Menaruh harapan untuk berantas DBD pada Wolbachia

Demam berdarah (DB) adalah penyakit demam akut yang disebabkan oleh virus dengue, yang masuk ke peredaran darah manusia melalui gigitan nyamuk dari genus Aedes, misalnya Aedes aegypti atau Aedes albopictus.[1] Terdapat empat jenis virus dengue berbeda, namun berelasi dekat,yang dapat menyebabkan demam berdarah.[2] Virus dengue merupakan virus dari genus Flavivirus, famili Flaviviridae.[3] Penyakit demam berdarah ditemukan di daerah tropis dan subtropis di berbagai belahan dunia, terutama di musim hujan yang lembap.[2] Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan setiap tahunnya terdapat 50-100 juta kasus infeksi virus dengue di seluruh dunia.[4]

Dengue pertama kali dilaporkan di dua dari 29 provinsi di Indonesia pada tahun 1968. hingga hari ini Dengue telah menyebar ke seluruh provinsi dan endemik di berbagai kota besar dan kota-kota kecil di sekuruh Indonesia.

Berbagai usaha telah dilakukan untuk menurunkan kasus dan kematian DBD di Indonesia antara lain dengan menganjurkan pelaksanaan 3 M (Mengubur, menguras dan menutup), PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk),  PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat), pengasapan (fogging)dan upaya lainnya. Secara umum program tersebut bisa dikatakan belum berhasil menekan kasus DBD walaupun kasus kematian berhasil ditekan.

Untuk mengatasi hal tersebut perlu upaya lain antara lain dengan membiakan Nyamuk Aedes Agypti yang dinfeksikan dengan bakteri wolbachia.

Wolbachia dalah salah satu genus bakteri yang hidup sebagai parasit pada hewan artropoda.[1] Infeksi Wolbachia pada hewan akan menyebabkan partenogenesis (perkembangan sel telur yang tidak dibuahi), kematian pada hewan jantan, dan feminisasi (perubahan serangga jantan menjadi betina).[1] Bakteri ini tergolong ke dalam gram negatif, berbentuk batang, dan sulit ditumbuhkan di luar tubuh inangnya.[2] Berdasarkan studi filogenomik,Wolbachia dikelompokkan menjadi 8 kelompok utama (A-H).  Bakteri tersebut banyak terdapat di dalam jaringan dan organ reproduksi hewan serta pada jaringan somatik. Inang yang terinfeksi dapat mengalami inkompatibilitas (ketidakserasian) sitoplasma, yaitu suatu fenomena penyebaran faktor sitoplasma yang umumnya dilakukan dengan membunuh progeni (keturunan) yang tidak membawa/mewarisi faktor tersebut.[3]

Di Yogyakarta, sebuah penelitian penting baru saja disimpulkan untuk menguji metode mengontrol dan mencegah Demam Berdarah Dengue. Ini merupakan upaya untuk memisahkan diri dari praktik yang hanya reaktif setelah demam berdarah menjadi epidemi. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan mekanisme dan cara-cara untuk menjadi di depan kurva dan menggigit masalah sejak awal. Ini merupakan penelitian terobosan yang mungkin tidak memiliki manfaat langsung bagi perusahaan ANJ tetapi ketika terbukti sukses akan memberikan kontribusi amat besar terhadap kesejahteraan masyarakat pada umumnya.

Penelitian pada intervensi yang ditargetkan untuk tiga kontainer primer (Bak Mandi, Bak Air sumur dan perumahan) menunjukkan hasil yang efektif dalam mengendalikan kepompong tetapi tidak menghasilkan kontrol yang signifikan dari orang dewasa Aedes aegypti maupun dalam penularan DBD. Sementara hipotesis tidak dapat dibuktikan, hasil penelitian dan pelajaran akan dipublikasikan secara luas dan Yayasan sedang mempelajari kemungkinan untuk mempelajari metode lain yang kompatibel untuk mengendalikan demam berdarah.

Penelitian dilakukan di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul bekerja sama dengan Atlanta (AS) berbasis CDC Foundation dan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada dengan dukungan penuh dari pemerintah dan rakyat Kota Yogyakarta. Sampai saat ini penelitian sudah mendukung leveraged (in-jenis dan keahlian) dari kolaborator perusahaan seperti ESRI Corporation (GIS software), GIS Associates (GIS keahlian), dan Sumitomo Chemicals (IGR), dan organisasi Scobie & Claire Mackinnon Trust (Melbourner, Australia), Give2Asia dan Penasehat Philanthrophy Rockefeller.

Kategori: uncategorized

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *