1. PENDAHULUAN

Common cold atau disebut dengan ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) jenis non spesifik berupa batuk pilek. Jenis non spesifik yaitu ISPA yang umumnya disebabkan oleh virus (Riza Maula dan Rusdiana, 2016). Virus penyebab common cold bermacam-macam, beberapa diantaranya seperti rhinovirus, adenovirus, virus influenza, dan enterovirus, virus-virus ini menginfeksi sekresi bagian hidung.. Masyarakat juga sering menggunakan obat-obat Over The Counter (OTC) untuk mengobati common cold tersebut. Namun pada tahun 2011 FDA telah merekomendasikan untuk tidak menggunakan obat yang dijual bebas pada anak dibawah usia 2 tahun (Soepardi et al, 2013).  Terapi yang biasanya digunakan untuk batuk yaitu golongan antihistamin, antitusif, dekongestan, ekspektoran, dan analgesik atau antipiretik.

Salbutamol biasanya digunakan untuk terapi asma akut, namun saat ini banyak digunakan untuk terapi off lable pada kasus common cold terutama pada anak (Setyaningrum et al., 2019). Salbutamol diduga memiliki efek sabagai antitusif yang bekerja pada beta-2 adrenoreseptor. Namun hal ini perlu penelitian klinis lebih lanjut terkait efektivitasnya untuk mengobati batuk. Penggunaan terapi off label merupakan terapi diluar indikasi, dosis, cara pemberian, da usia pasein. Sehingga pemberian obat off lable yang akan diberikan harus mempertimbangakn perbandingan atau rasio klinis dan efek samping yang mungkin timbul.

  • TUJUAN PENELITIAN

Untuk Mengetahui pola peresepan obat salbutamol untuk common cold di puskesmas pandak 1.

3 .  METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan dengan studi deskriptif yaitu mengkaji dan menganalisis dengan mengambil data resep di Puskesmas Pandak 1. Jenis sample yang digunakan

yaitu resep dengan diagnosis common cold atau dengan kode diagnosis JOO. Analisis resep dilakukan pada tanggal 1 Februari – 29 Februari 2020 dengan total peresepan diagnosis JOO sebanyak 496 resep. Pengambilan data dilakukan melalui sistem DGS  di Puskesmas Pandak 1  yang berlokasi di Wijirejo, Pandak, Bantul, Yogyakarta.

  • Penjelasan mengenai deskripsi jalannya penelitian

a.Pengumpulan data

Pengumpulan data dilakukan dengan mengumpulkan resep melalui sistem DGS yang ada di Puskesmas Pandak 1 dengan diagnosa dokter common cold atau dengan kode J00. Kemudian resep dengan diagnosa tersebut dipisahkan menjadi dua kelompok yaitu resep yang diberikan terapi dengan salbutamol dan yang tidak diberikan terapi salbutamol.

                          b.Analisis data

Analisis dilakukan setelah data peresepan obat salbutamol pada diagnosa common cold atau J00 sudah terkumpul dan sudah di kelompokkan. Kemudian dilakukan perhitungan resep dengan diagnosa common cold yang diberikan salbutamol. Di analisis dengan excel jumlah resep yang diberikan salbutamol dibandingkan dengan resep yang tidak diberikan salbutamol, untuk mengetahui berapa persentase peresepan salbutamol pada diagnosa common cold atau J00 di Puskesmas Pandak 1.

  • HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian pola peresepan salbutamol menggunakan 168 resep dengan diagnosa common cold atau J00 di Puskesmas Pandak 1 pada tanggal 1-29 Februari 2020. Dari sistem DGS diperoleh jumlah total resep dengan diagnosa common cold berjumlah 496 resep. Salbutamol merupakan obat bronkodilator golongan beta 2 agonis yang diindikasikan untuk penyakit asma dan PPOK, namun saat ini banyak digunakan pada peresepan untuk mengobati gejala common cold batuk. Pemberian salbutamol pada common cold ini masih perlu dikaji kembali terkait efektifitasnya dibandingkan dengan efek samping yang mungkin muncul.

Tabel 1. Jumlah peresepan obat salbutamol pada diagnosa common cold di Puskesmas Pandak 1

  Jumlah Resep Persentase
Diagnosa common cold ( JOO ) yang diresepkan salbutamol 168 33,87 %
Diagnosa common cold (J00) yang tidak diresepkan salbutamol 328 66, 13 %
Total 496 100 %

Dari tabel 3.1 dapat diketahui jika jumlah peresepan obat salbutamol untuk diagnosa common cold di puskesmas yaitu 168 resep (33,871 %) dari total resep 496 dan yang tidak diresepkan menggunakan salbutamol yaitu 328 resep (66,129 %).  Sehingga pemberian salbutamol dengan jumlah tersebut pada kasus common cold dinilai cukup besar.

Tabel 2. Jumlah resep obat salbutamol pada diagnosa common cold  berdasarkan kelomppk usia  di Puskesmas Pandak 1

Usia Jumlah resep Persentase
Balita (0-5 tahun) 99 58,92 %
Anak (6-11 tahun) 54 32,14 %
Remaja (12-19) 6 3,57 %
Dewasa (20-60) 9 5,36 %
Total 168  

Dalam penelitian ini kemudian pasien dikelompokkan berdasarkan usia nya yaitu balita (0-5 tahun), anak (6-11 tahun), remaja (12-19 tahun), dan dewasa (20-60 tahun). Dari hasil analisis diperoleh hasil peresepan salbutamol untuk common cold pada pasien balita yaitu 99 (58,92 %); pasien anak yaitu 54 (32,14 %), pasien remaja yaitu 6 (3,57 %) dan pasien dewasa yaitu 9 (5,36 %) dari total 168 resep. Sehingga persentase tertinggi common cold yang diresepkan salbutamol oleh dokter yaitu pada kelompok balita (0-5 tahun). Penggunaan salbutamol secara oral pada balita terutama usia dibawah 2 tahun tidak direkomendasikan (BNF, 2015). Hal ini karena mempertimbangkan jika kemungkinan efek samping yang muncul lebih besar dibandingkan efektifitasnya. Berdasarkan hasil penelitian cochrane yang telah dilakukan sebelumnya terbukti bahwa penggunaan salbutamol untuk common cold tidak memberikan efektivitas yang lebih baik dibandingkan dengan pemberian plasebo (Fashner et al., 2012). Pemberian salbutamol ini termasuk off lable indikasi, karena pemberiannya bukan untuk indikasi asma akut, melainkan untuk pemberian seperti common cold tanpa keluhan sesak nafas, bronkitis akut, dan rhinofaringitis (Setyaningrum et al., 2019). Efek samping yang dimungkinkan Direkomendasikan untuk terapi pencegahan atau profilaksis common cold pada anak yaitu vitamin C yang dapat diberikan 0,2 -2 gram per harinya. Terapi yang efektif untuk dapat digunakan pada common cold yaitu acetylsistein, zink sulfat dan bisa juga diberikan madu (Fashner et al., 2012).

  • KESIMPULAN

Dari penelitian ini diperoleh hasil bahwa total peresepan obat salbutamol sejumlah 168 resep (33,87 %) dari total resep untuk common cold 496 resep.  Peresepan salbutamol untuk pasien balita (0-5 tahun) yaitu 99 (58,92 %); pasien anak (6-11 tahun) yaitu 54 (32,14 %), pasien remaja (12-19 tahun) yaitu 6 (3,57 %) dan pasien dewasa (20-60 tahun) yaitu 9 (5,36 %). Sehingga diperoleh peresepan tertinggi obat salbutamol untuk common cold yaitu pada pasien balita usia 0-5 tahun.

  • DAFTAR PUSTAKA

Riza Maula, E., Rusdiana, T., 2016. Terapi Herbal dan Alternatif pada Flu Ringan atau ISPA non-spesifik. Farmasetikacom Online 1, 7. https://doi.org/10.24198/farmasetika.v1i2.9709

Setyaningrum, N., Khamsani, H., Mulyawati, R., 2019. Penggunaan Obat Off-Label Pada Pasien Anak Rawat Jalan Klinik Pratama Swasta di Kabupaten Sleman Yogyakarta 06, 9.

Kategori: Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *