Mengapa DMP Sudah Tidak Ada Di Puskesmas?

Hasil gambar untuk dextromethorphan

Dahulu sering menemui beberapa orang yang datang ke apotek mencari Dextromethorphan (DMP) baik sediaan tablet atau sirup. Kebanyakan yang mencari adalah anak-anak muda. Seiring berjalannya waktu terdengar bahwa DMP sering disalahgunakan. Jadi ternyata bukan hanya golongan narkotika, psikotropika tapi golongan DMP sediaan tunggal juga disalahgunakan.
Penyalahgunaan DMP dapat menimbulkan efek samping mulai dari dosis ringan (100mg-1500mg), yaitu stimulasi ringan, euforia dan halusinasi sampai depressi sistem syaraf pusat. WHO menyatakan DMP merupakan bahan tidak aman dan mengkhawatirkan karena rentan terhadap penyalahgunaan obat. Swedia mengubah golongan DMP menjadi golongan narkotika.
Dosis                                             Efek
100-200mg                        Stimulasi ringan
200-400mg                        Euforia dan halusinasi
300-600mg                        Gangguan persepsi visual, hilangnya koordinasi motorik
500-1.500mg                     Dissosiatif sedatif
1500-3.000 (terbagi)         Dissosiatif, terkecuali dengan efek yang lebih lama
Sumber : WHO meeting 35th
DMP merupakan isomer d-levometorfan analog kodein, tetapi mempunyai sifat analgetik atau adiktif dan tidak bekerja pada reseptor opioid. Toksisitasnya rendah, namun dosis tinggi dapat menimbulkan euforia, halusinasi dan psikosis.
Berdasarkan efek farmakologis, DMP bersifat antitusif, penekan batuk non opiat sintetik yang bekerja secara sentral dengan cara meningkatkan ambang rangsang reflek batuk di sisitem syaraf pusat (SSP) dan diindikasikan untuk meredakan batuk tidak berdahak atau batuk kering atau batuk yang menimbulkan rasa sakit. Di pasaran dijual dalam bentuk sirup dan tablet, baik komposisi tunggal maupun kombinasi dengan obat yang lain. DMP dahulu merupakan obat bebas terbatas yang bisa dibeli tanpa resep dari dokter dengan harga relatif murah.

Hasil gambar untuk dextromethorphan
Karena harga murah dan termasuk obat bebas terbatas yang mudah didapat sehingga pengawasan menjadi kurang ketat maka penyalahgunaan DMP bisa menjadi penyebab DMP disalahgunakan. Untuk menghindari dan mencegah makin tingginya penyalahgunaan DMP tunggal, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengambil tindakan diantaranya membatalkan izin edar untuk sediaan tablet atau sirup tunggal melalui Keputusan Kepala Badan POM RI No. HK.04.1.35.07.13.3855 tahun 2013 tanggal 24 Juli 2013 tentang Pembatalan Izin Edar Obat yang Mengandung Dektromethorfan sediaan tunggal. Sedangkan DMP kombinasi karena tidak diketemukan penyalahgunaan dan masih dibutuhkan untuk pengobatan masih dapat beredar di pasaran.