Mengenali Gejala Skizofrenia

'Not humbug!  Algorithms!' photo (c) 2010, garlandcannon - license: http://creativecommons.org/licenses/by-sa/2.0/

Orang yang menderita skizofrenia mengalami beberapa gejala tetapi gejalanya dapat berbeda dari orang ke orang dan tergantung tingkat keparahannya. Selain halusinasi dan delusi, penarikan diri dari aktivitas sosial juga biasanya termasuk gejala yang umum.

Gejala dan tanda skizofrenia pada umumnya dibagi menjadi dua kategori: gejala positif dan gejala negatif. Gejala positif bukan berarti baik, tetapi gejala yang mencerminkan kelebihan dari fungsi normal. Sebaliknya, gejala negatif adalah gejala yang mengacu pada berkurangnya fungsi normal.

Gejala positif

Gejala positif yang paling umum dari skizofrenia adalah psikosis, yaitu kehilangan kemampuan untuk mengenali realitas atau berhubungan dengan orang lain dan penderita biasanya berperilaku dengan cara yang tidak tepat dan aneh. Penderita psikosis mengalami pengalaman inderawi yang sebenarnya tidak ada (halusinasi) atau menginterpretasikan dunia secara berbeda dari kenyataannya (delusi). Keduanya dapat hadir sendiri-sendiri atau bersamaan.

Halusinasi dan DelusiHalusinasi adalah pengalaman inderawi yang tidak didasari oleh realitas. Halusinasi dapat terjadi pada kelima pancaindera, tetapi halusinasi pendengaran adalah yang paling sering pada skizofrenia.

Halusinasi pendengaran adalah mendengar suara-suara yang sebenarnya tidak ada. Bentuknya sebagian besar adalah suara manusia. Mereka bisa hadir sebentar atau terus-menerus. Mereka mungkin seperti berbicara langsung kepada pasien, mengomentari perilaku atau pikirannya, mengejek, mencela atau memarahinya. Suara-suara itu bisa memicu tindakan agresif terhadap diri sendiri atau orang lain. Halusinasi bau dan rasa dapat berupa bau pengap, asam, busuk atau terbakar yang hampir selalu tidak menyenangkan, tidak diinginkan atau menakutkan. Halusinasi rasa kadang-kadang dapat disertai oleh gagasan tentang diracun. Halusinasi visual dapat hadir dalam berbagai derajat, seperti bayangan samar di tepi bidang visual, bayangan binatang, orang lain atau makhluk gaib. Halusinasi sentuhan mungkin menyenangkan, tetapi biasanya tidak menyenangkan. Penderita mungkin merasakan kulitnya gatal, diliputi cairan, atau merasakan ada yang mengganggu di tubuhnya.

Delusi adalah kesalahpahaman yang serius tentang apa yang seseorang lihat, dengar, atau pikir. Orang yang delusi sangat memegang keyakinan yang tidak rasional dan tidak realistis yang sangat sulit untuk berubah, bahkan ketika orang itu dihadapkan pada bukti yang bertentangan dengan khayalannya. Orang awam biasanya menganggap delusi sebagai “paranoid” di mana orang yang delusi merasa curiga berlebihan dan terus-menerus terhadap konspirator yang “akan mencelakainya”. Namun, delusi juga bisa menyangkut keyakinan akan kemegahan, fantasi cinta yang rumit (delusi erotomanik), atau kecemburuan ekstrim dan irasional. Delusi kemegahan (grandiose delusion) adalah sebuah penilaian yang berlebihan atas diri, kekuasaan, pengetahuan, identitas, atau hubungan khusus dengan seorang penguasa atau orang terkenal. Orang dengan delusi kemegahan memiliki keyakinan irasional yang membesar-besarkan betapa pentingnya dirinya, seperti percaya diri untuk menjadi orang terkenal, atau merasa telah menjadi orang penting seperti Perdana Menteri atau Presiden. Seringkali delusi kemegahan mengambil bentuk yang berbau agama, misalnya, seseorang mungkin yakin bahwa dirinya adalah wali atau nabi utusan Tuhan. Delusi nihilistik adalah khayalan mengenai ketiadaan diri atau bagian dari diri, atau beberapa objek dalam realitas eksternal.

Orang-orang yang mengalami psikosis sering kesulitan untuk mengawal pikiran dan percakapan. Beberapa orang merasa sulit untuk berkonsentrasi dan melantur dari satu gagasan ke gagasan lain. Pikiran dan bicara mereka campur aduk atau membingungkan. Mereka sering menghentikan kalimat di tengah-tengah atau mengucapkan kata-kata tanpa arti (meracau), sehingga menyulitkan percakapan dengan orang lain.

Psikosis juga dapat ditandai oleh perilaku yang tidak teratur dan tak terduga, dengan penampilan atau pakaian yang terlihat aneh bagi orang lain. Perilaku yang tidak teratur mungkin ditunjukkan dalam beberapa cara, mulai dari kekonyolan seperti anak kecil sampai berteriak-teriak atau mencaci-maki tanpa alasan.

Anda dapat membandingkan psikosis dengan demam. Seperti halnya demam, psikosis dapat hadir pada berbagai kondisi dan menjadi bagian dari berbagai penyakit mental. Keparahan psikosis bervariasi antar penderita. Dalam beberapa kasus, ciri psikosis terdapat pada semua aspek perilaku dan berpikir, dalam kasus lain, pengaruhnya lebih terbatas dan penderita masih dapat melakukan kegiatan seperti bekerja, bersekolah, berbelanja, dll.

Penderita skizofrenia juga mungkin menunjukkan gangguan katatonik (katatonia). Misalnya, mereka berdiri terpaku dalam posisi tertentu untuk waktu yang sangat lama, berjalan pada jari kaki, atau mengangkat alis sepanjang waktu. Gejala ini lebih umum pada skizofrenia yang telah berlangsung lama (kronis).

Gejala negatif

Gejala negatif dapat muncul dengan atau tanpa gejala positif, yang mencakup kehilangan minat dalam kegiatan sehari-hari, penurunan energi, penurunan inisiatif, emosi datar, berkurangnya kemampuan untuk merencanakan atau melakukan kegiatan, mengabaikan kebersihan pribadi, penarikan diri dari masyarakat dan kehilangan motivasi. Gejala-gejala ini sering menimbulkan stigma karena keliru ditafsirkan sebagai ekspresi kelemahan atau kemalasan.
Banyak penderita skizofrenia memiliki keterampilan sosial yang buruk, antara lain karena gejala negatif ini, sehingga membuat mereka terisolasi secara sosial.

Kapan Anda harus menemui dokter

Jika Anda merasa tidak dapat memercayai indera Anda, misalnya mendengar suara-suara atau merasa selalu dianiaya atau difitnah, Anda harus berkonsultasi dengan psikiater (ahli kedokteran jiwa).

Seringkali, pasien didorong oleh kerabatnya untuk mencari bantuan. Beberapa orang mencari bantuan segera setelah mengalami gejala awal, yang lain terlambat melakukannya, ketika gejala sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Jika Anda terlambat pergi ke dokter, gejala akan terus memburuk dan penyakit mungkin tidak lagi dapat disembuhkan. Anda tidak perlu terisolasi secara sosial dan kehilangan pekerjaan terlebih dahulu sebelum mencari bantuan medis.

(sumber: http://majalahkesehatan.com)

Kategori: uncategorized

2 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *