mengidentifikasi kemungkinan kegagalan proses dan efek yang ditimbulkan ke pasien
  4. Menetapkan kemungkinan tingkat keparahan dari efek tersebut ke pasien dengan metode workshop
  5. Tim FMEA melakukan workshop untuk mengidentifikasi masalah dengan alat bantu fish bone. Dengan tujuan menemukan akar penyebab masalah
  6. Desain ulang dengan cara melakukan curah pendapat untuk menentukan dan menetapkan desain baru
  7. Melakukan uji coba desain baru: diawali dengan melakukan sosialisasi desain baru kepada petugas terkait
  8. Evaluasi desain baru dengan cara mengukur efektifitas hasil desain ulang dengan parameter sesuai hasil pengukuran risiko tahap sebelumnya

Dengan dilakukannya metode FMEA ini, diharapkan dapat menyelesaikan permasalahan yang terjadi di pelayanan bagian pendaftaran dan rekam medis rawat jalan sehingga dapat meminimalisir keluhan masyarakat yang masuk ke puskesmas maupun ke pihak luar lainnya.

Berikut akan dishare hasil analisis FMEA (Silahkan klik dibawah ini ) :

1. Silahkan klik ANALISA FMEA_PENDAFTARAN

2. Diagam Fishbone

IMG_20160523_124642IMG_20160523_124655

3. Silahkan Klik MATERI RM

4. Hasil Rapat Manajemen Mutu Puskesmas

IMG_20160523_124727IMG_20160523_124740

5. Silahkan Klik PERBANDINGAN DESIGN SISTEM LAMA DENGAN SISTEM BARU PENDAFTARAN PASIEN

6. Hasil On The Job Training Sistem Baru

IMG_20160523_124804IMG_20160523_124816IMG_20160523_124838IMG_20160523_124849IMG_20160523_124903

7. Silahkan Klik HASIL EVALUASI SISTEM BARU

 

Terima kasih,

(Khatemi)

Gambaran Sistem Manajemen Puskesmas Banguntapan II

IMG-20160416-WA0013

Dalam rangka menjalankan sistem manajemen di puskesmas, Puskesmas Banuntapan II menjalankan siklus PDCA (Plan Do Check Action), dimana dapat dijelasakan bahwa :

Plan (Merencanakan) adalah menetapkan target atau sasaran yang ingin dicapai dalam peningkatan proses ataupun permasalahan yang ingin dicapai. Pada tahapan perencanaan, puskesmas membuat Perencanaan Tingkat Puskesmas (PTP) dengan membentuk Tim Perencanaan. Pada akhir tahun, Tim Perencanaan menyiapkan format analisa permasalahan untuk didistribusikan ke masing-masing pemegang program. Adapun isi dari analisa permasalahan tersebut meliputi : identifikasi masalah, menetapkan urutan prioritas masalah (Metode USG), merumuskan masalah mencakup 5W1H :What, Where, When, Who, Why, and How, mencari akar penyebab masalah (Diagram Fishbone), dan penyusunan Rencana Usulan Kegiatan (RUK). Perencanaan juga memperhatikan masukan dari masyarakat melalui Survey Mawas Diri, Survey kebutuhan dan harapan pelanggan, dan masukan lain. Setelah mendapat persetujuan, RUK tersebut berubah menjadi Rencana Pelaksanaan Kegiatan (RPK) yang harus dilaksanakan puskesmas.

Do (Melaksanakan) adalah tahap penerapan atau melaksanakan semua yang telah direncanakan di Tahap Plan termasuk menjalankan prosesnya, memproduksi serta melakukan pengumpulan data (data collection) yang kemudian akan digunakan untuk tahap Check dan Action. Dalam tahap ini, Puskesmas melaksanakan kegiatan sesuai dengan apa yang sudah direncanakan dalam RPK. Tugas Tim Manajemen disini adalah memantau kegiatan yang harus dilakukan setiap bulan.

IMG-20160425-WA0020IMG-20160511-WA0009

Check (Memeriksa) adalah tahap pemeriksaan dan peninjauan ulang serta mempelajari hasil-hasil dari penerapan di tahap Do. Melakukan perbandingan antara hasil aktual yang telah dicapai dengan Target yang ditetapkan dan juga ketepatan jadwal yang telah ditentukan. Dalam tahap ini, Tim Manajemen memonitoring kegiatan yang telah dilakukan, dan yang belum dilakukan. Pada saat rapat lokakrya mini bulanan, bersama Tim Mutu dan Kepala Puskesmas  melakukan evaluasi terhadap capaian program. Apakah sudah tercapai atau mempunyai hambatan. Sehingga ditemukan solusi yang tepat untuk memecahkan masalah (rencana tindak lanjut)

Action (menindaklanjuti) adalah tahap untuk mengambil tindakan yang seperlunya terhadap hasil-hasil dari tahap CHECK. Terdapat 2 jenis Tindakan yang harus dilakukan berdasarkan hasil yang dicapainya, antara lain : Tindakan Perbaikan (Corrective Action) yang berupa solusi terhadap masalah yang dihadapi dalam pencapaian Target, Tindakan Perbaikan ini perlu diambil jika hasilnya tidak mencapai apa yang telah ditargetkan. Kemudian Tindakan Standarisasi (Standardization Action) yaitu tindakan untuk men-standarisasi-kan cara ataupun praktek terbaik yang telah dilakukan , Tindakan Standarisasi ini dilakukan jika hasilnya mencapai Target yang telah ditetapkan. Dalam tahap ini, pemegang program melakukan tindaklanjut terhadap permasalahan yang telah disepakati bersama pada lokakryamini

Begitu seterusnya melalui Siklus PDCA sampai mendapatkan hasil yang diinginkan

(Khatemi)