LAPORAN KARYA TULIS ILMIAH GAMBARAN KADAR HbA1c PENDERITA DIABETES MELLITUS TIPE II DI PUSKESMAS PANDAK II BANTUL DIY 
Disusun oleh : dr Tri Lestari
NIP. 19820512 200903 2 002

BAB I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penelitian Laporan hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2018 oleh Kementrian Kesehatan, terjadi peningkatan prevalensi DM menjadi 10,9% dibandingkan dengan RISKESDAS 2013. Prevalensi Diabetes Mellitus berdasarkan diagnosis dokter pada penduduk semua umur menurut kabupaten/kota Propinsi DIY sebesar 2,44% yaitu sebanyak 11.391 penderita. Sedangkan untuk kabupaten Bantul sebesar 2,57% yaitu sebanyak 2.996 penderita. Laporan International Diabetes Federation (IDF) pada tahun 2017 menempatkan Indonesia sebagai Negara peringkat ke 6 dalam jumlah penderita DM yang mencapai 10,3 juta. Prediksi dari IDF menyatakan akan terjadi peningkatan jumlah pasien DM dari 10,3 juta pada tahun 2017 menjadi 16,7 juta pada tahun 2045. Peningkatan status ekonomi, perubahan gaya hidup dan efek modernisasi menyebabkan prevalensi penyakit tidak menular mengalami peningkatan pada bebrapa tahun terakihr. Kasus penderita Diabetes Mellitus di Propinsi DIY tahun 2019 adalah sebesar 76.448 kasus dan yang mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai standar adalah 55.190 kasus (73,0%). Peningkatan prevalensi kasus penyakit tidak menular tersebut diikuti dengan pergeseran dominasi penyebab kematian di DIY. Penyebab kematian di DIY telah bergeser dari penyakit menular menjadi penyakit tidak menular sejak tahun 1997 (Dinkes DIY, 2020) Diabetes Melitus ( DM ) tipe 2 merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karekteristik hiperglikemia yang terjadi karena resistensi insulin, disertai defisiensi insulin relatif. Pemantauan status metabolik pasien DM merupakan hal yang penting. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk menentukan pengendalian glukosa darah pada penderita DM adalah pengukuran Hemoglobin–glikosilat (HbA1C) (Prawansa dan Rahman, 2018 ). Tes hemoglobin terglikosilasi, yang disebut juga sebagai glikohemoglobin, atau hemoglobin glikosilasi (disingkat sebagai HbA1c), merupakan cara yang digunakan untuk menilai efek perubahan terapi 8-12 minggu sebelumnya. Untuk melihat hasil terapi dan rencana perubahan terapi, HbA1c diperiksa setiap 3 bulan. Pada pasien yang telah mencapai sasaran terapi disertai kendali glikemik yang stabil HbA1c diperiksa paling sedikit 2 kali dalam 1 tahun (Prawansa dan Rahman, 2018 ).

B. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah penelitian ini adalah ‘Gambaran kadar HbA1C penderita Diabetes Mellitus tipe II di Puskesmas Pandak II, Bantul, DIY’. C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Untuk mengetahui gambaran kadar HbA1C penderita Diabetes Mellitus tipe II di Puskesmas Pandak II, Bantul, DIY’. 2. Tujuan Khusus a. Mengetahui karakteristik umur dan jenis kelamin penderita Diabetes Mellitus tipe II di Puskesmas Pandak II, Bantul, DIY. b. Mengetahui gambaran kadar HbA1c penderita Diabetes Mellitus tipe II di Puskesmas Pandak II, Bantul, DIY. D. Manfaat Penelitian 1. Bagi Peneliti Sebagai pengalaman dan menambah wawasan peneliti dalam metodologi penelitian khususnya mengenai Gambaran kadar HbA1C penderita Diabetes Mellitus tipe II di Puskesmas Pandak II, Bantul, DIY. 2. Bagi Puskesmas Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan masukan bagi Puskesmas dalam mengevaluasi tindakan medis dan keperawatan, menentukan kebijakan yang terkait dengan perawatan klien penderita Diabetes Mellitus tipe 2.

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori Sebanyak 10 sampel penderita Diabetes Mellitus tipe II yang berasal dari RSUD Labuang Baji Makassar yang dilakukan Pengambilan sampel pada tanggal 20 Juni – 31 Juli 2018 mempunyai kadar HbA1c <7 dari total 20 sampel yang diteliti (Prawansa-Rahman, 2018). Hal ini menunjukan separuh dari penderita Diabetes Mellitus tipe II yang diteliti penyakitnya terkendali. Proporsi kerutinan memeriksakan kadar gula darah pada penduduk semua umur menurut kabupaten/kota, provinsi DIY, Riskesda 2018, untuk Kabupaten Bantul sebesar 4,03% rutin, 20,51% tidak rutin dan 75,45% tidak pernah. Sedangkan untuk kerutinan memeriksakan kadar HbA1c darah belum terlaporkan secara baik. Pelaksanaan PROLANIS yang maksimal sangat efektif dalam mengendalikan kadar gula darah penderita DM Tipe 2 sehingga secara tidak langsung mencegah terjadinya komplikasi (Musrifah-Nurwahyuni, 2018). Penelitian tentang gambaran kadar HbA1c penderita Diabetes Mellitus Tipe II yang mengikuti kegiatan PROLANIS DM di wilayah Kabupaten Bantul DIY, khususnya di Puskesmas Pandak II, belum pernah dilakukan.

B. Kerangka Teori Diabetes Melitus tidak dapat disembuhkan, tetapi kadar glukosanya dapat dikurangi, dalam penatalaksanaan dan kontrol diabetes. Bukan hanya glukosa darah yang perlu diperiksa tetapi juga kadar HbA1C penting pula untuk diperiksa sebagai pengendalian diabetes yang lebih baik dibandingkan glukosa darah. Pengendalian diabetes harus secara dilakukan secara menyeluruh, termasuk kadar glukosa darah, HbA1c, kadar lipid (kolesterol Low Density Lipoprotein (LDL), High Density Lipoprotein (HDL), dan trigliserida. Pengendalian Diabetes Mellitus tipe II tidak hanya dengan mengendalikan kadar HbA1c saja. Penelitian tentang gambaran kadar HbA1c penderita Diabetes Mellitus Tipe II yang mengikuti kegiatan PROLANIS DM di Puskesmas Pandak II Bantul DIY belum terlaporkan dengan baik.

C. Pertanyaan Penelitian Pertanyaan penelitian ini adalah Apakah ada perubahan ‘Gambaran kadar HbA1C penderita Diabetes Mellitus tipe II di Puskesmas Pandak II, Bantul, DIY’ setelah mengikuti kegiatan PROLANIS DM selama bulan April sampai dengan Oktober 2019.

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN

A. Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan menggunakan metode observasi analitik. Penderita Diabetes Mellitus tipe II yang mengikuti kegiatan Prolanis DM selama bulan April sampai dengan Oktober 2019 di Puskesmas Pandak II di periksa kadar HbA1c darahnya.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi Penelitian dilakukan di dalam gedung Puskesmas Pandak II, Salam, Triharjo, Pandak, Bantul, DIY. Waktu Penelitian dilakukan dari bulan April sampai dengan Oktober tahun 2019.

C. Populasi dan Sampel Populasi penelitian ini adalah Penderita Diabetes Mellitus tipe II di wilayah kerja di Puskesmas Pandak II Bantul DIY. Penelitian ini mengambil sampel Penderita Diabetes Mellitus tipe II yang merupakan anggota PROLANIS Diabetes Mellitus di Puskesmas Pandak II Bantul DIY. a) Kriteria Inklusi Semua pasien yang menderita DM tipe II di Puskesmas lokasi penelitian, mengikuti Prolanis, mengerti dan dapat berbahasa Indonesia, pasien bersedia diperiksa HbA1c dan pasien yang mendapat terapi Diabetes Mellitus tipe II. b) Kriteria Ekslusi Semua pasien yang menderita DM tipe II di Puskesmas lokasi penelitian, yang tidak bisa mendengar, tidak mengerti berbahasa Indonesia, dan tidak hadir saat penelitian.

D. Variabel Penelitian Variabel independen penelitiaan ini adalah Kepatuhan penderita Diabetes Mellitus tipe II dalam mengikuti kegiatan PROLANIS DM. Variabel dependen penelitian ini adalah Kadar HbA1c darah penderita Diabetes Mellitus tipe II yang mengikuti PROLANIS DM.

E. Definisi Operasional PROLANIS (Program Pengelolaan Penyakit Kronis) adalah salah satu program pemerintah bekerjasama dengan pihak BPJS untuk mendorong peserta penyandang penyakit kronis mencapai kualitas hidup optimal sehingga dapat mencegah timbulnya komplikasi penyakit. DM (Diabetes Mellitus) tipe II adalah kelompok DM dengan resistensi insulin disertai defisiensi insulin relatif. Kecurigaan adanya DM perlu mendapatkan perhatian bila ada keluhan klasik DM berupa poliuria, polidipsia, polifagia dan terjadi penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya. DM tipe 2 sering tidak dapat dirasakan gejalanya pada stadium awal dan tetap tidak terdiagnosis dalam waktu lama sampai terjadi berbagai komplikasi HbA1c adalah Haemoglobin A1c adalah komponen minor dari hemoglobin yang berikatan dengan glukosa, HbA1c kadang-kadang disebut sebagai glikosilasi atau hemoglobi glikosilasi pada pasien diabetes, dimana pemeriksaan ini juga berfungsi sebagai indikator jangka panjang kontrol glukosa darah, bisa juga digunakan untuk memonitor efek terapi.

F. Alat dan Metode Pengumpulan Data Penderita Diabetes Mellitus tipe II di wilayah kerja di Puskesmas Pandak II Bantul DIY, yang mengikuti kegiatan PROLANIS DM (Pengelolaan Penyakit Kronis) dari bulan April sampai dengan Oktober tahun 2019 diambil datanya. Responden bersedia mengikuti penelitian dan menandatangani Informed Consent. Data yang di dapatkan, kemudian di kumpulkan dan di olah untuk mendapatkan hasil pemeriksaan kadar HbA1c Penderita Diabetes Mellitus tipe II di wilayah kerja di Puskesmas Pandak II Bantul DIY. Data di olah secara manual dan komputerisasi serta disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi.

G. Pelaksanaan Penelitian. Data diambil dari Penderita Diabetes Mellitus tipe II yang merupakan anggota PROLANIS DM di Puskesmas Pandak II Bantul DIY. Penderita DM ini dilakukan Informed Consent untuk mengikuti penelitian dan pengambilan sampel darah di bulan April 2019 dan di bulan Oktober 2019. Selama bulan April sampai dengan Oktober penderita mengikuti kegiatan PROLANIS DM secara aktif di Puskesmas Pandak II Bantul DIY. BAB

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian Penelitian ini diikuti oleh 37 penderita Diabetes Mellitus tipe II yang merupakan anggota PROLANIS DM di Puskesmas Pandak II Bantul DIY, dari total 40 penderita. Satu penderita tidak bisa mengikuti pemeriksaan di bulan Oktober dan satu penderita tidak mengikuti pemeriksaan di bulan April 2019 dikarenakan ada keperluan keluarga. Tabel 1 menunjukkan bahwa responden penelitian ini sebagian besar berjenis kelamin perempuan, yaitu 28 responden (75,68%). Responden laki-laki sebanyak 9 orang (24,32%). Tabel 1. Distribusi penderita Diabetes Mellitus tipe II berdasarkan jenis kelamin NO Jenis Kelamin Jumlah Persentase 1 Laki – laki 9 24,32 2 Perempuan 28 75,68 Total 37 100 Usia responden penelitian ini sebagian besar berusia 50-60 tahun, sebanyak 18 orang (48,65%) dan paling sedikit di usia 30-40 tahun, sebanyak 2 orang (5,4%). Responden dengan usia 40-50 tahun sebanyak 7 orang (18,92%) dan responden yang termasuk lansia sebanyak 10 orang (27,03%). Tabel 2. Distribusi Penderita Diabetes Mellitus tipe II berdasarkan usia NO Usia Jumlah Persentase 1 ≤ 30 tahun 0 0 2 30 – 40 tahun 2 5,4 3 40 – 50 tahun 7 18,92 4 50 – 60 tahun 18 48,65 5 ≥ 60 tahun 10 27,03 Total 37 100 Sebanyak 9 penderita Diabetes Mellitus tipe II mempunyai hasil pemeriksaan HbA1c terkendali, yaitu di bawah 7% pada pemeriksaan di bulan April. Sebanyak 12 penderita Diabetes Mellitus tipe II mempunyai hasil pemeriksaan HbA1c terkendali, yaitu di bawah 7% pada pemeriksaan di bulan Oktober. Tabel 3. Hasil Pemeriksaan kadar HbA1c Penderita Diabetes Mellitus tipe II No Kadar HbA1c April Oktober Keterangan 1 < 7 % 9 12 Terkendali 2 ≥ 7% 28 25 Tidak Terkendali Jumlah 37 37 Sebanyak 9 responden (24,32%) memiliki hasil pemeriksaan kadar HbA1c terkendali di bulan April 2019, dan sebanyak 28 responden (75,67%) kadar HbA1c dalam darahnya belum terkendali. Sebanyak 12 responden (32,43%) memiliki hasil pemeriksaan kadar HbA1c terkendali di bulan Oktober 2019, dan sebanyak 25 responden (67,57%) kadar HbA1c dalam darahnya belum terkendali. Terdapat peningkatan sebanyak 3 responden yang kadar HbA1c menjadi terkendali dari bulan April dibandingkan dengan bulan Oktober 2019.

B. Pembahasan Kriteria pengendalian Diabetes Mellitus di dasarkan pada hasil pemeriksaan kadar glukosa, kadar HbA1c dan profil lipid. Definisi Diabetes Mellitus yang terkendali baik adalah apabila kadar glukosa darah, kadar lipid dan HbA1c mencapai kadar yang diharapkan, serta status gizi dan tekanan darah sesuai target yang ditentukan. Jadi kadar HbA1c darah bukanlah satu-satunya parameter yang dinilai. Pemeriksaan HbA1c merupakan indeks kontrol glikemik jangka panjang (2 –3 bulan). HbA1c tidak dapat dipergunakan sebagai alat untuk evaluasi pada kondisi tertentu seperti: anemia, hemoglobinopati, riwayat transfusi darah 2 –3 bulan terakhir, keadaan lain yang memengaruhi umur eritrosit dan gangguan fungsi ginjal. HbA1c mempunyai keterbatasan pada berbagai keadaan yang mempengaruhi umur sel darah merah. Saat ini terdapat cara lain seperti pemeriksaan glycated albumin (GA) yang dapat dipergunakan dalam pemantauan. Pemeriksaan glycated albumin (GA) dapat digunakan untuk menilai indeks kontrol glikemik yang tidak dipengaruhi oleh gangguan metabolisme hemoglobin dan masa hidup eritrosit seperti HbA1c. Diabetes Mellitus yang terkendali baik menurut PERKENI 2019 adalah apabila kadar glukosa darah, kadar lipid adan kadar HbA1c mencapai kadar yang diharapkan, serta status gizi maupun tekanan darah sesuai dengan target yang ditentukan. Kadar HbA1c terkendali baik adalah kurang dari 7, atau bersifat individu. Manajemen Diabetes Mellitus harus bersifat individu atau perorangan, dimana kebutuhan obat, kemampuan dan keinginnan pasien menjadi komponen penting dan utama dalam menentukan pilihan dalam upaya mencapai target terapi. Pertimbangan tersebut dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain : usia dan harapan hidup, lama menderita DM, riwayat hipoglikemia, penyakit penyerta, adanya komplikasi kardiovaskuler, serta komponen penunjang lain (ketersediaan obat dan kemmapuan daya beli). Untuk pasien usia lanjut, target terapi HbA1c antara 7,5-8,5%. Aktifitas dalam pelaksanaan PROLANIS meliputi aktivitas konsultasi medis/edukasi, home visit, reminder, aktivitas klub dan pemantauan status kesehatan. Pelaksanaan konsultasi medis yaitu kegiatan konsultasi yang dilakukan oleh peserta bersama dengan faskes pengelola dimulai dengan kontrak waktu dengan tenaga medis. Konsultas meliputi prognosis penyakit, Keluhan-keluhan seputar masalah kesesahatan peserta dan kontrol obat-obatan (BPJS Kesehatan, 2015). Kegiatan PROLANIS DM yang dilakukan selama bulan April sampai dengan Oktober adalah sebagai berikut: Tabel 4. Kegiatan PROLANIS DM bulan April – Oktober 2019 NO Bulan Kegiatan 1 April – Senam kesehatan – Pemeriksaan Kesehatan – Penyuluhan tentang Puasa untuk penderita DM 2 Mei – Senam kesehatan – Pemeriksaan Kesehatan – Penyuluhan tentang DM Terkontrol 3 Juni – Senam kesehatan – Pemeriksaan Kesehatan – Penyuluhan tentang Fisioterapi pada Penderita DM 4 Juli – Senam kesehatan – Pemeriksaan Kesehatan – Penyuluhan tentang Manajemen Stres pada penderita DM 5 Agustus – Senam kesehatan – Pemeriksaan Kesehatan – Penyuluhan tentang PHBS pada Prolanis DM 6 September – Senam kesehatan – Pemeriksaan Kesehatan – Penyuluhan tentang manfaat olahraga bagi penderita DM Semua responden penelitian ini secara aktif mengikuti kegiatan PROLANIS DM tersebut di atas. Sebanyak 9 responden (24,32%) memiliki hasil pemeriksaan kadar HbA1c terkendali (<7) di bulan April 2019, dan sebanyak 28 responden (75,67%) kadar HbA1c dalam darahnya belum terkendali (≥7). Sebanyak 12 responden (32,43%) memiliki hasil pemeriksaan kadar HbA1c terkendali (<7) di bulan Oktober 2019, dan sebanyak 25 responden (67,57%) kadar HbA1c dalam darahnya belum terkendali (≥7). Terdapat peningkatan sebanyak 3 responden yang kadar HbA1c menjadi terkendali dari bulan April dibandingkan dengan bulan Oktober 2019. Hal ini menunjukan bahwa dengan mengikuti kegiatan PROLANIS DM secara aktif dapat meningkatkan jumlah penderita Diabetes Mellitus tipe II yang mempunyai kadar HbA1c terkendali.

C. Keterbatasan Penelitian Penelitian ini mempunyai keterbatasan yaitu belum bisa mengambil sampel yang lebih banyak, yang lebih mewakili populasi sebenarnya dari penderita Diabetes Mellitus tipe II di wilayah Puskesmas Pandak II Bantul DIY.

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan Terdapat peningkatan sebanyak 3 penderita Diabetes Mellitus tipe II di Puskesmas Pandak II yang mengikuti PROLANIS DM mempunyai Kadar HbA1c terkendali yang diperiksa dari bulan April sampai Oktober 2019, yaitu sebanyak 9 penderita DM tipe II mempunyai kadar HbA1c terkendali di bulan April dan sebanyak 12 penderita DM tipe II di bulan Oktober 2019.

B. Saran

1. Bagi peneliti agar penelitian kadar HbA1c pada penderita Diabetes Mellitus di wilayah Puskesmas Pandak II Bantul DIY dengan sampel yang lebih besar diperlukan, sehingga dapat memberikan gambaran yang lebih faktual. 2. Bagi peneliti agar dapat melanjutkan penelitian ini ke jenjang yang lebih spesifik seperti analisis glycated albumin dan glycated haemoglobin (HbA1c) pada penderita Diabetes Mellitus tipe II. 3. Bagi Penderita Diabetes Mellitus tipe II disarankan untuk tetap menerapkan pola hidup sehat, dengan melakukan CERDIK (Cek kesehatan secara berkala, Enyahkan rokok, Rajin beraktivitas fisik/berolahraga, Diet Diabetes Mellitus, Istirahat cukup dan Kelola Stres) agar kadar HbA1c dapat mencapai target (<7) dan penyakitnya terkendali. 4. Bagi Tenaga Medis dan Paramedis supaya lebih komprehensif dalam menangani pasien secara umum dan penderita Diabetes Mellitus khususnya. 5. Bagi Puskesmas Pandak II agar lebih maksimal lagi dalam melaksakan program kesehatan secara umum dan khususnya PROLANIS Diabetes Mellitus. 6. Bagi peneliti agar penelitian kadar HbA1c pada penderita Diabetes Mellitus di wilayah Puskesmas Pandak II Bantul DIY dengan sampel yang lebih besar diperlukan, sehingga dapat memberikan gambaran yang lebih faktual.

DAFTAR PUSTAKA

BPJS, (2015), Panduan Praktis Prolanis (Program Pengelolaan Penyakit Kronis), Jakarta : Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, (2018), Riset Kesehatan Dasar, Jakarta Musrifah A, Nurwahyuni M, (2018), Korelasi antara Pelaksanaan Prolanis dengan Pengendalian Kadar Gula Penderita DM Tipe II di Puskesmas Antang dan Pampang Kota Makasar, Makasar : Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis Volume 12 Nomor 3 Tahun 2018 ● eISSN : 2302-2531 PB PERKENI, (2019), Pedoman Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Mellitus type II Dewasa di Indonesia, Jakarta : Perhimpunan Endokrinologi Indonesia Prawansa Amran-Rahman, (2018), Gambaran Hasil Pemeriksaan HbA1c pada penderita Diabetes Mellitus tipe II di RSUD Labuang Baji Makassar, Jurnal Media Analis Kesehatan, Vol. 9, No.2, November 2018 http://journal.poltekkes-mks.ac.id/ojs2/index.php/mediaanalis Profil Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tahun 2019, (2020), Yogyakarta : Dinas Kesehatan Provinsi DIY

Categories: Berita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *