BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penelitian

Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih atau sama dengan 140 mmHg dan atau diastolik lebih atau sama dengan 90 mmHg. Hipertensi sekarang merupakan masalah utama tidak hanya di Indonesia  tapi juga di dunia. Hipertensi merupakan penyebab kematian nomor 3 setelah stroke dan TB. Menurut Riskesdas tahun 2018, estimasi jumlah kasus hipertensi di Indonesia sebesar 63.309.620 orang, sedangkan angka kematian di Indonesia akibat hipertensi sebesar 427.218 kematian.

Data hasil pelaksanaan PISPK di Dusun Kadisoro, Desa Gilangharjo, Kecamatan Pandak, Kabupaten Bantul tahun 2019 didapatkan jumlah penderita hipertensi yang tinggi pada warga Kadisoro. Begitu juga pada hasil survey PHBS yang dilakukan di Kadisoro tahun 2019. Penderita hipertensi di Kadisoro ditemukan pada 168 KK dari 478 KK ( 35,15 % ).

Hipertensi dibedakan menjadi dua yaitu hipertensi primer dan sekunder. Penyebab hipertensi primer belum diketahui secara pasti, tetapi para ahli menyimpulkan gaya hidup dan pola makan tidak sehat dapat memicu hipertensi primer. Faktor genetik dan keturunan juga dianggap berperan besar  dalam menyebabkan hipertensi primer. Hipertensi sekunder dapat disebabkan oleh gangguan kesehatan lain, seperti penyakit kelenjar tiroid dan paratiroid, sleep apnea, dan koarktatio aorta. Obesitas dan konsumsi obat- obatan seperti pil KB, antidepresan, dan obat antiinflamasi steroid juga dapat memicu terjadinya hipertensi sekunder. Contoh pola hidup yang tidak sehat yang dapat memicu hipertensi adalah :

  1. Merokok
  2. Kurang olahraga atau aktivitas fisik
  3. Asupan garam yang berlebihan ( makanan asin atau yang mengandung penyedap dan pengawet )
  4. Konsumsi alkohol
  5. Makan berlebihan sehingga tidak bisa menjaga berat badan ideal
  6. Tingkat stress yang tinggi.

Melakukan aktivitas fisik setiap hari  merupakan salah satu indikator dari tatanan PHBS rumah tangga sehat. Setiap anggota keluarga wajib melakukan aktivitas fisik minimal 30 menit setiap hari. Aktivitas fisik adalah melakukan pergerakan anggota tubuh yang menyebabkan pengeluaran tenaga yang sangat penting bagi pemeliharaan kesehatan fisik, mental, dan mempertahankan kualitas hidup agar tetap sehat dan bugar sepanjang hari. Salah satu keuntungan dari melakukan aktivitas fisik secara teratur adalah dapat mencegah terjadinya penyakit tekanan darah tinggi atau hipertensi. Sehingga aktivitas fisik yang kurang, akan mempengaruhi kemungkinan terjadinya hipertensi pada seorang individu.

B. Perumusan Masalah

Hipertensi merupakan masalah kesehatan di dunia termasuk Indonesia. Hipertensi juga merupakan masalah kesehatan di Puskesmas Pandak 1. Jumlah kunjungan penderita hipertensi di Puskesmas Pandak 1 sejak Januari 2020 sampai Agustus 2020 tercatat 3.474 kunjungan. Kadisoro adalah salah satu dusun yang berada di wilayah kerja Puskesmas Pandak1. Wilayah kerja Puskesmas Pandak 1 terdiri atas Desa Wijirejo dan Desa Gilangharjo. Dusun Kadisoro berada di wilayah Desa Gilangharjo Kecamatan Pandak Kabupaten Bantul. Jumlah penderita hipertensi di Dusun Kadisoro menurut data hasil kunjungan PISPK dan hasil survey PHBS tahun 2019 terdapat 168 keluarga ( dari 478 KK )  atau sekitar 35,15 %. Tingginya jumlah keluarga yang menderita hipertensi di Dusun Kadisoro ini akan penulis kaji dengan jumlah keluarga yang melakukan aktivitas fisik rutin setiap hari, di mana dengan melakukan aktivitas fisik rutin setiap hari ini dapat mencegah terjadinya hipertensi.

Hipertensi dapat menimbulkan berbagai komplikasi jika tidak diobati secara rutin dan teratur. Komplikasi yang bisa terjadi antara lain stroke, serangan jantung, gagal jantung, gagal ginjal, dan kebutaan. Tentunya hal ini akan meningkatkan morbiditas dan mortalitas bagi penderita hipertensi, sehingga penderita hipertensi harus betul- betul diedukasi untuk kontrol teratur, minum obat rutin dan teratur, dan melaksanakan kegiatan serta menghindari hal- hal yang sudah dianjurkan oleh dokter dan atau tenaga kesehatan lainnya, salah satunya adalah melaksanakan aktivitas fisik rutin setiap hari.

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian dan kajian ini secara umum adalah untuk membuktikan bahwa kurangnya aktivitas fisik ( aktivitas fisik yang tidak dilakukan secara rutin dan  teratur ) dapat meningkatkan resiko terjadinya hipertensi.

Secara khusus, tujuan kajian ini adalah untuk meneliti apakah tingginya jumlah penderita hipertensi di Dusun Kadisoro berkaitan dengan kurangnya aktivitas fisik yang dilakukan oleh masyarakat warga Dusun Kadisoro.

D. Manfaat penelitian

Manfaat dari penelitian dan kajian ini adalah untuk membuktikan bahwa kurangnya aktivitas fisik dapat meningkatkan resiko terjadinya penyakit hipertensi.

Manfaat secara khusus, kajian ini dapat dijadikan dasar dan bukti saat melaksanakan edukasi kepada masyarakat baik oleh penulis maupun oleh tenaga kesehatan lain bahwa kurangnya aktivitas fisik dapat meningkatkan resiko terjadinya penyakit hipertensi pada seorang individu, sehingga penting sekali untuk melaksanakan aktivitas fisik secara rutin dalam waktu yang cukup setiap harinya agar terhindar dari penyakit hipertensi dan berbagai komplikasinya.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

Hipertensi adalah nama lain dari tekanan darah tinggi. Hipertensi adalah suatu keadaan ketika tekanan darah terhadap dinding arteri terlalu tinggi. Biasanya hipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah lebih atau sama dengan 140/90 mmHg.

Hipertensi dapat diketahui dengan memeriksa tekanan darah. Tekanan darah adalah  kekuatan yang diberikan oleh sirkulasi darah terhadap dinding arteri tubuh, yaitu pembuluh darah utama dalam tubuh. Hasil tekanan darah ada dua yaitu sistolik (tekanan dalam pembuluh darah ketika jantung berkontraksi) dan diastolik (tekanan di dalam pembuluh darah ketika jantung beristirahat di antara detak jantung.

Klasifikasi hipertensi yaitu :

  1. Pra hipertensi, di mana tekanan darah sistolik antara 120 – 139 mmHg dan diastolik mencapai 80 – 89 mmHg.
  2. Hipertensi tingkat 1, yaitu tekanan darah sistolik 140 – 159 mmHg dan diastolik 90 – 99 mmHg.
  3. Hipertensi tingkat 2, yang ditandai dengan tekanan sistolik lebih besar dari 160 mmHg dan diastolik lebih dari 100 mmHg.
  4. Hipertensi krisis, yaitu tekanan darah yang melebihi 180 / 120 mmHg.

Hipertensi sering tidak bergejala sehingga gangguan kesehatan ini dikenal juga dengan sebutan the silent killer.

            Banyak orang tidak menyadari kalau dirinya mengalami hipertensi, karena hipertensi hanya dapat diketahui dengan mengukur tekanan darah. Hipertensi sering kali tidak bergejala, namun bisa juga bergejala. Gejala yang muncul akibat hipertensi antara lain :

  • Sakit kepala
  • Lemas
  • Terjadi masalah dalam penglihatan ( kabur )
  • Nyeri dada
  • Sesak napas
  • Aritmia ( detak jantung tidak teratur )
  • Adanya darah dalam urine

Apabila tekanan darah tidak terkendali dan tidak terkontrol, hipertensi dapat menyebabkan komplikasi yang berbahaya. Makin tinggi tekanan darah, makin besar pula resiko kerusakan pada jantung dan pembuluh darah pada organ besar seperti otak dan ginjal.

      Berdasarkan penyebabnya, hipertensi dibedakan menjadi dua kelompok yaitu hipertensi primer dan sekunder. Hipertensi primer adalah kondisi tekanan darah tinggi yang tidak diketahui penyebab pastinya, sebaliknya hipertensi sekunder terjadi karena ada penyakit lain yang mendasarinya.

      Faktor resiko yang dapat menimbulkan hipertensi antara lain adalah :

  • Berusia di atas 65 tahun
  • Mengkonsumsi banyak garam
  • Kelebihan berat badan
  • Memiliki keluarga dengan hipertensi ( factor genetik )
  • Kurang makan sayur dan buah
  • Jarang berolahraga
  • Minum terlalu banyak kopi atau minuman lain yang banyak mengandung kafein
  • Terlalu banyak mengkonsumsi minuman keras
  • Merokok

Komplikasi yang bisa terjadi akibat hipertensi adalah :

  1. Serangan jantung. Hipertensi lama kelamaan dapat membuat pembuluh darah arteri pada jantung menjadi keras dan mudah rusak. Jika kerusakan pada pembuluh darah jantung sudah cukup parah, maka aliran darah menuju otot – otot jantung akan terhambat. Hal ini kemudian dapat menyebabkan serangan jantung.
  2. Gagal jantung. Tekanan darah tinggi memaksa jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah. Hal ini dapat membuat dinding dan otot jantung menebal, sehingga jantung kesulitan untuk memompa cukup darah ke seluruh tubuh. Jika jantung sudah tidak dapat memompa darah dengan baik, maka kondisi ini disebut gagal jantung.
  3. Aneurisma. Hipertensi dapat menyebabkan dinding arteri melemah dan memicu terbentuknya kantong yang rapuh di pembuluh darah artei. Aneurisma umumnya terbentuk di aorta, namun bisa juga terbentuk pada pembuluh darah arteri di bagian tubuh lain. Semakin tinggi tekanan darah, maka semakin besar resiko terbentuknya aneurisma. Jika tekanan darah tetap tinggi,lama kelamaan kondisi ini dapat menyebabkan aneurisma pecah. Hal ini dapat menimbulkan kerusakan organ permanen bahkan kematian.
  4. Penyakit arteri perifer. Komplikasi ini terjadi ketika aliran darah ke anggota tubuh tertentu seperti kaki, lengan, perut, kepala, berkurang akibat rusaknya pembuluh darah. Penyakit arteri perifer dapat membuat bagian tubuh yang berdampak tidak dapat berfungsi dengan baik.
  5. Aterosklerosis. Tekanan darah tinggi memicu pengerasan arteri, yang kemudian disertai dengan penimbunan lemak di dinding pembuluh darah. Kondisi ini disebut aterosklerosis yang dapat menimbulkan serangan jantung, stroke, dan penyakit arteri perifer.
  6. Gangguan penglihatan. Kondisi ini terjadi karena penebalan dan penyempitan pembuluh darah di mata. Hipertensi dapat menimbulkan retinopati hipertensi dan kerusakan saraf mata akibat pecahnya pembuluh darah di dalam bola mata yang dapat menyebabkan gangguan penglihatan atau bahkan kebutaan permanen pada mata.
  7. Diseksi aorta. Ini adalah robeknya lapisan dinding dalam aorta yang dapat mengancam jiwa.
  8. Stroke ringan atau TIA ( Transient Ischemic Attack ).
  9. Stroke.
  10. Aneurisme otak. Aneurisma ini rentan pecah dan menyebabkan perdarahan otak yang berbahaya.
  11. Penurunan daya ingat. Hal ini terjadi akibat aliran darah pada otak bermasalah. Jika sudah parah, kondisi ini  dapat berkembang menjadi demensia.
  12. Gagal ginjal. Tekanan darah tinggi bisa memicu penyempitan pembuluh darah di ginjal. Bila tidak segera diobati, kerusakan ginjal bisa mencapai stadium akhir.

Cara mencegah hipertensi antara lain dengan :          

  1. Menjaga berat badan ideal.
  2. Berolahraga secara rutin.
  3. Konsumsi makanan yang rendah lemak dan kaya serat. Misalnya roti dari biji –bijian utuh, beras merah, buah, dan sayuran.
  4. Membatasi konsumsi garam tidak lebih dari satu sendok teh sehari.
  5. Tidak mengkonsumsi alcohol.
  6. Berhenti merokok.
  7. Konsumsi kafein sesuai yang dianjurkan. Minum kopi tidak lebih dari 4 cangkir sehari.

Melakukan olahraga atau aktivitas fisik setiap hari merupakan salah satu indikator dari 10 indikator PHBS rumah tangga sehat. Setiap anggota keluarga harus melakukan aktivitas fisik selama 30 menit setiap hari. Aktivitas fisik adalah melakukan pergerakan anggota tubuh yang menyebabkan pengeluaran tenaga yang sangat penting bagi pemeliharaan kesehatan fisik, mental, dan mempertahankan kualitas hidup agar tetap sehat dan bugar sepanjang hari.

Jenis aktivitas fisik yang dapat dilakukan adalah :

  1. Bisa berupa kegiatan sehari – hari, yaitu berjalan kaki, berkebun, kerja di taman, mencuci pakaian, mencuci mobil, mengepel lantai, naik turun tangga, membawa belanjaan.
  2. Bisa berupa olahraga, yaitu push up, lari ringan, bermain bola, berenamg, senam, bermain tenis, yoga, fitness, angkat beban / berat.

Aktivitas fisik dilakukan secara teratur paling sedikit 30 menit dalam sehari, sehingga dapat menyehatkan jantung, paru – paru, serta alat tubuh lainnya. Jika lebih banyak waktu yang digunakan untuk beraktivitas fisik  maka manfaat yang diperoleh juga lebih banyak. Jika kegiatan ini dilakukan setiap hari secara teratur  maka dalam waktu 3 bulan ke depan akan terasa hasilnya. Jika belum terbiasa beraktivitas fisik, maka dapat dimulai beberapa menit setiap hari dan ditingkatkan secara bertahap. Lakukan aktivitas fisik sebelum makan sebelumm makan atau 2 jam setelah makan. Awali aktivitas fisik dengan pemanasan dan peregangan. Lakukan gerakan ringan dan secara perlahan ditingkatkan sampai sedang. Jika sudah terbiasa dengan aktivitas fisik tersebut, lakukan secara rutin paling sedikit 30 menit setiap hari.

            Keuntungan yang didapatkan jika melakukan aktivitas fisik secara teratur adalah : terhindar dari penyakit jantung, stroke, osteoporosis, kanker,tekanan darah tinggi, kencing manis ; berat badan terkendali ; otot lebih lentur dan tulang lebih kuat ; bentuk tubuh menjadi bagus ; lebih percaya diri ; lebih bertenaga dan bugar ; secara keseluruhan keadaan kesehatan menjadi lebih baik.

B. Kerangka Teori

HIPERTENSI

  1. PRIMER                                                              2. SEKUNDER

          GENETIK                                                                   GINJAL

          OBESITAS                                                                   VASCULAR

          USIA                                                                            KELAINAN ENDOKRIN

         KEBIASAAN HIDUP : Konsumsi tinggi garam                  SARAF

                                                  Makan berlebihan                           OBAT

                                                   Stres

                                                   Merokok

                                                   Minum alkohol

                                                   Kurang aktivitas fisik

                                                   Kurang konsumsi sayur dan buah

C. Kerangka Konsep

Variabel independen:                                                          Variabel dependen:

Kurang aktivitas fisik                                                                    Hipertensi

                                                               Faktor yang mempengaruhi hipertensi:

                                                                Genetik, obesitas, usia

                                                                Kebiasaan hidup:

                                                                Konsumsi tinggi garam, stress

                                                                Makan berlebihan

                                                                Merokok, minum alcohol

                                                                Kurang konsumsi sayur buah

                                                                Kurang aktivitas fisik (yang diteliti)

D. Pertanyaan Penelitian

Benarkah kurangnya aktivitas fisik terbukti meningkatkan resiko kejadian hipertensi pada keluarga di Dusun Kadisoro?

E. Hipotesis

Kurangnya aktivitas fisik akan mempengaruhi kejadian hipertensi, yaitu dapat memicu terjadinya hipertensi. Masyarakat yang kurang melaksanakan aktivitas fisik maka kemungkinan angka kejadian hipertensinya juga tinggi.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini adalah penelitian deskriptif analitik yaitu mengkaji tentang aktivitas fisik  terhadap kejadian hipertensi pada masyarakat warga Dusun Kadisoro Desa Gilangharjo Kecamatan Pandak Kabupaten Bantul. Data diambil dari hasil kunjungan PISPK oleh petugas kesehatan Puskesmas Pandak 1 dan survey PHBS oleh kader kesehatan Dusun Kadisoro tahun 2019. Dari data yang ada kemudian dikaji apakah ada hubungan antara kejadian hipertensi dengan aktivitas fisik pada masyarakat di Dusun Kadisoro.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kajian tentang jumlah kasus hipertensi dengan kebiasaan aktivitas fisik setiap hari dilakukan pada masyarakat Dusun Kadisoro Desa Gilangharjo Kecamatan Pandak Kabupaten Bantul. Data diambil dari hasil kunjungan PISPK oleh petugas Puskesmas Pandak 1 dan dari hasil survey PHBS rumah tangga yang dilakukan oleh kader kesehatan Dusun Kadisoro pada tahun 2019.

Tabel data hasil PISPK dan survey PHBS tahun 2019 Dusun Kadisoro

No   Satuan Kadisoro
1 Diagnosis hipertensi KK 168 (35,15 %)
2 Melakukan aktivitas fisik rutin Rumah 347 (90,4 %)

Dari data hasil survey tersebut didapatkan jumlah penderita hipertensi di Kadisoro ada 168 KK dari 478 KK (35,15 % ). Jumlah keluarga yang melaksanakan aktivitas rutin setiap hari ada 347 rumah dari 384 rumah (90,4 % ).

Jumlah penderita hipertensi di Kadisoro tersebut cukup tinggi, tapi ternyata tidak sebanding dengan kurangnya kebiasaan aktivitas fisik warganya. Jumlah penderita hipertensi ada 35,15 % dan warga yang melaksanakan kebiasaan aktivitas rutin setiap hari ada 90,4 %.

Kurangnya aktivitas fisik merupakan salah satu faktor resiko terjadinya hipertensi. Secara teori aktivitas fisik sangat mempengaruhi stabilitas tekanan darah. Pada orang yang tidak aktif melakukan kegiatan cenderung mempunyai frekuensi denyut jantung yang lebih tinggi. Berbagai bukti yang ada di seluruh dunia berkaitan dengan pengaruh jumlah waktu aktivitas fisik  terhadap penurunan hipertensi. Dengan demikian, aktivitas fisik dengan intensitas sedang seperti olahraga dianjurkan sebagai terapi gaya hidup utama untuk orang dewasa dengan tekanan darah tinggi untuk pencegahan, pengobatan, dan pengendalian hipertensi.

Aktivitas fisik sangat penting dan bermanfaat untuk mengendalikan tekanan darah. Aktivitas fisik yang cukup dapat membantu menguatkan jantung. Jantung yang lebih kuat  tentu dapat memompa lebih banyak darah. Semakin ringan kerja jantung, semakin sedikit tekanan pada pembuluh darah arteri sehingga tekanan darah akan menurun.

Aktivitas fisik adalah melakukan gerakan anggota tubuh  yang menyebabkan pengeluaran tenaga yang sangat penting bagi pemeliharaan kesehatan fisik, mental, dan mempertahankan kualitas hidup agar tetap sehat dan bugar sepanjang hari. Berbagai jenis aktivitas fisik yang dapat dilakukan antara lain :

  • Bisa berupa kegiatan sehari- hari yaitu : berjalan kaki, berkebun, kerja di taman, mencuci pakaian, mencuci mobil, mengepel lantai, naik turun tangga, membawa belanjaan.
  • Bisa berupa olah raga yaitu : push up, lari ringan, bermain bola, berenang, bermain tenis, yoga, fitness, angkat beban / berat.

Seseorang perlu melakukan aktivitas fisik setiap hari secara teratur paling sedikit 30 menit dalam sehari, sehingga dapat menyehatkan jantung, paru- paru serta alat tubuh lainnya.

            Jika lebih banyak waktu yang digunakan untuk melakukan aktivitas fisik maka manfaat yang diperoleh juga lebih banyak. Jika kegiatan ini dilakukan setiap hari maka dalam waktu 3 bulan ke depan akan terasa hasilnya.

Cara melakukan aktivitas fisik yang benar adalah :

  • Lakukan secara bertahap hingga mencapai 30 menit. Jika belum terbiasa dapat dimulai dengan beberapa menit setiap hari dan ditingkatkan secara bertahap.
  • Lakukan aktivitas fisik sebelum makan atau 2 jam setelah makan.
  • Awali aktivitas fisik dengan pemanasan dan peregangan.
  • Lakukan gerakan ringan dan secara perlahan ditingkatkan sampai sedang.
  • Jika sudah terbiasa dengan aktivitas fisik tersebut, lakukan secara rutin paling sedikit 30 menit setiap hari.

Keuntungan yang didapatkan dari melakukan aktivitas fisik secara teratur adalah :

  • Terhindar dari penyakit jantung, stroke, osteoporosis, kanker, tekanan darah tinggi, kencing manis, dan lain- lain.
  • Berat badan terkendali.
  • Otot lebih lentur dan tulang lebih kuat.
  • Bentuk tubuh menjadi bagus.
  • Lebih percaya diri.
  • Lebih bertenaga dan bugar.
  • Secara keseluruhan keadaan kesehatan menjadi lebih baik.

Jadi secara jelas dari berbagai sumber pustaka menyebutkan bahwa aktivitas fisik dapat mencegah dan mengendalikan penyakit hipertensi atau tekanan darah tinggi. Akan tetapi, hasil survey PHBS tidak sesuai dengan teori bahwa kebiasaan melaksanakan aktivitas fisik dapat mencegah dan mengendalikan hipertensi. Hal ini bisa disebabkan antara lain karena kurang validnya survey yang dilakukan. Survey di Kadisoro ini dilakukan oleh kader kesehatan, bukan oleh tenaga kesehatan atau petugas Puskesmas Pandak 1, sehingga ada kemungkinan dalam menggali riwayat aktivitas fisik warga masyarakat Kadisoro kurang teliti. Barangkali hanya ditanyakan tentang kebiasaan melaksanakan pekerjaan rumah sehari- hari tanpa dirinci apa dan tanpa ditanyakan apakah itu dilakukan rutin setiap hari minimal 30 menit tiap kali atau tidak. Sehingga hasil dari kajian ini pun tidak bisa membuktikan bahwa kurangnya aktivitas fisik sehari- hari dapat meningkatkan resiko kejadian hipertensi pada seorang individu.

Perlu dilakukan kajian lain tentang pengaruh kebiasaan aktivitas fisik terhadap kejadian hipertensi pada masyarakat di wilayah lain untuk meluruskan hasil kajian pada penelitian ini yang tidak sesuai dengan teori. Sebelum kader melakukan survey ada baiknya kader diberikan pembekalan terlebih dahulu tentang aktivitas fisik yang dimaksud dan harus ditanyakan yang seperti apa dan bagaimana, sehingga tidak menimbulkan kerancuan dalam membaca hasil survey dan hasil survey benar dan bisa betul- betul sesuai dengan yang diharapkan.

Keterbatasan Penelitian

            Penelitian ini mengambil data dari hasil kunjungan PIS PK oleh petugas kesehatan Puskesmas Pandak 1 dan hasil survey PHBS tahun 2019 yang dilakukan oleh kader kesehatan Dusun Kadisoro di wilayah Kadisoro, Gilangharjo, Pandak, Bantul. Hasil kajian menunjukkan bahwa warga Kadisoro cukup melakukan aktivitas fisik tetapi warga Kadisoro banyak juga yang menderita hipertensi. Hal ini dimungkinkan karena kader dalam melakukan wawancara saat survey kurang bisa menjelaskan maksud aktivitas fisik yang dimaksud ( bentuknya dan durasinya). Aktivitas fisik yang dimaksud adalah aktivitas fisik yang dilakukan secara rutin setiap hari dan paling sedikit 30 menit setiap harinya.

            Diperlukan penelitian dan kajian yang lebih luas ( bisa dilakukan di wilayah lain ) sehingga tercapai tujuan penelitian untuk membuktikan bahwa aktivitas fisik yang kurang meningkatkan resiko kejadian hipertensi pada seorang individu atau pada kelompok masyarakat. Diperlukan pelatihan pada kader tentang maksud aktivitas fisik, sehingga dalam menggali informasi dapat valid dan terpercaya.

            Penelitian ini hanya menggambarkan aktivitas fisik di dalam sebuah keluarga dengan kejadian hipertensi dalam sebuah keluarga, sehingga tidak bisa menggambarkan kaitan antara aktivitas fisik dan hipertensi secara individual.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

  1. Angka kejadian hipertensi di Kadisoro cukup tinggi yaitu 168 KK dari 478 KK (35,15 % ).
  2. Warga yang melakukan aktivitas fisik cukup tinggi yaitu 347 rumah dari 384 rumah (90,36 % ).
  3. Tidak terbukti bahwa aktivitas fisik yang kurang memicu terjadinya hipertensi pada warga Dusun Kadisoro Desa Gilangharjo Kecamatan Pandak Kabupaten Bantul.
  4. Perlu dilakukan penelitian kajian tentang kaitan aktivitas fisik dengan hipertensi di wilayah lain.
  5. Perlu dilakukan pelatihan pada kader kesehatan sebelum melakukan survey PHBS rumah tangga tentang maksud aktivitas fisik dalam indikator PHBS rumah tangga sehat.

B. Saran

  1. Perlu dilakukan penelitian kajian tentang kaitan aktivitas fisik dengan hipertensi di wilayah lain.
  2. Perlu dilakukan pelatihan pada kader kesehatan sebelum melakukan survey PHBS rumah tangga tentang maksud aktivitas fisik dalam indikator PHBS rumah tangga sehat.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Dewi, Arika.2011.  Materi Pelatihan Konselor Berhenti Merokok. Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul.
  2. DepKes RI. 2007. Rumah Tangga Sehat Dengan Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat. Bhakti Husada. Jakarta.
  3. Akbar, Fahmi dan Tim dokterPOST. 2018. 155 Diagnosis dan Terapi Faskes Primer. dokterPOST. Jakarta.
  4. Soeparman. Waspadji, Sarwono, 1998. Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Balai Penerbit FKUI. Jakarta.
  5. Tuti, Aswani, 2020. Mari Makan Sayur dan Buah yang Berkhasiat Bagi Tubuh  Untuk Keluarga Indonesia Sehat. PADK. Padk Kemenkes RI. Jakarta.
Kategori: Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *