KESEHATAN IBU DAN ANAK

A. Angka Kematian Ibu Maternal (AKI)
Angka kematian ibu merupakan angka yang didapat dari jumlah kematian ibu untuk setiap 100.000 kelahiran hidup, sehingga berkaitan langsung dengan kematian ibu. Kematian ibu adalah kematian wanita dalam kehamilan atau sampai dengan 42 hari pasca-terminasi kehamilan, yang disebabkan kehamilan, manajemen tata laksana, maupun sebab lain. Penyebab kematian tersebut dapat berhubungan langsung maupun tidak langsung dengan kehamilan, dan umumnya terdapat sebab utama yang mendasari.

Gambar 1. Grafik AKI di Puskesmas Pundong Tahun 2010-2016

Dari grafik di atas dapat dilihat trend angka kematian ibu dalam 2 tahun terakhir yaitu tahun 2015 dan 2016 yang bebas dari kasus kematian ibu. Hal ini bisa dikarenakan oleh kesadaran untuk memeriksakan kehamilan masyarakat semakin tinggi, promosi kesehatan oleh tenaga kesehatan serta pendampingan ke masyarakat semakin optimal.
Meskipun intervensi kesehatan yang dilakukan hanya meliputi aspek yang terbatas, seperti pengadaan tenaga terampil dalam pertolongan persalinan, tatala ksana gawat darurat obstetri yang memadai, dan keluarga berencana. Namun, keberhasilan dalam upaya perbaikan kesehatan maternal ini secara tidak langsung akan meningkatkan derajat kesehatan bangsa.

B. Angka Kematian Bayi (AKB)
Infant Mortality Rate atau Angka Kematian Bayi adalah banyaknya bayi yang meninggal sebelum mencapai usia satu tahun per 1.000 kelahiran hidup pada tahun yang sama. Indikator ini terkait langsung dengan terget kelangsungan hidup anak dan merefleksikan kondisi sosial, ekonomi dan lingkungan tempat tinggal anak-anak termasuk pemeliharaan kesehatannya. AKB cenderung lebih menggambarkan kesehatan reproduksi. AKB relevan dipakai untuk memonitor pencapaian terget program karena mewakili komponen penting pada kematian balita.
Kasus kematian bayi dari tahun 2010 sampai 2016 dapat dilihat dalam grafik sebagai berikut :

Gambar 2. Grafik AKB di Puskesmas Pundong Tahun 2010-2016

Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa pada tahun 2010 dan 2011 terdapat 4 kasus kematian bayi, kemudian semakin menurun hingga pada tahun 2013, jumlah kasus menjadi 2. Naik lagi mencapai 4 kasus pada tahun 2015, dan pada tahun 2016 dapat disampaikan bahwa tidak ada kasus kematian bayi. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya kesadaran kesehatan bagi ibu hamil dalam memeriksakan kehamilannya dan pada saat menjelang persalinan, serta kegiatan promosi kesehatan khususnya di bagian KIA semakin optimal.

C. Pelayanan Kesehatan Ibu
Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil yaitu meliputi pemeriksaan Ibu Hamil K-1, K-4, pemberian tablet Fe-1 dan Fe-3 untuk ibu hamil, dan persalinan ditolong tenaga kesehatan. Cakupan pemeriksaan ibu hamil K1 pada tahun 2016 dilaporkan mencapai 100 %, sedangkan cakupan pemeriksaan ibu hamil K4 sebesar 74 % yang dapat disajikan dalam grafik di bawah ini :

Gambar 3. Grafik Pemeriksaan Ibu Hamil K-1 dan K-4 di Puskesmas Pundong Tahun 2016

Berdasarkan grafik di atas dapat diinformasikan bahwa pencapiaan K1 sudah memenuhi target 100% dimasing-masing desa. Namun demikin, pencapaian K4 di masing-masing desa mengalami penurunan. Desa yang paling rendah pencapaian K4 adalah Desa Seloharjo yang hanya mencapai 58,9 %. Rendahnya capaian K4 dipengaruhi oleh banyaknya ibu hamil yang memeriksakan kehamilannya tidak pada Trimester I. Hal ini disebabkan oleh kurangnya kesadaran untuk memeriksakan kehamilan dini (kurang dari 12 minggu), memiliki lebih dari 3 anak sehingga ibu hamil merasa malu, dan adanya kehamilan yang tidak diinginkan. Untuk menindak lanjuti permasalahan di atas diperlukan sweeping bumil ditingkat dusun guna meningkatkan pencatatan dan pelaporan program KIA.
Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan di Puskesmas Pundong sebesar 100%. Artinya sudah tidak ada lagi persalinan yang ditolong oleh Dukun.
Upaya pencegahan Penyakit Tetanus Ibu Hamil dilakukan melalui Vaksinasi TT Ibu Hamil. Vaksinasi TT ibu hamil di Puskesmas setiap Desa dapat dilihat dalam grafik di bawah ini :

Gambar 4. Grafik Pemberian Suntik TT di Puskesmas Pundong Tahun 2016

Dalam rangka pencegahan anemia pada ibu hamil, di Puskesmas Pundong dilaksanakan program pemberian Tablet Fe kepada Ibu Hamil sebanyak tiga kali selama kehamilannya. Cakupan pemberian Tablet Fe-1 mencapai 93.97 %dan Fe-3 sebanyak 72.14 %di Puskesmas Pundong dapat dilihat pada grafik di bawah ini :

Gambar 5. Grafik Bumil Mendapat Fe-1 dan Fe-3 Di Puskesmas Pundong Tahun 2016

Perkiraan jumlah ibu hamil yang resiko tinggi/komplikasi di Puskesmas Pundong pada tahun 2016 dilaporkan sebanyak 112 orang dari jumlah perkiraan ibu hamil dengan komplikasi yang ada. Penanganan komplikasi kebidanan sebanyak 116.4 %. Cakupan persalinan ditolong oleh Tenaga Kesehatan pada tahun 2016 dilaporkan mencapai 100%, sudah di atas target 80%.

D. Kesehatan Berencana
Kecamatan Pundong memiliki jumlah penduduk 35.484 orang dengan jumlah Pasangan Usia Subur (PUS) pada tahun 2016 sebanyak 5.210 orang. Peserta KB Aktif yang menggunakan Alat Kontrasepsi pada tahun 2016 sebanyak 3.990 orang sehingga hasil Cakupan Peserta KB Aktif sebesar 76, 6 %. Cakupan tersebut sudah sesuai Target SPM 70 % tetapi belum mencapai Target Dinkes Bantul sebesar 80 %.
Belum tercapainya Target Cakupan Peserta KB Aktif disebabkan masih kurangnya Motivasi dan Edukasi dari Bidan mengenai penggunaan KB.
Berikut adalah proporsi penggunaan KB aktif di Puskesmas Pundong pada tahun 2016 :

Gambar 6 . Penggunaan KB Aktif di Puskesmas Pundong Tahun 2016

Dari grafik di atas dapat diinformasikan bahwa penggunaan KB paling banyak adalah KB suntik, paling rendah adalah MOW dan Kondom. Sedangkan oabat vagina, tidak ada yang menggunakannya

E. Kesehatan Anak
Kunjungan Neonatus (KN) di Puskesmas Pundong pada Tahun 2016 berdasarkan laporan adalah sebagai berikut KN 1 sebesar 95.03%. Kunjungan KN3/KN Lengkap sebesar 84.87%. Masih di bawah target 95 %.

Gambar 7. Cakupan KN 1 dan KN Lengkap Di Puskesmas Pundong
Dari grafik di atas dapat dilihat cakupan KN 1 dan KN Lengkap di setiap Desa. Desa yang paling tinggi cakupan KN 1 adalah Panjangrejo, sedangkan yang paling rendah adalah Seloharjo. Begitu juga sama halnya dengan KN Lengkap.
Standar Pelayanan Minimal Pelayanan Kunjungan Neonatus Lengkap adalah 4x, yaitu : 1x pada 29 hari – 2 bulan, 1x pada 3 – 6 bulan, 1x pada 5 bulan, 1x pada 6 – 8 bulan dan 1x pada 9 – 11 bulan).
Bayi yang lahir di Kecamatan Pundong pada tahun 2016 dilaporkan 100 % di timbang, hasilnya adalah Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) sejumlah 18 orang, sekitar 4,5 % (Lampiran : Tabel 37).
Jumlah Bayi dengan BBLR di Kecamatan Pundong pada tahun 2015 sebanyak 19 bayi masing-masing di Desa Srihardono 7 bayi, Desa Panjangrejo 7 bayi, dan Desa Seloharjo 5 bayi. Semua kasus dirujuk ke sarana kesehatan yang lebih lengkap untuk mendapatkan penanganan yang memadai.
Bayi dan Balita yang sudah diberikan Vitamin A sebanyak 2 kali pada saat Bulan Vitamin A yaitu bulan Februari dan Agustus adalah sebanyak 100 % (Lampiran : Tabel 44).
Untuk meningkatkan daya tahan tubuh bayi, maka pemberian ASI Eksklusif sangat penting. Cakupan Bayi yang diberi ASI Eksklusif di Kecamatan Pundong tahun 2016 sebesar 46.7% menurun dibandingkan Tahun lalu sebesar 61% (Lampiran : Tabel 39)

Gambar 8. Cakupan ASI Eksklusif di Kecamatan Pundong tahun 2011 – 2016

Capaian tersebut belum sesuai Target Dinkes Bantul 75 %. Hal tersebut disebabkan kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pemberian ASI Eksklusif sampai usia 6 bulan serta kurangnya informasi yang mereka dapat tentang pentingnya ASI eksklusif. Cakupan ASI Eksklusif perlu dilakukan Alih Informasi kepada ibu hamil, ibu menyusui, dan pengasuh agar mereka sadar akan pentingnya ASI eksklusif.
Pemantauan pertumbuhan Balita merupakan alat untuk mengetahui Status Gizi Balita. Peran serta masyarakat turut memberikan andil dalam pencapaian Indikator ini. Pada tahun 2016 tingkat partisipasi masyarakat dalam Penimbangan Berat Badan Balita di Posyandu (D/S) sebesar 73.4 % dan masih dibawah Target Dinkes Bantul 81%. Lebih jelasnya bisa dilihat pada Gambar 45 di bawah ini.

Gambar 9. Cakupan Penimbangan Balita (D/S) di Puskesmas Pundong
Tahun 2011 -2016

Dengan demikian terlihat bahwa masih banyak masyarakat yang tidak membawa anak Balitanya untuk ditimbang di Posyandu. Rencana ke depan perlu dilakukan advokasi dengan pemerintah Desa agar meng-alokasikan dana desa untuk kegiatan Posyandu sehingga diharapkan kegiatan penimbangan bisa lebih menarik masyarakat. Selain itu untuk meningkatkan kunjungan di Posyandu perlu diadakan kerja sama Lintas Program dan Lintas Sektoral.
Sedangkan dari segi pencapaian hasil penimbangan yang dilihat dari Balita yang naik Berat Badan saat ditimbang (N/D) menunjukkan sebesar 58 %.Seperti ditunjukkan oleh Gambar 46 di bawah ini.

Gambar 10. Cakupan Penimbangan Balita (N/D) di Puskesmas Pundong
Tahun 2011-2016

Cakupan ini naik dibandingkan tahun sebelumnya namun belum mencapai Target Dinkes Bantul 60 %. Permasalahan yang menyebabkan belum tercapainya target diantaranya dikarenakan pencatatan dan pelaporan yang kurang optimal. Rencana Tindak Lanjutnya adalah penjaringan pencacatan dan pelaporan ke BPS dan sarker lain di wilayah Puskesmas Pundong
Salah satu indikator Status Gizi Balita yang mudah diketahui masyarakat yaitu adanya Garis Merah di Kartu Menuju Sehat (KMS) Balita. Hasil penimbangan menunjukkan persentase Balita yang memiliki berat badan di Bawah Garis Merah (BGM) sebesar 0,2% (Lampiran : Tabel 44) . Dari Gambar dapat dilihat Cakupan BGM di Kecamatan Pundong dari tahun 2010 mengalami tren penurunan seperti ditunjukkan pada grafik di bawah ini.

Gambar 11. Cakupan Balita Bawah Garis Merah (BGM) di Kecamatan Pundong
Tahun 2011– 2016

Semua Balita BGM dari keluarga miskin telah mendapatkan MP-ASI (Makanan Pendamping ASI) yaitu 100 % (Lampiran : Tabel 42).
Cakupan Penjaringan Kesehatan Anak Usia Sekolah di SD/MI dilaporkan sudah mencapai 100% (Lampiran : Tabel 49). Cakupan Penjaringan Kesehatan Anak SMP / MTs dan anak SMA / SMK dilaporkan mencapai 100%. Jumlah siswa SMP / MTs yang diperiksa sebanyak 638 siswa. Cakupan Penjaringan Kesehatan Anak SMA / SMK dilaporkan mencapai 431 siswa (Lampiran : Tabel 49).
Dari semua sekolah tingkat SD / MI, SMP / MTs dan SMA / SMK di Kecamatan Pundong semuanya sudah melaksanakan kegiatan Penjaringan Kesehatan Anak Sekolah, tetapi semua sekolah belum melakukan Pemeriksaan Berkala karena kendala waktu dan kurangnya SDM petugas kesehatan dari Puskesmas. Rencana ke depannya perlu di buat jadwal kegiatan Pemeriksaan Kesehatan Berkala anak sekolah dan dimasukkan dalam Rencana Kegiatan Puskesmas di tahun yang akan datang.

Gambar 12 . Strata UKS SD/MI di Puskesmas Pundong Tahun 2016
Dari gambar di atasadapat ditunjukkan bahwa SD / MI di wilayah Kecamatan Pundong baru mencapai Tahap Minimal (50 %) dan Standar (50 %). Target Cakupan Stratififikasi UKS SD dari Dinkes Bantul 100 % untuk Strata Minimal, 70 % untuk Strata Standar, 50 % untuk Strata Optimal dan 30 % untuk Strata Paripuna. Belum tercapainya Target Stratifikasi UKS SD / MI disebabkan pihak sekolah merasa Standar Stratifikasi UKS terlalu tinggi. Indikator terlalu banyak dan dirasa kurang tepat dengan situasi kondisi sekolah yang bersangkutan. Dari alasan tersebut bisa dilihat bahwa sekolah merasa kesulitan untuk mencapai Target Stratifikasi UKS nya. Sehinggan untuk rencana ke depan diperlukan peningkatan Pembinaan UKS oleh petugas Puskesmas. Dibutuhkan kerja sama Lintas Sektoral dan Lintas Program yang solid. Di sini dukungan dari TP UKS sangat dibutuhkan.
Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut termasuk Pelayanan Kesehatan Dasar yang sangat penting karena bila kondisi Gigi dan Mulut tidak sehat bisa berpengaruh langsung terhadap Status Kesehatan Masyarakat.
Pada tahun 2016 RasioTambal : Cabut adalah 0.9 (Lampiran : Tabel 50). Hasil ini masih di bawah Target Dinkes Bantul dengan Rasio Tambal : Cabut adalah193 : 182. Jumlah tindakan Penambalan Gigi Tetap lebih sedikit daripadatindakan Pencabutan GigiTetap .
Tingginya tindakan Pencabutan Gigi Tetap menunjukkan masih rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya Kesehatan Gigi dan Mulut. Masyarakat belum menyadari pentingnya Usaha Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut sejak dini supaya gigi geligi masih bisa dipertahankan dan lebih lama berfungsi di dalam mulut (Usaha Preventif Kuratif). Masyarakat berkunjung ke BP Gigi Puskesmas Pundong dengan keadaan Penyakit Gigi dan Mulutnya sudah parah sehingga tidak bisa dipertahankan lagi dan harus dilakukan pencabutan gigi. Masyarakat juga masih menganggap bahwa selain mahal, pengobatan gigi tidak darurat sehingga masih sering mengesampingkannya dan jika belum parah belum berobat. Hal tersebut diatasi dengan peningkatan pengetahuan masyarakat tentang Kesehatan Gigi dan Mulut diantaranya melalui penyuluhan. Program UKGMD (Usaha Kesehatan Gigi Masyarakat Desa) di Kecamatan Pundong belum bisa berjalan disebabkan kurangnya kerja sama Lintas Program dan Lintas Sektoral serta kurangnya petugas kesehatan untuk melakukan Pembinaan Kesehatan Gigi dan Mulut di Posyandu dan TK. Untuk mengatasi masalah tersebut di perlukan kerja sama Lintas Program dan Lintas Sektoral yang solid dan melakukan penyuluhan kepada masyarakat. Penyuluhan kepada masyarakat berupa Penyuluhan kepada Wali Murid TK, Pembinaan Kader secara berkala, Alih Informasi kepada Paramedis lain dan penyuluhan (DHE) secara langsung kepada pasien. Namun yang lebih penting adalah dibutuhkan peningkatan profesionalisme petugas dalam menjalankan tanggung jawabnya.Petugas Kesehatan Gigi dan Mulut harus meningkatkan skill nya dalam memberikan pelayanan kepada pasien. Untuk menurunkan jumlah Pencabutan Gigi Tetap, salah satunya dengan melakukan Perawatan Syaraf Gigi, namun kondisi ini terbentur sarana radiografi yang belum dimiliki oleh Puskesmas Pundong.