1. PENDAHULUAN

Urtikaria adalah kelainan kulit yang ditandai dengan peninggian kulit yang timbul mendadak dan/atau disertai angiodema; ukurannya bervariasi, biasanya dikelilingi eritema, terasa gatal atau sensasi terbakar, umumnya menghilang dalam 1-24 jam. Angioedema terjadi akibat edema pada lapisan dermis bagian bawah dan jaringan subkutan, biasanya lebih dirasakan sebagai sensasi nyeri (alodinia) dan menghilang setelah 72 jam (Borges et al., 2012). Urtikaria dapat diklasifikasikan berdasarkan durasi dan faktor pencetus. Berdasarkan durasi, urtikaria dikelompokkan menjadi urtikaria akut (< 6 minggu) dan urtikaria kronis (> 6 minggu). Urtikaria harus dibedakan dengan kondisi atau penyakit lain yang menimbulkan peninggian kulit atau angioedema, seperti reaksi anafilaksis, sindrom autoinflamasi, dan hereditary angioedema (Zuberbier et al., 2013). Urtikaria akut biasanya dapat ditangani dengan mudah, namun adanya manifestasi klinis angioedema dapat menyebabkan obstruksi nafas apabila mengenai laring dan merupakan suatu kegawatan (Kanani et al., 2011). Urtikaria kronis diasosiasikan dengan tingginya angka morbiditas dan penurunan kualitas hidup. Angioedema dan lesi urtikaria yang bertahan lebih dari 72 jam merupakan indikasi pasien dirawat di rumah sakit (Zuberbier, 2015). Frekuensi urtikaria diperkirakan sebesar 20% dari seluruh populasi, dapat terjadi pada semua umur namun lebih sering pada wanita dan biasanya pada usia 20-40 tahun. Sekitar 40% pasien urtikaria disertai angioedema, 50% hanya dengan urtikaria, sedangkan angioedema saja sebesar 10%. Ada banyak faktor penyebab urtikaria dan angioedema seperti toleransi terhadap makanan, infeksi, obat-obatan, trauma fisik dan penyakit sistemik, namun 70-95% penyebabnya masih belum diketahui terutama pada urtikaria kronik. Hal ini seringkali menimbulkan masalah fisik, psikis maupun sosial dalam kehidupan penderita sehari-hari sehingga mempengaruhi kualitas hidupnya (Baiardini, 2005). Urtikaria adalah penyakit yang diperantarai sel mast. Sel mast yang teraktivasi akan mengeluarkan histamin dan mediator lain seperti Platelet Activating Factor (PAF) dan sitokin. Terlepasnya mediator-mediator ini akan menyebabkan aktivasi saraf sensoris, vasodilatasi, ekstravasasi plasma, serta migrasi sel-sel inflamasi lain ke lesi urtikaria. Pada kulit yang terkena, dapat ditemukan berbagai jenis sel inflamasi, antara lain eosinofil dan/atau neutrofil, makrofag, dan sel T (Ito et al., 2011). Berdasarkan etiologinya, urtikaria dibagi menjadi urtikaria imunologis (urtikaria autoimun, kontak alergi, dan kompleks imun), urtikaria non-imunologis (urtikaria fisik, karena obat-obatan, dan kontak non-alergi), dan urtikaria idiopatik (Powel et al., 2007). Menurut European Academy of 4 Allergology and Clinical Immunology (EAACI) tahun 2006 secara klinis urtikaria diklasifikasikan menjadi urtikaria spontan (urtikaria akut dan urtikaria kronis), urtikaria fisik (dermografik, delayed pressure, panas, dingin, solar, dan getaran), urtikaria spesifik (kolinergik, adrenergik, kontak (alergi/non alergi), dan aquagenik). Para ahli yang lain menambahkan klasifikasi dengan urtikaria yang berhubungan dengan penyakit lain seperti urtikaria pigmentosa (mastositosis) dan vaskulitis. Penatalaksanaan utama pada semua bentuk urtikaria adalah identifikasi dan penghindaran faktor pencetus serta pemberian antihistamin (AH) dengan pilihan utama AH1 (generasi ke-2). Kortikosteroid digunakan hanya pada urtikaria akut atau eksaserbasi akut urtikaria kronis. Namun, belum ada konsensus yang mengatur pemberian kortikosteroid, disarankan dalam dosis terendah yang memberikan efek dalam periode singkat (Asero, 2010). Puskesmas Pandak I terletak di Jalan Pandak Pajangan, Dusun Gesikan, Desa Wijirejo

 Penatalaksanaan utama pada semua bentuk urtikaria adalah identifikasi dan penghindaran faktor pencetus serta pemberian antihistamin (AH) dengan pilihan utama AH1 (generasi ke-2). Kortikosteroid digunakan hanya pada urtikaria akut atau eksaserbasi akut urtikaria kronis. Namun, belum ada konsensus yang mengatur pemberian kortikosteroid, disarankan dalam dosis terendah yang memberikan efek dalam periode singkat (Asero, 2010).

  • TUJUAN PENELITIAN

Untuk mengetahui gambaran pola peresepan kortikosteroid  pada kasus diagnosa urtikaria

  • METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan dengan studi deskriptif yaitu mengkaji dan menganalisis dengan mengambil data resep di Puskesmas Pandak 1. Jenis sample yang digunakan yaitu resep dengan diagnosis Urtikaria, pada tanggal 1 Februari – 29 Februari 2020.

  • HASIL DAN PEMBAHASAN
  • Gambaran Terapi Kortikosteroid pada Urtikaria

 Penggunaan kortikosteroid pada pasien urtikaria

Nama Obat yang Digunakan Rute Pemberian Jumlah Pasien Nomor Pasien Persentase (%) n = 28
Metilprednisolon Oral 12 309, 876, 2759, 2761, 2906, 3753, 3988, 4121, 4683, 4902, 5535, 5897 42,85
Total   12   42,85

Dari tabel tersebutdapat diketahui bahwa Metilprednisolon merupakan satu-satunya jenis kortikosteroid yang diresepkan oleh dokter untuk pasien urtikaria, yaitu sebanyak 12 resep (42,85%) dari 28 resep

Dari hasil penelitan,  dapat diketahui bahwa Metilprednisolon merupakan satu-satunya jenis kortikosteroid yang diresepkan oleh dokter untuk urtikaria, yaitu sebesar 42,85%. Hal ini menjadi penting untuk dipahami terkait pemilihan kortikosteroid pada penyakit urtikaria yang menjadi kurang tepat dalam pemberiannya dikarenakan AH1 yang belum diberikan sebagai terapi lini pertama, dosis yang kurang tepat, ataupun kombinasi dengan obat lain yang sebenarnya berpotensi untuk mengatasi keluhan pasien juga belum diberikan

  • KESIMPULAN

Terdapat 42.85% kasus urtikaria yang menggunakan terapi kortikosteroid yang bukan sebagai fist line terapi pengobatan kasus urtikaria.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Anonim. 2006. Pharmaceutical Care Untuk Pasien Penyakit urtikaria. Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Depkes. Jakarta, 18-21.
  2. Imayati K. Laporan Kasus Osteoartritis. Bagian Ilmu Penyakit Dalam. Denpasar: Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Denpasar. 2011.
  3. IRA (Ikatan Reumatologi Indonesia). Diagnosis dan Penatalaksanaan urtikaria.2014. Jakarta.

Kategori: Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *