BAB I

PENDAHULUAN

I,1. Latar Belakang Masalah

Hipertensi adalah kondisi terjadinya peningkatan tekanan darah sistolik lebih atau sama dengan 140 mmHg dan atau diastolik lebih besar atau sama dengan 90 mmHg. Umumnya tidak ada keluhan, kecuali jika ditemukan kerusakan target organ ( penglihatan kabur, jantung berdebar- debar, rasa sakit di dada, mudah lelah, dan impotensi). Namun, dapat ditemukan keluhan tidak spesifik seperti : sakit/ nyeri kepala, gelisah, pusing, leher kaku.

Menurut etiologinya, hipertensi dibedakan menjadi dua yaitu; hipertensi essensial ( hipertensi primer) dan hipertensi sekunder. Hipertensi primer berkaitan dengan genetik, obesitas, hilangnya elastisitas dan arterisklerosis pada orang tua serta pelebaran pembuluh darah, dan kebiasaan hidup seperti konsumsi garam yang tinggi, makan berlebihan, stress, merokok, dan minum alkohol. Sedangkan hipertensi sekunder dikaitkan dengan adanya kelainan di ginjal, vaskular, kelainan endokrin, syaraf, dan obat- obatan.

Hipertensi merupakan penyebab kematian nomer 3 setelah stroke dan TB. Hipertensi merupakan salah satu penyakit kardiovaskular yang paling umum dan paling banyak disandang masyarakat. Pada tahun 2016, 23,7 % dari 1,7 juta kematian si Indonesia disebabkan oleh hipertensi. Hipertensi sekarang merupakan masalah utama tidak hanya di Indonesia tapi juga di dunia. Menurut Riskesdas 2018, estimasi jumlah kasus hipertensi di Indonesia sebesar 63.309.620 orang, sedangkan angka kematian di Indonesia akibat hipertensi sebesar 427.218  kematian.

 Hipertensi dapat dicegah dengan mengendalikan perilaku beresiko seperti merokok, diet yang tidak sehat seperti kurang konsumsi sayur dan buah serta konsumsi gula, garam dan lemak  berlebih, obesitas, kurang aktivitas, konsumsi alkohol berlebihan dan stress. Dari data Riskesdas 2018 pada penduduk usia 15 tahun ke atas didapatkan data faktor resiko proporsi masyarakat yang kurang makan sayur dan buah sebesar 95,5%, proporsi kurang aktivitas fisik  35,5%, proporsi merokok 29,3%, proporsi obesitas sentral 31%, dan proporsi obesitas umum 21,8%.

Dari data hasil PIS PK yang telah dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Pandak 1,  masalah yang banyak dijumpai adalah hipertensi. Banyak penderita hipertensi yang belum berobat secara rutin. Bahkan banyak masyarakat yang jarang memeriksakan tekanan darahnya dan saat diperiksa oleh petugas PIS PK baru ketahuan kalau tekanan darahnya lebih dari normal (hipertensi).

I.2. Rumusan Masalah

Hipertensi adalah merupakan masalah kesehatan di dunia termasuk di Indonesia. Dan hipertensi juga merupakan masalah kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Pandak 1 yang meliputi Desa Wijirejo dan Gilangharjo. Hal ini diketahui dari hasil PISPK yang telah dilakukan oleh petugas Puskesmas Pandak 1. Kadisoro adalah merupakan salah satu dusun yang ada di wilayah Desa Gilangharjo, Pandak, Bantul. Dari hasil PISPK ternyata juga didapatkan bahwa jumlah penderita Hipertensi yang belum berobat rutin masih tinggi. Bahkan ada yang mengetahui dirinya menderita hipertensi setelah diukur tekanan darahnya oleh petugas PISPK dari Puskesmas Pandak 1. Dalam arti mereka tidak pernah memeriksakan tekanan darahnya secara rutin sehingga penyakit hipertensi tidak terdeteksi sedini mungkin. Padahal hipertensi merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya serangan jantung, stroke, gagal ginjal, dan kebutaan. Jika tidak diobati secara teratur, maka resiko terjadinya penyakit dan kelainan tersebut akan menjadi makin besar yang akan mengakibatkan angka kematian akibat hipertensi juga meningkat.Salah satu penyebab dari hipertensi adalah rokok, baik itu perokok aktif maupun pasif.

Dalam tulisan ini, akan dicari kaitan antara hipertensi dengan merokok di Dusun Kadisoro Gilangharjo Pandak. Merokok adalah salah satu faktor resiko terjadinya hipertensi. Jika masyarakat banyak yang merokok, kemungkinan besar banyak pula warganya yang menderita hipertensi. Karena merokok tidak hanya berbahaya bagi perokok aktif saja, tetapi juga berbahaya bagi perokok pasif yang meskipun tidak merokok tapi ikut menghirup asap rokok dari perokok aktif.

I.3. Tujuan Penulisan

Tujuan dari penulisan ini adalah untuk membuktikan bahwa rokok (perilaku merokok) berpengaruh terhadap kejadian hipertensi, khususnya di dusun Kadisoro Desa Gilangharjo Kecamatan Pandak Kabupaten Bantul. Semakin banyak jumlah perokok, maka kejadian hipertensi juga akan semakin tinggi.

I.4. Manfaat Kajian

Manfaat dari kajian dan penulisan ini adalah untuk memperkuat dan membuktikan bahwa merokok dan asap rokok dapat meningkatkan resiko terjadinya hipertensi dengan segala komplikasinya, yang hal ini dapat dipaparkan dalam kegiatan penyuluhan ataupun saat memberikan KIE kepada pasien dan keluarga pasien.

I.5. Metode Penulisan

Dalam penulisan ini, diambil data dari hasil PISPK yang dilakukan oleh petugas Puskesmas Pandak 1 di Dusun Kadisoro Desa Gilangharjo Kecamatan Pandak Kabupaten Bantul pada tahun 2019. Dari data yang ada kemudian dikaji apakah ada hubungan antara kasus hipertensi dengan perilaku merokok pada masyarakat di Kadisoro.

BAB II

DATA DAN PEMBAHASAN

Kajian tentang kasus hipertensi dengan perilaku merokok dilakukan pada masyarakat di Dusun Kadisoro Desa Gilangharjo Kecamatan Pandak Kabupaten Bantul yang merupakan salah satu dusun di wilayah kerja Puskesmas Pandak 1. Data diambil dari hasil kunjungan PISPK yang dilakukan oleh petugas Puskesmas Pandak 1 pada tahun 2019.

Jumlah KK yang ada di Dusun Kadisoro ada 478 KK. Jumlah keluarga yang menderita hipertensi dan tidak melakukan pengobatan secara teratur ada 168 (35,15%) keluarga. Ini termasuk keluarga yang baru terdeteksi menderita hipertensi setelah dilakukan pemeriksaan tekanan darah oleh petugas PISPK. Penting sekali untuk periksa tekanan darah secara teratur, karena seringkali hipertensi atau tekanan darah tinggi tidak bergejala dan akibat yang ditimbulkannya bisa fatal, bisa menyebabkan cacat dan kematian. Sementara itu, jumlah keluarga yang merokok ada 223 (46,7%)  keluarga. Memang penyebab hipertensi tidak selalu karena merokok atau karena terpapar asap rokok ( perokok pasif), tapi rokok juga merupakan faktor penting dalam memicu terjadinya hipertensi. Dalam rokok terkandung nikotin, suatu zat yang menimbulkan ketagihan yang akan merangsang jantung, syaraf, otak dan bagian tubuh lainnya sehingga bekerja tidak normal. Nikotin juga dapat merangsang pelepasan adrenalin sehingga meningkatkan tekanan darah, denyut nadi dan tekanan kontraksi jantung.

Dari data di atas, jumlah keluarga yang menderita hipertensi dan tidak melakukan pengobatan rutin ada 35,15%. Ini belum dengan jumlah keluarga yang menderita hipertensi yang sudah melakukan pengobatan rutin. Tentu saja ini jumlah yang tidak sedikit, karena hampir separo keluarga di Kadisoro menderita hipertensi dan tidak melakukan pengobatan teratur. Data tersebut juga termasuk data penderita hipertensi yang baru diketahui menderita hipertensi setelah diperiksa tekanan darahnya oleh petugas PISPK. Sehingga penting di sini untuk menyadarkan masyarakat bahwa penting sekali untuk melakukan pemeriksaan darah secara berkala dan rutin mengingat hipertensi seringkali tidak menimbulkan gejala. Selain itu, penting juga untuk menyadarkan masyarakat yang menderita hipertensi tentang pentingnya utk kontrol rutin dan minum obat teratur sesuai anjuran petugas kesehatan mengingat dampak yang ditimbulkan jika hipertensi tidak diobati, yaitu bisa menimbulkan stroke, cacat, buta, gagal ginjal, dan gagal jantung, sampai dengan kematian.

Dari data PISPK, keluarga yang merokok ada 223 keluarga (46,7%). Ini juga termasuk angka yang tinggi karena hampir separo keluarga ada yang merokok. Rokok tidak hanya berbahaya bagi si perokok, tapi juga berbahaya bagi perokok pasif ( orang yang tidak merokok namun ikut menghirup asap rokok dari perokok aktif). Dampak yang ditimbulkan sama bahkan bisa lebih berbahaya dari perokok aktif sendiri. Rokok mengandung banyak sekali zat yang berbahaya bagi kesehatan yang dapat menimbulkan terjadinya kanker, stroke, serangan jantung, hipertensi, dan berbagai macam gangguan paru. Sehingga perlu juga menyadarkan masyarakat tentang bahaya rokok terhadap kesehatan agar mereka terhindar dari berbagai penyakit berbahaya yang dapat berujung pada kematian. Penting juga disampaikan pada masyarakat untuk tidak merokok di dalam lingkungan rumah bagi mereka yang sulit untuk berhenti merokok. Karena perilaku ini dapat membayakan orang lain yang bukan perokok. Para perokok pasif yang ikut menghirup asap rokok dari perokok aktif juga bisa menderita penyakit- penyakit berbahaya yang diakibatkan oleh asap rokok  meskipun mereka bukan perokok.

Jadi jelas di sini bahwa di Kadisoro jumlah perokoknya banyak, sehingga kasus hipertensi pun banyak dijumpai di Kadisoro. Ini juga sejalan dengan hasil survey PHBS di Kadisoro tahun 2018 bahwa jumlah rumah tangga yang merokok di dalam rumah ada 61, 15 %, nilai yang cukup besar. Sehingga dapat dipahami jika jumlah penderita hipertensi di Kadisoro pun juga banyak.

 Pada tanggal 20 November telah dilakukan monev PISPK di dusun Kadisoro. Pada kesempatan tersebut dipaparkan tentang hasil PISPK di Dusun Kadisoro yang antara lain jumlah penderita hipertensi yang tinggi, terutama penderita hipertensi yang tidak berobat secara teratur. Dalam kesempatan tersebut disampaikan pula tentang banyaknya keluarga yang merokok di Kadisoro. Disampaikan pula penyuluhan tenttang hipertensi yang antara lain sebabnya adalah rokok. Dan dari kesepakatan warga maka hasil PISPK di Kadisoro akan ditindaklanjuti dengan pengukuran tekanan darah oleh kader kesehatan di setiap ada acara pertemuan di tingkat RT. Selain itu, untuk mengurangi dampak negatif asap rokok terhadap kesehatan, maka akan mulai dilakukan tiap pertemuan di tingkat RT dan dusun untuk bebas dari asap rokok. Dan ini akan dilakukan secara bertahap mengingat jumlah perokok di Kadisoro cukup tinggi dan mereka masih susah untuk melepaskan diri dari rokok.

BAB IV

PENUTUP

IV. 1. Kesimpulan

  1. Jumlah keluarga dengan penderita hipertensi yang tidak melakukan pengobatan rutin di Dusun Kadisoro Desa Gilangharjo Kecamatan Pandak  ada 168 keluarga (35,15%). Ini belum termasuk warga yang menderita hipertensi tapi sudah berobat rutin. Hal ini menandakan bahwa jumlah penderita hipertensi di Kadisoro cukup besar.
  2. Jumlah keluarga yang merokok di Kadisoro ada 223 keluarga dari 478 keluarga (46,7%). Ini juga merupakan jumlah yang cukup besar.
  3. Perilaku merokok berpengaruh terhadap jumlah penderita hipertensi di Kadisoro. Jumlah perokok di Kadisoro cukup banyak, dan hal ini sebanding dengan jumlah penderita hipertensi di Kadisoro yang juga lumayan banyak.
  4. Berkaitan dengan masalah hipertensi yang ada di Kadisoro, warga sepakat untuk dilaksanakan pemeriksaan tekanan darah oleh kader kesehatan di setiap ada pertemuan di tingkat RT.
  5. Berkaitan dengan adanya masalah perilaku merokok yang cukup banyak di Kadisoro, warga sepakat untuk meniadakan asap rokok di setiap pertemuan yang diadakan di tingkat dusun, dan ini akan dilakukan secara bertahap.

IV.2 Sumber Pustaka

  1. Dewi, Arika.2011.  Materi Pelatihan Konselor Berhenti Merokok. Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul.
  2. DepKes RI. 2007. Rumah Tangga Sehat Dengan Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat. Bhakti Husada. Jakarta.
  3. Akbar, Fahmi dan Tim dokterPOST. 2018. 155 Diagnosis dan Terapi Faskes Primer. dokterPOST. Jakarta.
  4. Soeparman. Waspadji, Sarwono, 1998. Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Balai Penerbit FKUI. Jakarta.
Kategori: Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *