Oleh : Rinova Cahyandari,M.Psi.

Manusia dalam hidupnya akan mengalami perkembangan dalam serangkaian periode yang berurutan, mulai dari sejak dalam kandungan hingga usia lanjut . Setiap masa dilalui melalui tahap-tahap yang saling berkaitan dan tidak dapat diulang kembali.

Menurut Departemen Sosial RI dan Direktorat Jenderal Bina Keluarga Sosial (1997) lansia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas, dan terbagi menjadi usia lanjut potensial dan non potensial. Usia lanjut potensial adalah usia lanjut yang memiliki potensi dan mampu membantu dirinya dan sesamanya. Usia lanjut non potensial adalah yang tidak memperoleh penghasilan dan tidak dapat mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhannya sendiri.

Para usia lanjut masih harus menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi mengiringi usianya. Diantaranya ada perubahan Fisik; seperti perubahan sistem kekebalan tubuh, sistem metabolisme, syaraf, pernafasan, pencernaan dan lain sebagainya. Perubahan psikososial; lansia mengalami ketergantungan baik dari segi fisik, sosial, dan ekonomi. Dalam teori Ericson, bahwa tugas perkembangan di lanjut usia adalah tercapainya integritas dalam diri. Artinya, lansia diharapkan mampu berhasil memenuhi komitmen dalam hubungan dirinya dengan orang lain, menerima kelanjutan usianya, menerima keterbatasan, fisiknya. Akan tetapi jika tidak bisa mencapai integritas diri maka lansia tersebut akan mengalami keputus asaan, merasa tidak berguna, banyak mengeluh, dan banyak menuntut yang akan menyebalkan bagi keluarganya.

Yang terakhir adalah perubahan emosi dan kepribadian. Terjadi proses kematangan pribadi dan bahkan dapat terjadi pemetaan gender yang terbalik. Para wanita lansia bisa menjadi lebih tegar dibandingkan lansia pria. Sebaliknya pada saat lansia, banyak pria tidak segan-segan memerankan peran yang sering dianggap sebagai pekerjaan wanita, seperti mengasuh cucu, menyiapkan sarapan, membersihkan rumah, dsb.

Perubahan-perubahan yang terjadi pada lansia cenderung menimbulkan anggapan bahwa lansia sudah tidak produktif lagi, sehingga perannya secara sosial atau masyarakat semakin berkurang dan secara emosional menjadi kurang terlibat. Tidak jarang ada anggapan keberadaan lansia sebagai orang yang tidak berguna bahkan dirasa sebagai beban.

Pada umumnya lansia tinggal di lingkungan keluarga, namun ada pula yang  tidak tinggal dengan keluarga. Karena anak-anak telah mandiri dan hidup terpisah dari orang tua. Keterpisahan orang tua denga orang yang dicinttainya, misalnya anak, dapat memicu perasaan kesepian pada lansia dimana kesepian akan meningkat ketika pasangan dari lansia meninggal. Di sisi lain ternyata para lansia yang masih tinggal dengan anak atau keluarga juga sering mengalami kesepian. Hal ini disebabkan karena pola keluarga yang semakin mengarah pada pola keluarga inti (nuclear family) dimana anak-anak begitu sibuk dengan masalahnya sendiri sehinga secara tidak langsung anak-anak kurang mempedulikan keberadaan serta jalinan komunikasi dari ortu dan anak makin berkurang. Inilah yang membuat lansia merasa tersisih tidak lagi diperlukan peranannya sebagai anggota keluarga dan memicu timbulnya kesepian meskipun masih berada di lingkungan keluarga. Perasaan kesepian tersebut bertambah ketika fisik menurun sehingga menjadi tidak terlalu bisa beraktifitas untuk mengurangi atau menghilangkan perasaan kesepian yang dialami.

Apa itu kesepian?

Kesepian adalah suatu keadaan mental dan emosional dicirikan perasaan terasing dan kurangnya hubungan yang bermakna dengan orang lain .

Apa yang dirasakan setika seseorang mengalami kesepian?

Beberapa hal yang dirasakan ketika seseorang mengalami kesepian adalah merasa tidak puas, kehilangan, stress, bosan, tidak sabar, mengutuk diri sendiri, putus asa dan perasaan tidak berdaya.

Apa saja akibat kesepian?

Seseorang menjadi lebih mudah terserang penyakit, depresi, bunuh diri bahkan samapi kematian pada lansia. Kadar kesepian bisa berbeda antara satu orang dengan orang lainnya. Hal ini disebabkan karena perbedaan dalam menyikapi masalah dan banyak sedikitnya dukungan sosial yang diperoleh lansia. Seseorang yang memperoleh dukungan sosial secara terbatas (cenderung sedikit) lebih berpeluang mengalami kesepian. Seseorang  yang memperoleh dukungan sosial yang lebih baik, tidak terlalu merasa kesepian.

Apa itu dukungan sosial?

Dukungan sosial adalah kenyamanan, perhatian, dan penghargaan yang diandalkan pada saat individu mengalami kesulitan. Dukungan sosial mengacu pada kenyamanan, perhatian, penghargaan, atau bantuan yang diberikan orang lain atau kelompok kepada seseorang. Bentuk dukungan sosial  yaitu dengan memberikan dukungan dalam bentuk bantuan nyata bantuan materi, pemberian informasi yang diperlukan, memberikan pengharhaan atau penilaian positif, dukungan semangat, dan mengikut sertakan dalam kegiatan bersama-sama.

Bagaimana Lansia mendapatkan Dukungan Sosial?

  • Lansia perlu berinteraksi sosial dengan orang lain (melakukan kontak sosial)
  • Lansia akan merasa senang dan bahagia dengan adanya aktivitas rutin serta punya hubungan sosial dengan kelompok seusianya.
  • Mendapatkan dukungan dari suber dukungan sosial, yaitu pasangan, orang yang dianggap keluarga, orang lain, keluarga, atau kerabat dekat.

Secara umum, lansia pada dasarnya membutuhkan dukungan dan bantuan baik secara finansial, nasihat yang membangun, pemberian semangat kasih sayang yang melimpah dari anggota keluara, tetangga, dan masyarakat agar meminimalisir munculnya perasan kesepian yang dapat berefek pada kesehatan Lansia.

(Rinova Cahyandari,M.Psi. adalah Konsultan Psikologi Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul yang bertugas di Puskesmas Dlingo II)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *