P3K di Pantai Depok

jyjHari ini awal tahun 2015, tanggal 2 Januari puskesmas imogiri 2 melakukan kegiatan P3K di Pantai Depok.

 

Alhamdulillah situasi dan kondisi pantai yang penuh ramai dengan kunjungan wisatawan domestik aman dan terkendali

Deburan ombak pantai lautan selatan serta embusan angin sepoi – sepoi menemani petugas yang setia memantau wisatawan

Tidak dijumpai pasien dengan gangguan kesehatan serius sam’pai jam piket selesai

Skizofrenia

Aside

Skizofrenia

Skizofrenia merupakan suatu gangguan jiwa kronis, yang dicirikan oleh suatu siklus kekambuhan dan remisi. Frekuensi kekambuhan pada Orang Dengan Skizofrenia (ODS) akan semakin menurunkan kualitas hidupnya sehingga diperlukan upaya-upaya pencegahan kekambuhan pada ODS. Berbagai faktor risiko yang berhubungan dengan kekambuhan skizofrenia adalah faktor individu ODS, faktor terapi maupun faktor lingkungan.

Lingkungan terdekat yaitu keluarga serta masyarakat sekitar yang mendukung sangat dibutuhkan ODS dalam proses perawatannya. Lingkungan yang bisa memahami kondisi ODS dan mensuport proses tatalaksana baik farmakoterapi maupun tatalaksana non farmakoterapi. Namun demikian keluarga serta masyarakat yang seharusnya memberikan dukungan positif kepada ODS justru sering bersikap tidak tepat terhadap ODS, mengejek, mengucilkan, menstigma sehingga meningkatkan risiko terjadinya kekambuhan pada ODS. Salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya dukungan keluarga dan masyarakat adalah rendahnya pengetahuan tentang Skizofrenia akibat kurangnya edukasi. Psikoedukasi merupakan faktor penting dalam peningkatan pengetahuan tentang Skizofrenia yang pada akhirnya akan meningkatkan sikap dan perilaku dalam perawatan ODS oleh keluarga dan masyarakat.

Media edukasi menjadi sarana penting yang dapat digunakan untuk meningkatkan pengetahuan keluarga dan masyarakat. Media edukasi yang menarik dan komunikatif dan sesuai kebutuhan akan memudahkan seseorang menerima informasi tentang skizofrenia. Keterlibatan ODS dan keluarga dalam pembuatan media edukasi diharapkan akan lebih sesuai dengan harapan dan kebutuhan ODS, keluarga dan masyarakat. Di sisi lain, kegiatan ini juga akan membuat ODS dan keluarga berperan aktif dalam upaya meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku yang benar di masyarakat sehingga akan meningkatkan rasa bahagia dan berharga diantara para ODS dan keluarga sehingga meningkatkan harga diri dan kualitas hidup ODS yang terlibat. Tidak sedikit ODS dan keluarga yang memiliki potensi besar dalam ketrampilan pembuatan media edukasi masyarakat.

by. Programmer Kesehatan Jiwa Puskesmas Imogiri II

Amperawati, Amd.Kep.

No HP 081 7944 5924

Tentang Skizofrenia

http://www.peduliskizofrenia.org/

tentang-skizofreniaTentang Skizofrenia.

Skizofrenia merupakan suatu gangguan kejiwaan kompleks di mana seseorang mengalami kesulitan dalam proses berpikir sehingga menimbulkan halusinasi, delusi, gangguan berpikir dan bicara atau perilaku yang tidak biasa (dikenal sebagai gejala psikotik). Karena gejala ini, orang dengan skizofrenia dapat mengalami kesulitan untuk berinteraksi dengan orang lain dan mungkin menarik diri dari aktivitas sehari-hari dan dunia luar.1.2

 

Konsep Saat Ini tentang Hidup dengan Skizofrenia

Skizofrenia secara harfiah bukan berarti ‘jiwa yang terpisah’ (schizein = terpisah; phrenia = jiwa), tetapi orang dengan skizofrenia dapat melihat dunia dengan cara yang berbeda dari orang di sekitar mereka. Mereka bisa mendengar/melihat/menghidu (mencium bau)/merasakan hal yang tidak dialami oleh orang lain (halusinasi), misalnya mendengar suara (yang cenderung menjadi halusinasi yang paling umum). Mereka mungkin memiliki keyakinan yang tak tergoyahkan dalam hal yang tidak benar (delusi), misalnya bahwa orang membaca pikiran mereka, mengendalikan pikiran mereka atau berencana menyakiti mereka. Ketika dunia mereka kadang-kadang tampak menyimpang akibat halusinasi dan delusi, orang dengan skizofrenia dapat merasa takut, cemas dan bingung. Mereka bisa menjadi begitu kacau sehingga mereka dapat merasa takut sendiri dan juga dapat membuat orang di sekitar mereka takut.

Di masa lalu, ada pandangan yang diperdebatkan tentang skizofrenia, dimana orang dipandang sebagai si ‘sakit’ atau si ‘sehat’. Namun, baru-baru ini pandangan telah bergeser ke konsep spektrum ‘kesehatan’ dari sakit akut, melalui berbagai tingkat dalam fungsi sampai ‘sehat’. Ini berarti bahwa pasien dengan skizofrenia dapat mengalami perbaikan, dalam hal belajar untuk mengatasi gangguan, dan mencapai atau mendapatkan kembali tingkat fungsi sehari-hari yang sesuai untuk mereka sebagai individu. Ada berbagai hal yang dapat membantu proses ini, dan pemulihan mereka akan bervariasi dari individu ke individu.

Terapi memainkan peranan penting pada sebagian besar orang dengan skizofrenia. Selain terapi dengan obat, pembelajaran mengenai bagaimana menghadapi skizofrenia melalui terapi wicara juga dapat membantu dan kelompok pendukung merupakan sumber informasi berharga yang berguna.

Bagi sebagian orang, lukisan, puisi atau seni kreatif lainnya adalah alat fundamental untuk membantu mereka mendapatkan kembali keseimbangan dalam hidup mereka. Beberapa orang lain menganggap bahwa olahraga dan tetap bugar sangat penting untuk menjaga perasaan sejahtera mereka. Bagi banyak orang, kombinasi obat dengan pendekatan lain memungkinkan mereka untuk memulai proses perbaikan dan supaya tetap sehat.

Orang dengan skizofrenia dapat mengalami gangguan yang cukup besar dalam kehidupan mereka. Keluarga dan teman juga bisa sangat terpengaruh akibat penderitaan melihat efek dari kondisi dan permasalahan dalam mendukung pasien. Hal ini bisa jadi masalah yang pelik bagi anggota keluarga, khususnya ketika mereka mengingat bagaimana seseorang itu sebelum mereka menjadi sakit.

Meskipun skizofrenia dapat menyusahkan dan menakutkan, itu tidak berarti bahwa orang dengan penyakit ini tidak dapat memiliki kualitas hidup yang baik dan mungkin untuk dipekerjakan. Sama seperti orang lain yang memiliki penyakit jangka panjang atau berulang, orang dengan skizofrenia dapat belajar untuk mengelola kondisi mereka dan melanjutkan kehidupan mereka.

Berapa Banyak Orang yang Menderita Skizofrenia?

Skizofrenia terjadi di seluruh dunia. Penyakit ini mempengaruhi sekitar 1% orang semasa hidup mereka dan angka penyakit sangat mirip dari negara ke negara.3.4

Apa yang Anda Ketahui tentang Gangguan Jiwa dan Skizofrenia?

Tanda pertama dari skizofrenia biasanya muncul saat masa remaja atau awal masa dewasa, tetapi tanda tersebut juga telah diketahui muncul pada orang di atas 40 tahun.10

Laki-laki maupun wanita memiliki risiko menderita skizofrenia. Gejala pada pria cenderung muncul di usia yang lebih muda daripada wanita.11

Gejala skizofrenia bervariasi dari satu orang ke orang lain, tetapi secara umum dikategorikan menjadi:5

Gejala positif (misalnya halusinasi, delusi, pemikiran kacau, dan gelisah) yang biasanya tidak ada pada orang sehat dan dianggap ‘ada’ sebagai akibat dari gangguan tersebut.

Gejala negatif dapat dilihat sebagai perilaku yang ‘hilang’ (misalnya kurang: dorongan atau inisiatif, respon emosional, antusiasme, interaksi sosial).5 Kebanyakan orang memiliki kemampuan psikologis tersebut tetapi orang dengan skizofrenia mengalami beberapa derajat penurunan.

Gejala afektif yang dapat mempengaruhi suasana hati – seperti pikiran depresi, kecemasan, kesepian atau ide bunuh diri.

Gejala kognitif meliputi masalah dengan konsentrasi dan memori misalnya kurangnya perhatian, kelambatan pikiran, kurangnya tilikan (pemahaman & penerimaan) mengenai penyakit.

Pasien dengan skizofrenia mungkin mengalami gangguan fungsi dalam satu atau lebih bidang kegiatan hidup yang penting seperti hubungan antarpribadi, pekerjaan atau pendidikan, kehidupan keluarga, komunikasi, dan perawatan diri.5

Kebanyakan orang dengan skizofrenia mengalami beberapa episode psikotik (masa dimana gejala positif lebih relevan) selama hidup.6.8 Gejala positif biasanya bervariasi dari waktu ke waktu dan mungkin memburuk selama masa kekambuhan dan membaik ketika sedang remisi.1 Orang dengan skizofrenia dapat menjalani hidup yang secara relatif normal diantara episode psikotik, tampak sehat dan stabil secara emosional, meskipun gejala negatif sering muncul setelah episode pertama dan dapat menetap untuk waktu yang lama dan memburuk setelah itu.1.9 Suatu pola berkelanjutan atau berulang dari penyakit ini dikenal sebagai skizofrenia kronis. Kebanyakan orang dengan skizofrenia akan memerlukan terapi jangka panjang untuk mengatasi gangguan, yang umumnya akan mencakup penggunaan obat.1.9

Lebih Dalam tentang Skizofrenia.

Tidak ada penyebab tunggal skizofrenia. Seperti penyakit kronis umum lainnya, seperti diabetes dan penyakit jantung, berbagai faktor secara bersama-sama diperkirakan memberikan kontribusi untuk berkembangnya skizofrenia.12

Apa Saja Penyebab Skizofrenia?

Faktor genetik dan lingkungan atau cedera otak sekitar masa kelahiran mungkin berperan.1.13 Masing-masing faktor ini diyakini akan meningkatkan risiko bagi individu tertentu untuk mengalami gejala psikotik, yang bisa dipicu oleh sejumlah peristiwa kehidupan dan situasi yang berbeda, seperti efek isolasi sosial dan stres, khususnya di sekitar awal masa dewasa. Narkoba, termasuk ganja, juga telah dikaitkan dengan pemicu terjadinya skizofrenia dan gejala psikotik sementara.1

Ahli jiwa (Psikiater) sepakat bahwa gejala skizofrenia merupakan akibat dari masalah dalam mengirim, dan memproses informasi dalam otak [Pedoman Klinis APA, 2004].1 Masalah ini terjadi saat komunikasi normal antara sel-sel saraf otak yang terjadi akibat pelepasan bahan kimia tidak bekerja seperti seharusnya.9

Dapatkah Skizofrenia Dicegah?

Meskipun skizofrenia tidak dapat dicegah, jumlah frekuensi seseorang mengalami gejala skizofrenia (dikenal sebagai ‘episode psikotik’) dapat dikontrol dan seharusnya menjadi lebih jarang dengan terapi yang tepat.1

Berbagai Terapi

Bagi sebagian besar orang dengan skizofrenia, obat sangat penting untuk mengatasi gejala skizofrenia.2.9 Meskipun orang dengan skizofrenia relatif bebas dari gejala psikotik mereka, banyak yang masih mengalami masalah dalam berurusan dengan kehidupan sehari-hari yang mungkin mencakup kesulitan dalam berkomunikasi dengan orang di sekitar mereka, pengambilan keputusan, motivasi, perawatan diri dan membina atau menjaga hubungan dengan orang lain.1.9Karena skizofrenia umumnya terjadi pada awal masa dewasa, pada saat dimana orang mengembangkan keterampilan sosial mandiri dan merasa bagaimana mereka ‘cocok’ di dunia sekitar mereka, ini adalah usia yang penting untuk dipertimbangkan dan psikoterapi mungkin bermanfaat.

Mencegah Kekambuhan

Karena kekambuhan lebih mungkin terjadi jika obat antipsikotik dihentikan atau tidak digunakan secara rutin, maka sangat penting bagi orang dengan skizofrenia untuk sepakat dengan dokter mereka dan keluarga mengenai rencana terapi dan pencegahan kekambuhan yang cocok untuk mereka.Hal ini penting untuk mendapatkan dukungan supaya individu dapat meneruskan rencana yang disepakati nantinya. Jika menggunakan obat minum, penting untuk menggunakan obat yang diresepkan pada dosis yang tepat dan waktu yang tepat setiap hari, menghadiri pertemuan di klinik dan mengikuti prosedur perawatan lainnya dengan cermat. Jika menggunakan suntikan kerja panjang, penting untuk menghadiri pertemuan di klinik sehingga obat digunakan pada waktu yang tepat setiap bulan.

Meski mungkin hal ini sulit, ada strategi dan terapi yang dapat sangat meningkatkan hasil untuk menuju kualitas hidup yang lebih baik. Selama kekambuhan orang suka menyendiri, memiliki perasaan melambung dan merasa kalau orang di sekitar mereka tidak mampu memahami apa yang sedang terjadi. Kemampuan seseorang untuk membedakan ide tentang realitas antara mereka dan orang lain juga mungkin berkurang. Orang mengetahui ketika mereka menjadi sakit lagi – tapi tidak selalu mampu berbuat sesuatu. Teman dan kerabat sering dapat membantu dalam memperhatikan tanda peringatan awal kekambuhan. Beberapa contoh dari tanda ini mungkin berupa kurang tidur, kurang makan, menjadi lebih gugup, cemas atau lebih ‘waspada’, tidak mampu bangun atau tidak mampu berkonsentrasi sebaik biasanya. Jika gejala ini dapat ditangani dari awal sangat mungkin bahwa orang tersebut akan membaik lebih cepat dan bisa melanjutkan hidup mereka.

Menjadi Lebih Baik

Skizofrenia dapat mempengaruhi gaya hidup seseorang, termasuk keadaan sosial dan keuangan mereka, dalam berbagai cara.Gejala psikotik dari skizofrenia dan gangguan yang dapat mereka akibatkan pada kehidupan sehari-hari individu adalah jelas, tetapi sering kesehatan fisik mereka juga dapat terpengaruh. Tujuan terapi dan pemulihan adalah untuk mengurangi atau menghentikan gejala sehingga memungkinkan individu untuk terlibat dalam kegiatan sehari-hari dan mengurangi jumlah kekambuhan. Dengan bantuan obat antipsikotik dan terapi lainnya, gejala skizofrenia seringkali dapat diatasi sedemikian rupa sehingga akan memungkinkan orang dengan skizofrenia untuk kembali ke aktivitas sehari-hari mereka. Ada banyak langkah yang bisa diambil oleh orang dengan skizofrenia untuk membantu meningkatkan kesejahteraan mereka secara keseluruhan.

Kesehatan Fisik dan Kesejahteraan

Orang yang mengalami skizofrenia mungkin menderita konsekuensi dari perubahan gaya hidup, seperti merokok yang lebih sering, yang dapat mengakibatkan komplikasi kesehatan fisik yang serius termasuk masalah jantung, penyakit pernapasan dan peningkatan infeksi secara umum. Masalah ini dapat menjadi lebih buruk jika orang mengkonsumsi alkohol dengan kadar tinggi, terlibat dalam penggunaan obat terlarang, memiliki pola makan yang buruk, kurang berolahraga, memiliki perawatan diri dan kebersihan pribadi yang buruk, dan tempat tinggal yang tidak layak. Perubahan gaya hidup dan efek samping obat dapat menyebabkan orang dengan skizofrenia mengalami kenaikan berat badan, menimbulkan masalah yang terkait dengan obesitas.

Obesitas sendiri bisa memiliki dampak besar pada kesehatan fisik, seperti peningkatan risiko penyakit jantung atau diabetes. Oleh karena itu dianjurkan bahwa seseorang dengan skizofrenia harus menjalani pemeriksaan fisik tahunan. Mereka mungkin juga perlu dukungan dari ahli gizi, penanggulangan penyalahgunaan obat dan alkohol, perawatan kaki, dokter gigi dan informasi promosi kesehatan umum lain.

Melalui dukungan perawatan kesehatan dan sosial yang baik, maka risiko fisik terkait skizofrenia, termasuk efek samping dari terapi dan perubahan gaya hidup, dapat dikurangi.

Skizofrenia dapat secara dramatis mengubah kehidupan baik pasien dan mereka yang dekat dengannya atau terlibat dalam pengasuhannya. Bagi mereka yang terlibat dalam pengasuhan orang dengan skizofrenia, mungkin sulit untuk berurusan dengan episode psikotik dan gejala positif dan negatif yang dialami pasien. Merawat teman dekat atau saudara yang mengalami skizofrenia dapat menjadi pekerjaan penuh waktu. Hal ini membuatnya sangat sulit untuk menggabungkan pengasuhan mereka dengan pengasuhan untuk anggota keluarga yang lain dan karir. Pengasuh mungkin juga mengalami perasaan kehilangan dan kesedihan yang luar biasa yang dapat mengganggu keluarga, aktivitas sosial atau pekerjaan mereka.

Dukungan

Anggota keluarga sangat penting bagi orang dengan skizofrenia karena dukungan keuangan, emosional dan sosial yang dapat mereka berikan. Ini bisa berupa bantuan praktis dalam kegiatan rumah tangga seperti membersihkan, memasak dan kebersihan pribadi, menemani mereka ke dokter atau memotivasi mereka untuk melanjutkan terapi mereka sesuai dengan yang sudah diresepkan. Dengan terus berobat dan mengunjungi dokter secara teratur,  pasien dapat mengontrol banyak gejala psikotik sehingga dapat melanjutkan kehidupan sehari-hari normal mereka.

Tinggal dalam Keluarga

Pasien dengan skizofrenia yang memiliki dukungan keluarga sering mendapatkan keterampilan hidup (berfungsi) yang lebih baik dibandingkan mereka yang terisolasi. Bahkan mereka yang hidup sendiri akan masih perlu dukungan dari keluarga dan teman. Sebuah lingkungan yang stabil dapat membantu pasien mempertahankan terapi dan tetap menjaga komunikasi secara rutin dengan dokter mereka dan tenaga kesehatan.

Kepustakaan:

1. APA Clinical Guidelines. American Psychiatric Association. Practice guidelines for the treatment of patients with schizophrenia. 20042. Falkai et al. World J Biol Psychiatry 2005; 6: 132–191

3. Kendler et al. Arch Gen Psychiatry 1996; 53: 1022–1031

4. World Health Organization. The World Health Report: 2001: Mental health: new understanding, new hope

5. DSMIV-TR. American Psychiatric Association. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders. 4th Edition

6. Lieberman et al. J Clin Psychiatry 1996; 57(suppl 9): 5–9

7. Breier et al. Am J Psychiatry 1994; 151: 20–26

8. Robinson et al. Am J Psychiatry 1999; 156: 544–549

9. National Institute for Clinical Excellence. National Clinical Practice Guidelines Number 82.

10. Howard et al. Am J Psychiatry 2000; 157: 172–178

11. Angermeyer et al. Schizophr Bull 1990; 16: 293–307

12. Murray and Fearon. J Psychiatr Res 1999; 33: 497–499

13. Lang et al. Cell Physiol Biochem 2007; 20: 687–702

14. Harrigan et al. Psychol Med 2003; 33: 97–110

15. Bottlender et al. Schizophr Res 2003; 62: 37–44

16. Emsley et al. Curr Opin Psychiatry 2008; 21: 173–177

17. Awad et al. Pharmacoeconomics 2008; 26: 149–162

18. Keith et al. Psychiatr Serv 2004; 55: 997–1005

19. Lieberman et al. Pharmacol Rev 2008; 60: 358–403

20. Tandon et al. Psychoneuroendocrinology 2003; 28(suppl 1): 9–26

21. Wyatt. Schizophr Bull 1991; 17: 325–351

22. Robinson et al. Arch Gen Psychiatry 1999; 56: 241–247

23. Weiden et al. Psychiatr Serv 2004; 55: 886–891

24. Koen et al. Psychosomatics 2007; 48: 128–134

25. Novick et al. Psychiatry Res 2010; 176: 109–113