SITUASI UPAYA KESEHATAN

Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan dan atau serangkaian kegiatan yang dilakukan secara terpadu, terintegrasi dan berkesinambungan untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dalam bentuk pencegahan penyakit, peningkatan kesehatan, pengobatan penyakit dan pemulihan kesehatan oleh pemerintah dan atau masyarakat.
Puskesmas wajib berpartisipasi dalam penanggulangan bencana, wabah penyakit, pelaporan penyakit menular dan penyakit lain yang ditetapkan oleh tingkat nasional dan daerah serta dalam melaksanakan program prioritas pemerintahan. Lingkup upaya kesehatan puskesmas meliputi upaya kesehatan perorangan (UKP) dan upaya kesehatan masyarakat (UKM).

4.1. Upaya Kesehatan Perorangan (UKP)
Upaya kesehatan perorangan adalah setiap kegiatan yang dilakukan oleh puskesmas untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan perorangan.

Grafik Grafik Jumlah Kunjungan UKP di Rawat Jalan, UGD dan Rawat Inap
Puskesmas Jetis I Tahun 2016

Dari Layanan UKP didapat 10 besar penyakit.
Tabel
Sepuluh Besar Penyakit Puskesmas Jetis I Tahun 2016
No. Jenis Penyakit Jumlah Kasus Kode ICD
1 Hipertensi esensial (primer) 2,470 I10
2 Diabetes mellitus non-dependen insulin 2,466 E11
3 Nasofaringitis akut (common cold) 2,326 J00
4 Myalgia 1,585 M79.1
5 Demam tanpa sebab jelas (fever of unknown origin) 1,294 R50
6 Dispepsia 848 K30
7 Skizofrenia 708 F20
8 Sakit kepala 699 R51
9 Serangan benda tajam 657 X99
10 Necrosis of pulp 498 K04.1

Grafik
Cakupan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Pra Bayar
Puskemas Jetis I Tahun 2016

Sebagian penduduk di wilayah kerja Puskesmas Jetis 1 mendapatkan jaminan pemeliharaan kesehatan, yaitu sebanyak 78,24%.

4.2 Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM)
Upaya kesehatan masyarakat ada 2:
4.2.1 Esensial
a. Kesehatan Ibu dan anak
 Pelayanan Antenatal
Cakupan pelayanan kesehatan ibu hamil selama 3 (tiga) tahun terakhir dapat tergambarkan untuk akses pelayanan ibu hamil K-1 maupun K-4 masih berfluktuasi seperti terlihat pada grafik.
Tahun 2016 di Puskesmas Jetis I, akses pelayanan antenatal pada kunjungan baru ibu hamil (K-1) sebanyak 398 ibu hamil dengan angka cakupan 100% dari target cakupan 100%. Sedangkan pelayanan ibu hamil paling sedikit 4 kali kunjungan (K-4) sebanyak 348 ibu hamil dengan cakupan sebesar 87,4%. Dengan angka Droup Out (DO) antara K-1 dengan K-4 mencapai 12,6 % dikarenakan tidak semua ibu hamil mau untuk memeriksakan kehamilannya, pemecahan masalah yang kiranya akan dilakukan adalah dengan meningkatkan kemampuan managerial dan ketrampilan petugas dalam komunikasi dan promosi edukasi dalam memberdayakan masyarakat.
Grafik 4.3
Persentase Cakupan Kunjungan Ibu Hamil (K-1 dan K-4)
Puskesmas Jetis I Tahun 2010 s.d 2016
Merupakan pelayanan kesehatan yang diberikan oleh tenaga kesehatan untuk ibu selama kehamilannya, yang disesuaikan dengan standar pelayanan antenatal yang ditetapkan dalam Standar Pelayanan Antenatal, yang terdiri dari :
– Timbang berat badan
– Ukur tekanan darah
– Nilai status gizi (LILA)
– Ukur tinggi fundus uteri
– Tentukan presentasi janin dan denyut jantung janin (DJJ).
– Pemberian imunisasi TT lengkap
– Pemberian Tablet Fe minimal 90 tablet selama kehamilan.
– Test laboratorium (rutin dan khusus)
– Tatalaksana kasus
– Temu wicara (konseling)
– Frekuensi pelayanan antenatal adalah minimal 4 kali selama kehamilan, yaitu 1 kali pada triwulan pertama, 1 kali pada triwulan kedua, dan 2 kali pada triwulan ketiga
 Permasalahan :
• Kunjugan ibu hamil K-3 tidak memenuhi target karena masih kurangnya kesadaran untuk memeriksakan kesehatan di pelayanan kesehatan terdekat.
 Perencanaan penanganan :
• Lebih meningkatkan penyuluhan kesehatan Ibu dan Anak
• Lebih meningkatkan kinerja bidan di klinik KIA, posyandu dan pemberi pelayanan kesehatan lainnya.
• Lebih meningkatkan koordinasi lintas sektoral dan meningkatkan pemberdayaan masyarakat
• Meningkatkan pelaksanaan posyandu.

Pemberian tablet fe1 dan fe3
Jumlah pemberian FE1 pada 398 ibu hamil adalah sebesar 361 dengan presentase 90,70%. Angka pemberian tablet FE3 adalah sebesar 314 ibu hamil dengan presentasi 78,89%. Angka cakupan Fe3 ini belum mencapai target cakupan 80% dan angka cakupan pada 2016 meningkat dibandingkan tahun 2015 sebesar 11,4%.

Grafik
Grafik Cakupan Pemberian Tablet Fe3 Pada Ibu Hamil
Puskesmas Jetis I Tahun 2016

Sumber: Data KIA
Permasalahan :
– Kurangnya kesadaran pada ibu hamil untuk mengkonsumsi Fe
– Kurangnya pengetahuan ibu hamil mengenai fungsi dari Fe

Perencanaan penanganan :
– Mengadakan promosi kesehatan dengan memberikan penyuluhan tentang fungsi dari Fe pada ibu hamil
– Lebih meningkatkan peran bidan desa untuk memantau pemberian Fe pada ibu hamil
– Perbaikan pencatatan dan pelaporan termasuk PWS
Kebutuhan Fe pada ibu hamil adalah sebanyak 900 mg Fe yang digunakan untuk meningkatkan sel darah ibu sebanyak 500 mg Fe , terdapat dalam plasma 300 mg Fe, dan untuk darh janin sebesar 100 mg Fe. Kebutuhan zat besi pada trimester pertama relatif kecil yaitu 0,8 mg/hari, namun meningkat dengan pesat selama trimester ke dua dan ketiga sebanyak 6,3 mg/hari. Tablet besi atau tablet penambah darah diberikan pada ibu hamil sebanyak satu tablet setiap hari selama 90 hari selama masa kehamilan dan mengandung 200 mg ferro sulfat.
Pelayanan Persalinan
Persentase persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan di Puskesmas Jetis I selama 4 (tiga) tahun sudah 100%, jumlah persalinan ibu hamil yang ditolong oleh tenaga kesehatan (bidan dan perawat) di Puskesmas Jetis I tahun 2016 sebanyak 363 ibu bersalin. Dengan angka kecakupan persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan sebesar 100%, angka ini sudah memenuhi target yang telah ditentukan yaitu sebesar 95%. Untuk melihat angka cakupan perbandingan antar tahun dapat dilihat pada grafik dibawah ini
Grafik 4.4
Persentase cakupan Persalinan Oleh Tenaga kesehatan
Puskesmas Jetis I Tahun 2012 s.d 2016

Sumber: data KIA
Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan adalah pelayanan persalinan yang aman yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang kompeten. Hal ini diutamakan untuk :
– Mencegah terjadinya infeksi
– Menerapkan metode persalinan yang sesuai dengan standar
– Merujuk kasus yang tidak dapat ditangani ke tingkat pelayanan yang lebih tinggi
– Melaksanakan Inisiasi Menyusu Dini (IMD)
– Memberikan injeksi vit K 1 dan salep mata pada bayi baru lahir
 Cakupan Pelayanan Nifas
Angka cakupan pelayanan Nifas pada tahun 2016 di Puskesmas Jetis I adalah 89,81%, cakupan ini belum memenuhi target yang diberikan yaitu 95%, jika dibandingkan dengan tahun lalu menurun. Dapat dilihat pada grafik dibawah ini

Grafik 4.5
Angka Cakupan Pelayanan Nifas Puskesmas Jetis I Tahun 2016
Sumber: data KIA

Pelayanan kesehatan Ibu Nifas merupakan pelayanan kesehatan sesuai standar pada ibu mulai dari 6 jam sampai 42 hari pasca bersalin oleh tenaga kesehatan kunjungan nifas minimal sebanyak 3 kali dengan ketentuan waktu: Kunjungan nifas pertama (KF1), Kunjungan nifas kedua (KF2), Kunjungan nifas ketiga (KF3) : 6 jam – 3 hari pasca persalinan : 4 – 28 hari pasca persalinan : 29 – 42 hari pasca persalinan. Pelayanan yang diberikan adalah :
– Pemeriksaan TD, nadi, respirasi dan suhu
– Pemeriksaan tinggi fundus uteri (involusi uteri)
– Pemeriksaan lokhia dan pengeluaran pervaginam lainnya
– Pemeriksaan payudara dan anjuran ASI ekslusif
– Pemberian kapsul vit A sebanyak 2 kali (segera setelah melahirkan dan 24 jam setelah pemberian pertama) dan pelayanan KB pasca persalinan.
 Pemberian Vitamin A
Jumlah ibu nifas yang mendapatkan vitamin A adalah 326 dari 398 ibu nifas dengan persentase sebesar 89,8%. Ada beberapa fungsi dan cara pemberian vitamin A untuk ibu nifas adalah sebagai berikut :
– Meningkatkan kangdungan vitamin A dalam ASI
– Kesehatan ibu lebih cepat pulih setelah melahirkan
– Ibu nifas harus minum 2 kapsul vitamin A karena bayi lahir dengan cadangan vitamin A yang rendah.
– Pemberian vitamin A sebanyak dua kali, yang pertama segera setelah melahirkan dan yang kedua diberikan setelah 24 jam pemberian kapsul vitamin A pertama.
– Pemberian 1 kapsul vitamin A 200.000 Si warna merah pada ibu nifas hanya cukup untuk meningkatkan kandungan vitamin A dalam ASI selama 60 hari.
– Pemberian 2 kapsul vitamin A 200.000 Si warna merah pada ibu nifas hanya cukup untuk meningkatkan kandungan vitamin A dalam ASI sampai bayi usia 6 bulan.

 Komplikasi kebidanan yang ditangani
Angka cakupan komplikasi kebidanaan yang ditangani di puskesmas Jetis I adalah 100%. Hasil tersebut menunjukan bahwa komplikasi kebidanan yang di tangani sudah mencapai target sasaran.

Grafik 4.6
Angka Cakupan Komplikasi Kebidanan yang Ditangani
Puskesmas Jetis I Tahun 2016

Sumber: data KIA
Penanganan komplikasi kebidanan adalah pelayanan kepada ibu dengan komplikasi kebidanan untuk mendapat penanganan definitif sesuai standar oleh tenaga kesehatan yang kompeten pada tingkat pelayanan dasar dan rujukan.
Pelayanan obstetri :
– Penanganan pendarahan pada kehamilan
– Pencegahan dan penanganan hipertensi dalam kehamilan
– Pencegahan dan penanganan infeksi Penanganan partus lama / macet
– Penanganan abortus
– Stabilisasi komplikasi obstetrik untuk dirujuk dan transportasi rujukan
 Kunjungan Neonatus
Cakupan kunjungan neonatus KN1 pada tahun 2016 adalah sebanyak 364 noenatus sebesar 100%. Cakupan kunjungan neonatus KN3 pada tahun 2016 adalah 363 dengan persentase 92,31% hal ini sudah memenuhi target yaitu 100% pada KN1 dan sudah memenuhi target 80% pada KN3 lengkap. Pada tahun 2016 KN1 mengalami peningkatan dan KN lengkap mengalami penurunan sebesar 3%.
Grafik 4.8
Cakupan Kunjungan Neonatus KN1 dan KN Lengkap
Puskesmas Jetis I Tahun 2016

Sumber: data KIA
Pelayanan kesehatan neonatus adalah pelayanan kesehatan sesuai standar yang diberikan oleh tenaga kesehatan yang kompeten kepada neonatus sedikitnya 3 kali, selama periode 0 – 28 hari setelah lahir, yaitu:
– Kunjungan Neonatus ke-1 ( KN 1 ) : 6 – 48 jam setelah lahir
– Kunjungan Neonatus ke-2 ( KN 2 ) : hari ke 3 – 7 setelah lahir
– Kunjungan Neonatus ke-3 ( KN 3 ) : hari ke 8 – 28 setelah lahir.

 Cakupan Neonatus Dengan Komplikasi yang Ditangani
Angka cakupan neonatus dengan komplikasi yang ditangani adalah 100%. Cakupan neonatus komplikasi melebihi target proyeksi. Hal ini menggambarkan kemampuan manajemen program KIA dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan sacara profesional kepada neonatus dengan komplikasi.

Grafik 4.7
Perbandingan Cakupan Neonatus Dengan Komplikasi yang Ditangani
Puskesmas Jetis I Tahun 2016

Sumber: data KIA
Pelayanan neonatus dengan komplikasi adalah penanganan neonatus dengan penyakit dan kelainan yang dapat menyebabkan kesakitan, kecatatan dan kematian oleh tenaga kesehatan. Tanda- tanda neonatus dengan komplikasi :
– Tidak mau minum / menyusu atau memuntahkan semua yang masuk kemulutnya
– Riwayat kejang Bergerak jika hanya dirangsang Frewensi napas < 30 x / menit atau > 60 x / menit Suhu tubuh < 35,5 0C atau > 37,5 0C
– Tarikan dinding dada kedalam sangat kuat
– Ada pustul di kulit Nanah banyak di mata
– Pusar kemerahan meluas ke dinding perut
– BBLR atau ada masalah menyusu
– Berat badan menurut umur rendah
– Adanya kelainan kongenital
– Prematuritas
– Asfiksia
– Infeksi bakteri
– Kejang
– Ikterus
– Diare
– Hipotermi
– Tetanus neonatorum
– Trauma lahir
– Sindrom gangguan pernapasan, dll

 Kunjungan Bayi
Berdasarkan Laporan Wilayah Setempat (PWS) dan LB-3 program KIA tahun 2016, jumlah kunjungan bayi sebanyak 259 bayi dari 364 bayi atau sebesar 71,15% dan belum memenuhi target yaitu 85%. Apabila dibandingkan dengan 1 (satu) tahun terakhir, cakupan kunjungan bayi mengalami penurunan cakupan kunjungan bayi yang berkunjung ke sarana kesehatan atau mendapatkan kunjungan tenaga kesehatan.

Grafik 4.8
Grafik Cakupan Kunjungan Bayi Puskesmas Jetis I Tahun 2016

Pelayanan kesehatan bayi adalah pelayanan kesehatan sesuai standar yang diberikan oleh tenaga kesehatan kepada bayi sedikitnya 4 kali, selama periode 29 hari sampai 11 bulan setelah lahir. Pelayanan kesehatan tersebut meliputi :
– Pemberian imunisasi dasar lengkap (BCG, polio 1- 4, DPT / Hb, campak) sebelum usia 1 tahun
– Stimulasi deteksi intervensi dini tumbuh kembang bayi (SDIDTK)
Pemberian vitamin A (6 – 11 bulan)
– Konseling ASI eksklusif, pemberian makanan pendamping ASI, tanda – tanda sakit dan perawatan kesehatan bayi di rumah menggunakan buku KIA.
– Penanganan dan rujukan kasus jika perlu
– Penanganan dengan metoda MTBS

Jumlah Ibu Hamil Imunisasi TT Pada Ibu Hamil
TT 1 TT 2 TT 3 TT4 TT5 TT 2+
Jml % Jml % Jml % Jml % Jml % Jml %
443 0 – 0 – 16 4 93 23,4 157 39,4 266 66,8

Tabel 4.1
Tabel Cakupan Imunisasi Tt Pada Ibu Hamil Puskesmas Jetis I Tahun 2016

Grafik 4.9
Grafik Cakupan Imunisasi TT Pada Ibu Hamil
Puskesmas Jetis 1 Tahun 2016

TT1 adalah imunisai TT yang dilakukan oleh calon pengantin sebelum mereka menikah, sedangkan TT2 dan TT3 adalah 2 kali imunisasi TT yang dilakukan selama kehamilan. Pada table dan grafik, terlihat bahwa cakupan imunisasi TT3 dan TT4 tidak mencapai 50%, dengan cakupan terendah pada imunisasi TT1 dan TT2. Imunisasi TT sendiri adalah imunisasi yang bermanfaat memberikan perlindungan terhadap tetanus, baik terhadap ibu maupun bayinya (tetanus neonatarum). Kedua manfaat tersebut adalah cara untuk mencapai salah satu tujuan dari program imunisasi secara nasional yaitu eliminasi tetanus maternal dan tetanus neonatarum.
Cakupan yang dicapai Puskesmas pada tahun 2016 masih rendah, sehingga diperlukan peningkatan pada tahun-tahun selanjutnya mengingat bahaya yang ditimbulkan pada kejadian tetanus pada ibu dan neonatus. Rendahnya cakupan dapat disebabkan oleh kurangnya pengertian pada calon pengantin dan ibu hamil mengenai pentingnya imunisasi tetanus, atau pelayanan imunisasi tetanus yang dilakukan di luar pelayanan kesehatatan Puskesmas.

Tabel 4.2
Tabel Cakupan Polio, DPT, Hb, Campak
Puskesmas Jetis 1 Tahun 2016

Dpt-hb3/dpt-hb-hib3 Polio4 campak Imunisasi dasar lengkap
JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH %
11 12 17 18 23 24 29 30
356 93,93 356 93,93 356 93,93 356 93,93
356 93,93 356 93,93 356 93,93 356 93,93

Pada masa awal kehidupannya bayi sangat rentan terkena penyakit berbahaya, seperti penyakit saluran pernafasan akut, polio, kerusakan hati, tetanus, campak. Bayi yang terkena penyakit tersebut memiliki risiko kematian yang lebih tinggi, atau menyebabkan derita fisik dan mental berkepanjangan, bahkan bias menimbulkan cacat permanen. Imunisasi dasar lengkap pada bayi meliputi : 1 dosis BCG, 3 dosis DPT, 4 dosis Polio, 4 dosis Hepatitis B, 1 dosis Campak. Untuk Daerah Istimewa Yogyakarta, pemberian imunisasi Polio diberikan tiga kali dikarenakan sudah menggunakan jenis injeksi, yang dimulai pada usia 2 bulan.
Cakupan imunisasi bayi di Puskesmas Jetis I Bantul Tahun 2016, didapatkan data pada tabel dan grafik diatas. Pada data memperlihatkan imunisasi belum mencapai 100%.

b. Gizi
Jumlah bayi dan balita dari dua desa yaitu Sumberagung dan Trimulyo yaitu 2.192. Kegiatan penimbangan balita dilaksanakan rutin di Posyandu setiap bulan. Jumlah rata-rata bayi dan balita ditimbang setiap bulan 1.635 ( total Posyandu).
Dari data penimbangan bayi dan balita tahun 2016, didapatkan informasi balita yang ditimbang di posyandu hanya 1.635 dari 2.192 jumlah balita yang ada. Hasil perhitungan angka cakupan penimbangan bayi tahun 2016 didapatkan angka 74,59%, hal ini belum memenuhi target (80%). Melalui beberapa penelusuran, saat ini telah banyak ibu balita yang mengikutsertakan anaknya di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan melakukan penimbangan di tempat tersebut sehingga tidak lagi melakukan penimbangan secara rutin di Posyandu. Diperlukan program revitalisasi posyandu untuk bekerjasama dan berkoordinasi dengan PAUD tertentu untuk memantau balita yang tidak ditimbang di PAUD tersebut.

Grafik 4.12
Grafik Jumlah Balita Ditimbang Puskesmas Jetis I Tahun 2015

Kegiatan pemantauan status gizi (PSG) bayi dan balita yang dilaksanakan oleh Puskesmas menunjukkan bahwa dari jumlah balita yang ditimbang sebanyak 1.635 didapatkan balita dengan Gizi Buruk Total 7 anak.
Kegiatan pemantauan status gizi (PSG) bayi dan balita yang dilaksanakan oleh Puskesmas di bulan Februari menunjukkan bahwa dari jumlah balita yang ditimbang sebanyak 1.635 didapatkan balita dengan Gizi Buruk Total 7 anak

Grafik 4.11
Grafik Angka Cakupan Program Upaya Peningkatan Gizi
Puskesmas Jetis I Tahun 2016
Dari Pendataan ASI Eksklusif melalui kader pada 245 bayi berumur 0 – 6 bulan pada tahun 2016 didapatkan hasil jumlah bayi yang diberi ASI eksklusif sebanyak 72(49,66%).

Tabel 4.3
Jumlah Bayi Yang Diberi Asi Eksklusif
Tahun Jumlah Bayi Jumlah Bayi yang diberi Asi ekslusif Persentase (%)
2014 1641 734 44,8%
2015 268 176 65,67%
2016 245 72 49,66%
Sumber: data gizi

Cakupan pemberian kapsul vitamin A pada bayi dan balita sudah mencapai target (100%). Jumlah ibu nifas yang mendapatkan vitamin A adalah 363 dari 363 ibu nifas dengan persentase sebesar 100%.

Tabel 4.4
Jumlah Bayi, Balita & Bufas Dapat Vitamin A Dosis Tinggi
di Puskesmas Jetis I Tahun 2016
KETERANGAN JUMLAH YANG MENDAPAT VIT. A ANGKA CAKUPAN
PERSENTASE (%)
BAYI 243 243 100%
BALITA(1-4 TAHUN) 1784 1784 100%
IBU NIFAS 363 363 100%
Sumber Data : Gizi dan KIA

c. Promosi kesehatan

Grafik 4.15
Jumlah Kegiatan Penyuluhan Kesehatan di Puskesmas Jetis 1

Jumlah kegiatan penyuluhan kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Jetis 1 selama tahun 2016 adalah sebanyak 997 penyuluhan

Grafik 4.16
Grafik Stratifikasi Posyandu Balita
Puskesmas Jetis I Tahun 2016

Dari hasil penilaian pada akhir tahun 2016, jumlah Posyandu di wilayah kerja Puskesmas Jetis 1 yang berklasifikasi purnama sebanyak 27 posyandu dan mandiri sebanyak 12 posyandu.

d. Kesehatan lingkungan
Tabel 4.5
Kesehatan Lingkungan Puskemas Jetis I Tahun 2016
NO INDIKATOR TARGET CAKUPAN
1 Penduduk memiliki akses terhadap air minum berkwalitas 78% 79%
2 Kualitas air minum yang memenuhi syarat kesehatan 65% 95,8%
3 Rumah yang memenuhi syarat kesehatan 70% 50,3%
4 Penduduk menggunakan jamban sehat 70% 79%
5 Cakupan tempat2 umum yang memenuhi syarat 75% 85,7%
6 Tempat pengelolaan Makanan yang memenuhi syarat 70% 70,5%
7 Jumlah Desa STBM 100% 100%
Berdasarkan dari perbandingan antara indikator program kesling dan target bisa diketahui bahwa prosentase penduduk memiliki akses terhadap air minum berkualitas sebanyak 34.732 (100%) sudah memenuhi target 79,1%, prosentase kualitas air minum yang memenuhi syarat sebanyak 231 sampel (79%) dari 24 sampel yang diambil sudah memenuhi target (65%), prosentase cakupan rumah yang memenuhi syarat kesehatan sebesar 5628 rumah (50%) belum memenuhi target (70%), prosentase penduduk yang menggunakan jamban sehat sebesar 8830 rumah (79%) sudah memenuhi target (70%), jumlah desa STBM sebanyak 2 desa (100%) sudah mencapai target. Dari hasil perbandingan diketahui bahwa dari indikator program kesehatan lingkungan yang belum mencapai target adalah prosentase penduduk memiliki akses terhadap air minum, prosentase cakupan rumah yang memenuhi syarat, prosentase cakupan tempat pengelolaan makanan yang memenuhi syarat. Prosentase cakupan TTU yang memenuhi syarat sebanyak 18 Ttu (85,7%) sudah mencapai target (75%).
Prosentase cakupan TPM yang memenuhi syarat sebanyak 43 TPM (70%) sudah mencapai target.

e. Pemberantasan Penyakit Menular
Grafik 4.13
Jumlah Kejadian Penyakit Menular Puskesmas Jetis I Tahun 2016

 DBD ( Demam Berdarah Dengue)
Pada tahun 2016 ditemukan 59 kasus DBD. Wilayah Kecamatan Jetis termasuk daerah endemis demam berdarah karena mobilitas penduduknya yang tinggi, menjadikan rentan terhadap penularan penyakit tersebut.
Dari grafik diatas terlihat bahwa kasus DBD tahun 2016 mengalami kenaikan. Peningkatan kasus DBD ini disebabkan kurangnya kesadaran masyarakat terhadap kebersihan lingkungannya dan pemberantasan sarang nyamuk.

 Diare
Grafik 4.14
Grafik Kejadian Diare di Puskesmas Jetis 1 Tahun 2016

Jumlah kasus diare selama tahun 2016 sebanyak 843 penderita. Jumlah ini menimgkat dibandingkan penderita diare pada tahun 2015. Kesadaran masyarakat akan perilaku hidup bersih masih kurang, menjadi salah satu faktor meningkatnya jumlah penderita diare. Upaya penanganan dengan pengobatan dan rujukan, pemberian oralit dan penyuluhan hygiene/sanitasi. Salah satu hal yang penting adalah tetap menggalakkan kebiasan mencuci tangan dan juga penyuluhan tentang cara mencuci tangan yang benar. Penggunaan oralit telah dilakukan pada 100% penderita diare.
 Campak
Selama tahun 2016 tidak ditemukan kasus campak di wilayah Puskesmas Jetis I. Sama halnya pada tahun 2015, tidak ditemukan adanya kasus campak .
 Pneumonia
Puskesmas Jetis I menemukan sebanyak 19 kasus pnemonia pada anak. Jumlah menurun dibanding jumlah penemuan kasus pada tahun 2015.
 TBC
Jumlah penderita TB Paru BTA(+) pada tahun 2015 sebanyak 12 penderita. Target penemuan BTA (+) adalah 232 penderita jadi pencapaiannya baru 5,60%. Namun demikian dari seluruh penderita yang ditemukan telah dilakukan upaya penanggulangannya dengan pengobatan OAT. dan DO 0 orang (angka kesembuhan 100%).
 HIV DAN AIDS
Pada tahun 2016 ditemukan kasus HIV 8 kasus , AIDS 6 kasus dan ada kematian akibat AIDS 1 kasus.
 PENYAKIT MENULAR SEKSUAL LAIN
Puskesmas Jetis I tidak menemukan kasus peyakit menular seksual lain selama periode tahun 2016.

4.2.2 Non esensial
a. Upaya kesehatan usia lanjut

Grafik 4.15
Cakupan Pelayanan Kesehatan Usia Lanjut Puskemas Jetis I Tahun 2016

Di wilayah kerja Puskesmas Jetis 1 tahun 2016 terdapat penduduk usia lanjut dengan rincian laki-laki 575 dan perempuan 1.028. Dari seluruh penduduk usia lanjut tersebut sebanyak 1.603 penduduk (41,24%) sudah mendapatkan pelayanan kesehatan.
Upaya kesehatan usia lanjut di Puskesmas Jetis I dimasyarakat dilaksanakan dengan berintegrasi bersamaan dengan kegiatan puskesmas keliling. Bentuk kegiatannya terpadu dengan lintas sektor. Bersumber daya masyarakat setempat. Bentuk kegiatannya:
 Pendataan usia lanjut
 Ukur tensi, berat badan, tinggi badan
 Penyuluhan/ konseling (promotif)
 Pemeriksaan laboratorium sederhana
 Pelayanan kesehatan/ berdasar keluhan berintegrasi dengan program puskesmas keliling
 Pelayanan rujukan
 Pembinaan jasmani dan rohani melalui senam sehat dan pembinaan agama (preventif)
 Bentuk promotif dan preventif pada program kesehatan lanjut usia diposyandu dilaksanakan secara individu maupun kelompok. Dilaksankan oleh kader atau petugas kesehatan. Keterpaduan lintas sektor yang dilaksanakan baru dalam bidang keagamaan.

b. PHN
Jumlah PHN yang dikunjungi sejumlah 553, target 2.556. Adapun permasalahan yang dihadapi adalah kurangnya komunikasi antar programer, laporan yang disusun programer masih belum sesuai SOAP. Kedepannya diharapkan setiap programer melaporkan ke koordinator PHN dengan format laporan yang sudah lengkap (SOAP)

c. Upaya kesehatan kerja
Pos upaya kesehatan (UKK) kerja puskesmas Jetis 1 berada di pasar, selain itu juga gabung dengan PAGUHATI (Paguyuban kuliner sehat dan peduli). Walaupun demikian, jika ada pasien yang berobat dipuskesmas dengan riwayat kecelakaan kerja, tetap dilaporkan kepada programer UKK.