1. PENDAHULUAN

            Infeksi Saluran Kemih (ISK) merupakan kondisi klinis yang dapat didefinisikan sebagai adanya mikroorganisme dalam urin. Penyebab paling umum lebih dari 80% kasus ISK tanpa komplikasi adalah E. Coli. Patogen urinari pada infeksi komplikasi dan infeksi nosokomial adalah E. coli, sekitar kurang dari 50%, , Proteus spp., K. pneumoniae, Enterobacter spp., P. aeruginosa, staphylococci, dan enterococci. Bakteri Candida spp telah menjadi penyebab umum dari infeksi urinari pada pasien yang dikaterisasi dengan kondisi kritis dan kronik (Dipiro, 2017).

Pengobatan utama yang digunakan untuk penyakit Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah antibiotik. Berdasarkan tatalaksana ISK dalam buku Pharmacotherapy Handbook (Dipiro, 2017)disebutkan bahwa antibiotik yang dapat digunakan yaitu Trimethoprim-Sulfametoxazole, Nitrofurantoin, fosfomycin, Fosfomycin, Fluoroquinolon (ciprofloxacin, levofloxacin), Penicilin (Amoxicillin-clavulanate) dan Cephalosporin. Pengobatan antibiotik harus tepat sehingga tidak menimbulkan resistensi, meminimalisir tingginya biaya pengobatan, meminimalisir efek samping, serta mencegah  kematian (Febiana dkk, 2012).

            Penelitian yang dilakukan (Jhang dan Kuo, 2017) menyebutkan bahwa sekitar 150 juta orang tiap tahunnya di seluruh dunia maka diperkirakan 12,6% kasus ISK terjadi pada wanita dan 3% kasus terjadi pada pria. Meskipun ISK dapat diobati secara efektif dengan antibiotik, namun kekambuhan ISK merupakan masalah umum yang tiap saat bisa terjadi (Jhang dan Kuo, 2017). Penelitian lain yang dilakukan oleh (Nawakasari, 2019) juga menunjukkan bahwa frekuensi kejadian penyakit ISK lebih banyak terjadi pada wanita dengan persentase 65,27% dibandingkan dengan laki-laki dengan persentase 34,72%.

            Penelitian yang dilakukan (Utami, 2017) menunjukkan penggunaan antibiotik tunggal terbanyak adalah seftriakson dengan persentase 50%, sedangkan penggunaan antibiotik kombinasi terbanyak adalah seftriakson dan gentamisin dengan persentase 50% .

2. TUJUAN PENELITIAN

Untuk mengetahui penggunaan antibiotik pada penyakit infeksi saluran kemih (ISK) yang sesuai dengan fist line terapi  pada periode Januari 2020 di Puskesmas Pandak I, Bantul, Yogyakarta.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

            Pasien dengan diagnosa ISK di Puskesmas Pandak I, Bantul, Yogyakarta  pada bulan Januari 2020 sebanyak 17 pasien. Hasil dari pengolahan data terkait penggunaan antibiotik pada Infeksi Saluran Kemih (ISK) bulan Januari 2020 di Puskesmas Pandak I, Bantul, Yogyakarta dapat dilihat pada Tabel 1, Tabel 2 dan Gambar 1.

Tabel 1. Jumlah Antibiotik yang Digunakan Pasien dengan Diagnosa ISK di Puskesmas Pandak I, Bantul, Yogyakarta

No. Jenis Antibiotik Jumlah % Penggunaan Obat Antibiotik
1 Ciprofloxacin 5 29,41
2 Cotrimoxazol 1 5,88
3 Amoxicillin 1 5,88
4 Cefadroxil 1 5,88
Total 8

Tabel 2. Karakteristik pasien infeksi saluran kemih berdasarkan jenis kelamin di Puskesmas Pandak I, Bantul, Yogyakarta

Karakteristik   Jumlah Persentase (%)
Jenis Kelamin Laki-laki 5 29,41
Perempuan 12 70,59

Gambar 2. Grafik Jumlah Antibiotik yang Digunakan pada diagnosa ISK di Puskesmas Pandak I, Bantul, Yogyakarta

Antibiotik yang diresepkan di Puskesmas Pandak I, Bantul, Yogyakarta pada diagnosa Infeksi Saluran Kemih (ISK) terdapat beberapa jenis, yaitu Ciprofloxacin, Cotrimoxazol, Amoxicillin, dan Cefadroxil.  Berdasarkan Tabel 1 dan Gambar 1 dapat dilihat bahwa obat antibiotik yang paling sering diresepkan yaitu Ciprofloxacin. Ciprofloxacin diresepkan pada bulan Januari sebanyak 5 resep dengan persentase 29,41%. Hal tersebut dikarenakan ciprofloxacin merupakan antibiotik golongan fluoroquinolon yang memiliki aktivitas spektrum yang baik. Ciprofloxacin memiliki aktivitas melawan bakteri gram positif seperti Enterococcus faecalis dan gram negatif seperti Escherichia coli. Fluoroquinolon bekerja dengan menghambat DNA gyrase sehingga sintesa DNA kuman terganggu. Dosis Ciprofloxacin yang digunakan untuk pengobatan ISK yaitu 250 mg 2x sehari selama 3 hari (uncomplicated) dan 250 mg-500 mg 2x sehari selama 7-10 hari (complicated) (Dipiro, 2017).

Penggunaan antibiotik Cotrimoxazol memiliki persentase 5,88% dengan jumlah resep sebanyak 1 resep.  Cotrimoxazol merupakan antibiotik kombinasi antara trimetoprim dan sulfametoksazol.  Sulfametoksazol bekerja dengan menghambat penggunaan asam para aminobenzoat pada sintesis asam dihidrofolat oleh bakteri. Trimetoprim bekerja menghambat produksi asam tetrahidrofolat dengan menghambat enzim dihidrofolat reduktase. Trimetoprim- Sufametoksazol dapat digunakan untuk pengobatan infeksi saluran kemih akibat E. coli, Klebsiella dan Enterobacter sp, M. morganii, P. mirabilis dan P. vulgaris (Lacy, et al. 2009). Trimetoprim-Sufametoksazol dapat digunakan 1 DS (double strength) 2x sehari selama 3 hari (uncomplicated) dan 1 DS tablet 2x sehari selama 7-10 hari (complicated) (Dipiro, 2017).

Penggunaan amoxicilin memiliki persentase 5,88% dengan jumlah resep sebanyak 1 resep. Amoxicillin merupakan golongan penisillin yang bersifat bakterisid yang bekerja dengan cara menghambat sintesis dinding sel. Jika dibandingkan dengan tatalaksana ISK dalam buku Pharmacotherapy A Pathophysiologic Approach Ninth Edition (Dipiro, 2017) penggunaan amoxicillin belum sesuai karena dalam tatalaksana tersebut dijelaskan bahwa amoxcillin tidak direkomendasikan karena tingginya tingkat  resistensi E. Coli. Golongan Amoxicillin yang direkomendasikan untuk terapi ISK yaitu Amoxicillin-clavulanat.  Amoxicillin-clavulanat lebih direkomendasikan karena memiliki mekanisme kerja yang lebih baik dibanding dengan amoxicilin, dimana amoxicillin-clavulanat dapat mencegah resistensi bakteri E.coli melalui aktivitas clavulanat yang dapat menghambat enzim beta laktamase yang diproduksi oleh bakteri (Lacy, et al. 2009).

Penggunaan cefadroxil pada penelitian ini memiliki persentase penggunaan sebesar 5,88% dengan jumlah resep sebanyak  1 resep. Cefadroxil merupakan antibiotik golongan sefalosporin golongan pertama. Sefalosporin bekerja dengan cara menghambat sintesis dinding sel mikroba. Berdasarkan tatalaksana terapi ISK cefadroxil merupakan terapi yang sesuai, namun tidak banyak memberi keuntungan dibandingakan antibiotik empiris lainnya. Selain itu, penggunaan cefadroxil mempunyai biaya yang relatif mahal (Dipiro, 2017)

Hasil dari penelitian ini didapatkan persentase pengobatan yang sesuai dan tidak sesuai dengan tatalaksana ISK. Perhitungan untuk persentase pengobatan yang sesuai yaitu:

Dari 8 resep yang digunakan didapatkan 7 resep yang sesuai dengan tata laksana ISK. Antibiotik yang sesuai tata laksana ISK yang digunakan pada penelitian ini yaitu Ciprofloxacin, cotrimoxazol, dan cefadroxil. Hasil persentase  yang didapatkan penggunaan antibiotik yang sesuai  yaitu 87,5%.

Perhitungan untuk persentase pengobatan yang tidak sesuai tata laksana ISK yaitu:

Dari 8 resep yang digunakan didapatkan 1 resep yang tidaksesuai dengan tata laksana ISK, yaitu Amoxicillin. Hasil persentase  yang didapatkan penggunaan antibiotik yang tidak sesuai  yaitu 12,5%.

Penelitian yang dilakukan (Utami, 2017) menunjukkan bahwa perempuan lebih tinggi terkena ISK dengan persentase 69% dibandingkan dnegan laki-laki dengan persentase 31%. Berdasarkan Tabel 2 dapat dilihat bahwa penelitian ini menunjukkan hal yang sama yaitu kejadian ISK pada perempuan lebih banyak dibandingkan dengan laki-laki yaitu pada perempuan terdapat 12 kasus dengan persentase 70,59%, sedangkan pada laki-laki terdapat 5 kasus dengan persentase 29,41%. Hal tersebut terjadi kemungkinan karena uretra wanita lebih pendek sehingga mikroorganisme dari luar lebih mudah mencapai kandung kemih dan letaknya dekat dengan daerah perianal dan vagina (Hermiyanty, 2016).

Pengobatan yang digunakan untuk ISK berupa antibiotik. Pada penelitian ini dapat dikatakan bahwa adanya indikasi tanpa terapi, dimana hasil pengolahan data terdapat 9 resep yang tidak adanya antibiotik untuk diagnosa ISK.

4. KESIMPULAN

     Terdapat 87.5% penggunaaa antibiotika sesuai dengan fist line terapi pada kasus ISK dan 12.5% penggunaan antibitika yang tidak sesuai dengan fist line terapi

5. DAFTAR PUSTAKA

Dipiro,J.T., Talbert,R.L., Yee,G.C., Matzke,G.R., Wells,B.G., Posey,L.M., 2017, Pharmacotherapy A Pathophysiologic Approach Ninth Edition, McGraw-HillEducation

Febiana, T., Hapsari, M. M., & Hapsari, R. 2012. Kajian Rasionalitas Penggunaan Antibiotik di Bangsal Anak RSUP Dr. Kariadi Semarang Periode AgustusDesember 2011. (Doctoral dissertation, Fakultas Kedokteran). http://bit.ly/1NZ4ovq. Diakses tanggal 9 November 2020.

Hermiyanty. 2016. Faktor Risiko Infeksi Saluran Kemih Di Bagian Rawat Inap RSU Mokopido Tolitoli Tahun 2012. Jurnal Kesehatan Tadulako Vol. 2 No. 2.

Jhang J. F., dan Kuo H. C., 2017, Recent Advance in Recurrent Urinary Tract Infection from Pathogenesis and biomarkers to Prevention, Tzu Chi Medical Journal, 29(2)

Lacy, C. F., Amstrong, L.L, Goldman, M.P., and Lance, L. L. 2009. Drug Information Handbook.17th ed., Lexi-Comp for the American Pharmacists Association

Nawakasari, Nawang., Ambar, Y.N,. 2019. Evaluasi Penggunaan Antibiotik pada Pasien Infeksi Saluran Kemih di Instalasi Rawat Inap RSUP X di Klaten Tahun 2017. Jurnal Farmasi Indonesia. Vol. 16, No. 1.

Utami, Desy dwi. 2017. Evaluasi Penggunaan Antibiotika Berdasarkan Alur Gyssens Pada Pasien Infeksi Saluran Kemih Di Instalasi Rawat Inap RSUD Penembahan Senopati Bantul Tahun 2015. Karya Tulis Ilmiah. Yogyakarta: Fakultas Kedokteran Dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Kategori: Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *