Kader Lansia ku Juara..

whatsapp-image-2016-12-05-at-10-07-36
Tidak hanya Posyandu balita yang telah di kenal masyarakat dan dirasakan betul manfaatnya karena sangat membantu keluarga dalam memantau gizi dan tumbuh kembang anak.

Posyandu lansia saat ini mulai masif digerakan oleh lapisan masyarakat difasilitasi oleh Pemerintah melalui Puskesmas.

Posyandu lansia adalah pos pelayanan terpadu untuk masyarakat usia lanjut di suatu wilayah tertentu yang sudah disepakati, yang digerakkan oleh masyarakat dimana mereka bisa mendapatkan pelayanan kesehatan. Continue reading

Ramadhan Sebentar lagi

 among tamuRamadhan 1436 H hampir tiba, gemanya sudah terasa tidak akan lama kita semua akan segera memasukinya. Tidak terkecuali rekan-rekan keluarga besar Puskesmas Dlingo II mulai merancang agenda untuk memakmurkan bulan mulia Ramadhan 1436.

Teringat acara di tahun yang telah lampau, semangat berbagi dan kebersamaan yang makin tumbuh dan berkembang seiring berjalannya kegiatan rutin sejak awal digagasnya acara ini 6 atau 7 tahun yang lalu

Continue reading

Pemkab Bantul meraih Manggala Bakti Husada

manggalaMasih dalam rangka memperingati HKN, pemerintah Kab Bantul meraih penghargaan Manggala Bakti Husada yang diadakan oleh Kemenkes, bersama 9 pemerintah daerah yang lain diantaranya, Pemprov Sumut, Pemprov Jabar, Pemkot Yogyakarta, Pemkab Pelabuhan Batu, Pemkab Musi Banyuasin, Pemkab Kulonprogo dan Pemkab Waringin Barat. Acara penyerahan penghargaan dilaksanakan pada tanggal Continue reading

TELITI SETELAH MEMBELI…

Ada beberapa pengalaman yang berharga dari cerita orang-orang disekitar kita. Dalam artikel kali ini penulis ingin menyajikan 3 cerita nyata yang menginspirasi kita untuk bisa menjadi KONSUMEN yang CERDAS.

 Pertama, pada suatu hari seseorang membeli 3 macam obat disalah satu apotek, saat membayar dikasir orang tersebut merasa harus membayar dengan jumlah yang cukup besar. Karena bekerja di puskesmas maka sedikit banyak dia  mengetahui harga obat-obatan. Maka sesampai dirumah dia kemudian meneliti kembali struk belanja tersebut, ternyata harga obat yang seharusnya menunjukkan 1 blister, dihitung sebagai 1 biji. Jika dalam 1 blister ada 10 biji, maka konsumen membayar 10x lebih besar. Saat dikonfirmasi ke apotek bersangkutan, ternyata memang benar telah terjadi kekeliruan.

Kedua, seseorang belanja minuman susu fermentasi di swalayan. Satu bungkus berisi 5 buah, dengan harga eceran 1.500/buah. Sesampai dirumah orang tersebut meneliti struk belanja, ternyata disana tertulis hanya 1.500 untuk kelima botol tersebut. Maka orang tersebut konfirmasi ke swalayan yang bersangkutan dan membayarkan kekurangannya.

 Ketiga, seorang ibu-ibu membeli apel yang jumlahnya hanya 4 biji. Saat membeli beliau begitu yakin sudah memilah dan memilih dengan benar, maka setelah apel tersebut ditimbang dan dibungkus beliau bawa pulang. Sesampainya dirumah ternyata 2 dari 4 apel tersebut busuk. Tak habis pikir bagaimana dia bisa salah memilih sekiranya hanya 4 buah yang diambil. Dengan tetap berusaha berpikir positif, beliau hanya menyalahkan diri sendiri kenapa tidak meneliti kembali sebelum meninggalkan tempat tersebut.

Bisa dikatakan hampir 100%  konsumen akan memilih (meneliti) barang yang akan dikonsumsi, paling tidak akan melihat 3 hal yaitu : Kemasan, Tanggal Daluwarsa (ED), dan Harga. Beberapa orang bahkan ada yang jeli untuk melihat kadar gizi atau pun  komposisi dari produk tertentu. Ini membuktikan bahwa TELITI SEBELUM MEMBELI sudah banyak dilakukan oleh konsumen.

Kembali pada ketiga cerita diatas, ternyata meneliti sebelum membeli belumlah cukup. Lebih penting lagi adalah TELITI SESUDAH MEMBELI, terutama saat konsumen membeli ditempat-tempat yang tidak mengijinkan konsumen untuk langsung kontak dengan barang (Non Swalayan) dan tidak menampilkan harga barang dengan jelas.

Jika konsumen melakukan hal tersebut maka ini bukan hal yang salah atau pun tabu melainkan salah satu bentuk konsumen yang cerdas. Seperti ditulis dalam UU No 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen disebutkan  beberapa hak konsumen yang dijamin, seperti :

  1. Hak memilih barang atau yang akan dikonsumsi
  2. Hak mendapat kompensasi dan ganti rugi
  3. Hak dilayani, diperlakukan dengan baik tanpa diskriminasi
  4. Hak mendapat advokasi dan perlindungan serta upaya penyelesaian sengketa
  5. Hak didengar pendapat dan keluhannya
  6. Hak atas keamanan, kenyamanan, keselamatan dlm mengkonsumsi
  7. Hak mendapat informasi yg benar, jelas, dan jujur atas apa yang akan dikonsumsi
  8. Hak mendapat barang/jasa sesuai nilai tukar dengan kondisi dan jaminan yg dijanjikanMengapa teliti sesudah membeli sangat penting? Meskipun dinomor 5, konsumen mendapat hak untuk didengar pendapat dan keluhannya, namun sudah lazim diketahui bahwa keluhan yang datang setelah meninggalkan tempat bertransaksi tidak akan ditanggapi secara obyektif apalagi jika tidak memberikan bukti jelas seperti print out nota atau sejenisnya.

Mudah-mudahan tulisan ringkas dengan bahasa yang sangat sederhana ini bermanfaat untuk mengantarkan kita menjadi konsumen yang cerdas. Diakhir tulisan, jangan lupa memilih produk Indonesia untuk mengangkat ekonomi bangsa sendiri, dengan demikian maka kita akan menjadi konsumen yang sangat cerdas. (gambar dan artikel diambil dari berbagai sumber oleh Three-S)

Santun dalam Berbahasa (dengan) menghindari Bahasa Pembangkit Amarah

Penulis membuat narasi ini teringat dengan pertanyaan Kepala Dinas  waktu memberikan arahan disalah satu pembukaan kegiatan. Beliau bertanya kenapa Bahasa Indonesia selalu di atas dalam susunan raport dan menjadi mata pelajaran yang penting dalam penentuan kelulusan anak didik?

Apakah karena Bahasa indonesia sebagai bahasa nasional, bahasa pemersatu? ternyata BUKAN. Bahasa adalah alat komunikasi yang dapat mencerminkan keahlian seseorang, baik untuk mengungkapkan kecerdasannya maupun emosinya.

Banyak orang yang sebenarnya cerdas namun tidak bisa menyampaikannya dengan baik,terlihat gagu dan tidak menguasai topik. Namun sebaliknya ada juga orang yang dengan ilmu sedikit namun mampu menyampaikan dengan bahasa yang bagus sehingga terlihat cerdas dan menguasai pokok pembicaraan.

Selain mengungkapkan kecerdasan, penguasaan terhadap bahasa juga bisa membangun karakter seseorang. Sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa hidup sendiri Setiap hari harus berkomunikasi dengan orang lain. Sukses dalam berkomunikasi merupakan awal kesuksesan seseorang, baik dalam membangun hubungan keluarga, pertemanan, hubungan kerja, maupun lainnya.

Berikut penulis ambil dari ghiboo.com beberapa hal dalam bahasa yang harus kita hindari untuk membuat hubungan menjadi lebih baik. Contoh ini diambil dari hubungan orangtua-anak, namun tidak menutup kemungkinan juga bisa diterapkan dalam hubungan atasan-karyawan.

 ****

Ketidaksepahaman orangtua dan anak kerap terjadi. Akhirnya, pertengkaran tidak bisa dihindari. Fayanisa Dwityarani, M.Psi, Psikolog permasalahan remaja dari Kassandra & Associate Jakarta, menyarankan agar para orangtua menghindari kata-kata yang menyalahkan. Fokuslah pada apa yang ingin Anda sampaikan. Berikut beberapa bahasa yang sebaiknya tidak Anda gunakan saat bertengkar.

 Hindari menggunakan kata ‘selalu’ atau ‘kebiasaan’. Misalnya, “Kamu selalu saja membuat orang menunggu terlalu lama.” atau dalam hubungan kerja ” Kamu selalu saja terlambat kalau membuat laporan “

Jangan membandingkan satu anak (karyawan) dengan lainnya. Misalnya, “Kakak kamu bisa nilai rapornya selalu bagus, kenapa kamu tidak bisa seperti dia sih?” atau dalam hubungan kerja ” Kenapa kamu tidak bisa secepat si A jika dimintai data…”

Ketika bertengkar, sebaiknya Anda tidak menggunakan pengalaman Anda sebagai tolok ukur. Hindari kata-kata, “Zaman dulu Mama nggak pernah naik mobil ke sekolah…” atau dalam hubungan kerja  “Waktu dulu aku jadi staf membuat laporan begini gampang…”

Hindari juga perkataan diktator seperti, “Ya karena mama bilang tidak boleh ya tidak boleh, titik!” atau dalam hubungan kerja ” ini sudah keputusanku…”

****

Three-S