PENANGGULANGAN PENYAKIT

1. Penyakit Menular
a. Diare
Penyakit Diare pada tahun 2016 tidak termasuk dalam Sepuluh Besar Penyakit.Target penemuan penderita Diare oleh sarana kesehatan dan kader di wilayah Kecamatan Pundong adalah 20% per tahun dengan Sasaran 5.982 kasus pada tahun 2016. Ini merupakan Target Renstra 2016 yang digunakan oleh Dinas Kesehatan Bantul untuk penemuan penderita Diare yang juga merupakan Insidensi Diare. Pada tahun ini jumlah penemuan kasus Diare adalah 1.226 kasus dengan Cakupan Kegiatan sebesar 20.5%. Pencapaian ini belum sesuai target yang di walaupun naik dibandingkan tahun lalu sebesar 14 %.
Belum tercapainya Target Renstra tersebut di sebabkan oleh beberapa faktor yaitu :

  • Rendahnya kesadaran PHBS masyarakat
  • Masyarakat lebih percaya dan memilih berobat ke Pengobatan Tradisional dari pada datang ke Fasilitas Kesehatan
  • Kondisi Sanitasi Lingkungan yang tidak memenuhi syarat kesehatan

Rencana Tindak Lanjut ke depan perlu dilakukan beberapa kegiatan untuk meningkatkan Cakupan Penemuan Kasus Diare, diantaranya dengan :

  • Memberikan edukasi kepada masyarakat sampai dengan tingkat Rumah Tangga mengenai pentingnya PHBS dan Sanitasi Berbasis Likungan
  • Melakukan pemeriksaan kualitas air di rumah penderita Diare
  • Pelayanan Kesehatan Lingkungan di Puskesmas Pundong dengan dibukanyaan Klinik Sanitasi terutama saat ditemukannya kasus Diare.
  • Upaya kuratif misalnya dengan mendirikan pojok oralit.

Semua kasus Diare yang ditemukan sudah mendapatkan penanganan Diare oleh petugas kesehatan (Lampiran : Tabel 13). Penemuan kasus Diare ini bersumber dari SPM Puskesmas Pundong, Register setiap PusTu, Laporan Bulanan BPS dan DPS, Laporan dari RS Swasta, dan Laporan Posyandu / Kader Desa. Dari jumlah kasus yang ada tidak terjadi kematian karena Diare. Persebaran Kasus Diare di Kecamatan Pundong ditemukan di seluruh Desa, namun kasus tertinggi ditemukan di Desa Panjangrejo (37.11 %), diikuti Desa Srihardono (32.46 %) dan Desa Seloharjo (30.42 %).
Untuk menanggulangi kejadian diare perlu dilakukan upaya promotif misalnya dengan penyuluhan misalnya tentang pengertian, gejala, cara mencegah, serta cara menanggulangi Diare, termasuk didalamnya cara mencegah kekurangan cairan tubuh (dehidrasi), cara mengobati dehidrasi, cara pemberian makanan bagi penderita Diare, serta informasi rujukan bagi penderita Diare. Penyuluhan dapat dilakukan secara perorangan yaitu kunjungan rumah, pada saat melakukan pendataan kasus, maupun pada saat warga berkunjung ke Puskesmas; penyuluhan kelompok, seperti pada saat pertemuan desa, forum pengajian atau majelis taklim, khotbah jumat, kunjungan Posyandu, pertemuan PKK, atau pertemuan Karang Taruna ; penyuluhan massa, dapat dilakukan pada saat digelarnya pesta rakyat, kesenian tradisional, pemutaran film, ceramah umum, tablig akbar. Selain itu, penyuluhan massa juga dapat dilakukan melalui pemasangan media massa seperti poster dan spanduk di tempat-tempat keramaian yang sesuai dengan kelompok sasaran (balai desa, Posyandu, Poskesdes, Puskesmas dan lain-lain). Selain penyuluhan dapat dilakukan pula pemberdayaan dan penggerakan masyarakat misalnya dengan mengajak masyarakat untuk melakukan PHBS, gerakan masyarakat untuk kesehatan lingkungan, Gerakan Cuci Tangan di tatanan rumah tangga dan tatanan sekolah, melakukan Usaha Kesehatan Bersumber Masyarakat (UKBM), misalnya dengan cara arisan jamban bila di wilayah tersebut banyak masyarakat yang belum memiliki jamban atau membentuk Kelompok Pemakai Air (Pokmair) bila di wilayah tersebut sulit air bersih, menjadikan anak sekolah sebagai agent of change untuk menyampaikan pesan-pesan ke teman sebaya dan orang tuanya, melakukan mobilisasi massa untuk bersama-sama mencegah dan menanggulangi Diare. Upaya promotif yang lain berupa pembinaan dengan melakukan pertemuan rutin dengan kader untuk membahas permasalahan kesehatan terkait Diare, membina kader untuk melakukan pemantauan di setiap wilayah, terutama di wilayah potensial KLB Diare, pembinaan kesehatan di tingkat tatanan rumah tangga dan tatanan sekolah dengan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait.
b. Tuberculosis
Menurut badan kesehatan dunia (World Health Organisation/WHO) diperkirakan di Indonesia, terdapat 107 kasus TBC diantara 100.000 penduduk. Pekerjaan besar yang cukup rumit adalah bagaimana menemukan kasus-kasus tersebut. Padahal, dalam 1 tahun, 1 penderita positif TBC (BTA-positif) dimungkinkan menularkan kepada 10 orang disekitarnya. Dapat dibayangkan, betapa besarnya risiko penularan penyakit TBC yang memang sangat menular.
Gejala-gejala klinis seseorang terkena TBC Paru antara lain :
1. Batuk tidak kunjung sembuh, 3 minggu lebih
2. Berat badan menurun terus
3. Sering keluar keringat dingin malam hari ( tanpa aktifitas lho)
4. Badan meriang, demam
Apabila ada orang dengan gejala demikian, akan dipastikan dengan pemeriksaan laboratorium sehingga diperoleh kepastian apakah positif menderita TBC Paru. Spesimen yang diperiksa di Laboratorium adalah dahak, yang terdiri dari 3 pot ( tempat ) dahak dengan waktu yang berbeda, yaitu dahak sewaktu berkunjung, dahak pagi hari, dan dahak waktu kembali berkunjung. Hal ini juga kadang menghambat, karena penderita tidak kembali berkunjung.
Apabila dalam dahaknya ditemukan kuman Mycobakterium Tuberkulosis (BTA+), maka ia akan dinyatakan positif dan langsung dilakukan pengobatan jangka pendek selama 6 bulan secara cuma-cuma. Apabila dalam pemeriksaan laboratorium tidak ditemukan kuman dimaksud, maka penderita akan dirujuk untuk rontgen paru di Rumah Sakit yang melayani rontgen, sampai dia dinyatakan negatif atau positif.
Keberhasilan program Tuberculosis ditunjukkan dengan angka kesembuhan, setelah penderita diobati, kesembuhan penderita baru dapat diketahui pada tahun berikutnya. Angka Prevalensi penemuan kasus Tuberculosis di Puskesmas Pundong adalah 0.02 (per 100.000 penduduk). Jumlah perkiraan kasus di Tahun 2015 adalah 15 kasus, sedangkan Angka Penemuan Kasus (CDR) mencapai 53.3 %.
Penemuan kasus Tuberculosis tahun 2016 sebanyak 8 kasus, jumlah penemuan nya meningkat dari tahun 2015 yang jumlahnya hanya 7 kasus.
Pelbagai upaya telah dilakukan di Puskesmas Pundong dalam upaya penemuan penderita (case finding). Penyuluhan, kunjungan rumah, contact tracing merupakan kegiatan yang selalu dilaksanakan, namun penderita positif TBC Paru belum banyak yang dapat tercover. Padahal seluruh pelayanan terhadap penderita tersangka dan positif TBC Paru gratis, mulai dari pemeriksaan laboratorium sampai selesai pengobatan.
Permasalahan yang kemungkinan menghambat antara lain;
1. Belum terciptanya kesadaran penderita tersangka TBC Paru untuk memeriksakan diri dan berobat ke Puskesmas.
2. Adanya stigma di masyarakat :TBC merupakan penyakit yang memalukan, yang berakibat penderita malu datang ke Puskesmas.
3. Penderita tidak curiga/ tidak menganggap sakit TBC, sehingga diobati sendiri, berobat ke tempat lain, yang terkadang menyembuhkan batuk tapi tidak mematikan kuman TBC.
Faktor yang berisiko terkena penyakit TBC Paru adalah :
1. Tinggal di rumah yang kurang sehat ; tidak berventilasi, lantai lembab, sinar matahari tidak masuk ke rumah.
2. Kepadatan hunian rumah tinggi
3. Tinggal 1 ruangan dengan penderita TBC Paru,
4. Kebiasaan merokok
5. Kebiasaan begadang

c. Infeksi Menular Seksual
Dapat diinformasikan bahwa pada tahun 2016 tidak ditemukan kasus IMS di Puskesmas Pundong.

d. HIV/AIDS
Dalam lima tahun tahun terakhir di wilayah Kecamatan Pundong selalu ditemukan kasus baru HIV AIDS. Permasalahan yang dihadapi oleh puskesmas adalah tenaga kesehatan baru dilatih akhir tahun 2016. Serta masih sulitnya deteksi dini penyakit HIV AIDS pada populasi beresiko oleh karena HIV AIDS merupakan penyakit yang menimbulkan stigma sehingga kasus-kasus ini cenderung menutup diri. Penularan awal HIV menyebar dengan cepat diantara dua kelompok resiko tinggi yaitu Para Pengguna Narkotika, Psikotropika, dan Zat Aditif Lainnya (Napza) suntik, dan pekerja seks. Masyarakat perlu mengetahui bagaimana cara penularan terjadi serta cara melindungi diri sendiri.
Upaya pemberantasan penyakit HIV AIDS di wilayah Kecamatan Pundong dilakukan dengan upaya promotif berupa penyuluhan kepada warga masyarakat, serta kepada remaja di kelompok remaja maupun siswa sekolah.

e. Malaria
Dapat diinformasikan bahwa tidak ditemukan kasus Malaria di Puskesmas Pundong pada tahun 2016

f. Kusta
Dapat diinformasikan bahwa tidak ditemukan kasus Malaria di Puskesmas Pundong pada tahun 2016

g. Accute Flaccid Paralysis
Dapat diinformasikan bahwa tidak ditemukan kasus Malaria di Puskesmas Pundong pada tahun 2016

h. Filariasis
Dapat diinformasikan bahwa tidak ditemukan kasus Malaria di Puskesmas Pundong pada tahun 2016

i. Pneumonia Balita
Indikator pemberantasan penyakit ISPA adalah penemuan Pneumonia pada Balita serta pemakaian antibiotik pada kasus J00 (Nasofaringitis Akut). Berikut adalah jumlah penemuan kasus Peneumonia di Puskesmas Pundong Tahun 2012-2015.

Gambar 9. Jumlah Kasus Penumonia Di Puskesmas Pundong
Tahun 2012-2016

Dari grafik di atas dapat disimpulkan bahwa trend penemuan kasus Penumonia mengalami kenaikan pada tahun 2013 sebesar 35 kasus, kemudian semakin menurun hingga pada tahun 2016, penemuan kasus Pneumonia menjadi 9 kasus. Hal ini disebabkan oleh semakin optimalnya program kesehatan di masyarakat dengan cara pendekatan promotif, preventifnya. Tidak hanya itu, selain itu Puskesmas juga menerapkan Program MTBS sebagai upaya kuratifnya. Namun demikian tidak menutup kemungkinan bahwa pencatatan dan pelaporan di Puskesmas belum optimal.
Semakin menurunnya penemuan Pneumonia, menjadi cambuk bagi Puskesmas untuk melakukan upaya-upaya agar penemuan semakin maksimal. Rencana Tindak Lanjutnya antara lain dengan:

  • Meningkatkan peran serta masyarakat dengan Pelatihan Kader dan Penyuluhan kepada masyarakat
  • Update Knowledge petugas kesehatan
  • Pengadaan logistik berupa leaflet dan poster
  • Meningkatkan Kemitraan yang baik dengan praktisi swasta
  • Meningkatkan kerja sama Lintas Program (KIA – KB) untuk penemuan Suspek Pneumonia

Penggunaan Antibiotik yang Rasional untuk pengobatan kasus Common Cold pada tahun 2016 mencapai 0 % menurun dari capaian tahun 2015 yang jumlahnya 6,38 %. Hal ini menyatakan bahwa pencapaian penggunaan antibiotic yang rasional pada Puskesmas Pundong sudah sesuai target yaitu <10 %.

j. PD3I
Dapat diinformasikan bahwa tidak ditemukan kasus Malaria di Puskesmas Pundong

k. Leptospirosis
Sebagian besar penduduk yang ada di wilayah kerja Puskesmas Pundong adalah Petani yang sangat riskan untuk terkena virus Leptospirosis. Virus yang menyebar melalui air disawah ini mengharuskan petani untuk selalu menggunakan alat pelindung diri seperti sepatu Boot atau sarung tangan, apalagi jika ada luka terbuka pada tubuh petani sebisa mungkin menghindari aktivitas bertani untuk sementara waktu. Namun banyak warga yang tetap melakukan aktivitas bertani dengan alasan itu adalah sumber penghasilan mereka. Hal inilah yang menyebabkan banyaknya kasus Leptospirosis di Puskemas Pundong.
Berikut adalah tren kasus Leptospirosis di Puskesmas Pundong:

Gambar 10 . Jumlah Penemuan Kasus Leptospira di Puskesmas Pundong Tahun 2011-2016

 

Dari grafik di atas dapat diinformasikan bahwa pada tahun 2011 jumlah kasus Leptospira mencapai 7 kasus. Ini adalah tahun dimana jumlah kasus Leptoprira terbanyak di Puskesmas Pundong. Kemudian pada tahun 2012 turun drastis menjadi 1 kasus, kemudian naik lagi menjadi 5 kasus pada tahun 2013. Pada tahun 2014 menurun hingga 4 kasus, dan naik lagi menjadi 5 kasus pada tahun 2015. Dan pada tahun 2016, menurun 80% hingga menjadi 1 kasus.
Hal ini disebabkan oleh, semakin optimalnya kegiatan promotif dan preventif di masyarakat yang dilakukan oleh Puskesmas Pundong sehingga dapat menumbuhkan kesadaran yang tinggi akan perlu menggunakan alat pelindung diri. Banyaknya sosialisasi tentang penyakit leptospira di masyarakat membuat masyarakat semakin paham tentang bahaya Leptospirosis, dan ketika menemukan gejala-gejala yang mencurigakan langsung dibawa ke sarana kesehatan terdekat untuk mendapatkan pelayanan.
l. Demam Berdarah Dengue
Upaya Pemberantasan Penyakit Demam Berdarah dilaksanakan dengan pelaksanaan pengobatan penderita, Penyelidikan Epidemiologi, penyuluhan kesehatan kepada masyarakat, Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk, dan fogging selektif. Dari tahun ke tahun selalu terjadi kasus Demam Berdarah di Kecamatan Pundong yang tergolong sporadis DBD. Seperti yang ditunjukkan oleh gambar di bawah ini.

Gambar 11 . Jumlah Kasus DBD di Puskesmas Pundong
Tahun 2011-2016

Dari gambar di atas dapat disimpulkan bahwa terjadi lonjakan kasus DBD pada tahun 2016, naik 456 % dari tahun 2015, yaitu 105 kasus dari 23 kasus pada tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan kurangnya kesadaran untuk hidup bersih terutama di lingkungan sekitar, sudah dilakukan gerakan pemberantasan sarang nyamuk secara serentak dan berkala. Namun apabila tidak timbul kesadaran dari masing-masing individu maka lingkungan tidak akan tercipta dengan bersih.Berikut adalah capaian angka bebas jentik di Puskesmas Pundong :

Gambar 12 . Angka Bebas Jentik di Puskesmas Pundong
Tahun 2013-2016


Target Pembangunan Kesehatan di Kecamatan Pundong salah satunya adalah menurunkan Angka Bebas Jentik menjadi 90 %. Angka Bebas Jentik (ABJ) di wilayah Kecamatan Pundong pada tahun 2013 sudah mencapai target 100%, namun terjadi penurunan pada tahun 2014 mencapai 85, 28%. Pada tahun 2015 naik menjadi 91,67% , begitu juga di tahun 2016, angka bebas jentik mencapai 93,9 %. Angka ini sudah mencapai target pembangunan kesehatan di kecamatan. Namun masih di bawah target Penilaian Kinerja Puskesmas sebesar 95 %
Hal yang harus diperhatikan adalah kesadaran masing-masing individu untuk memberantas jentik-jentik secara mandiri dan rutin, agar menekan angka kesakitan DBD di lingkungannya.

IMUNISASI
Pencapaian program imunisasi lengkap di Puskesmas Pundong Tahun 2016 sebesar 71.7 % naik Dario tahun sebelumnya sebsar 35,68%.Hal tersebut disebabkan beberapa Bayi dan Balita tidak datang berkunjung ke Puskesmas Pundong untuk mendapatkan Pelayanan Imunisasi, namun mereka mendatangi BPS di luar wilayah Kecamatan Pundong yang lebih dekat dengan tempat tinggal mereka.

Gambar 23. Cakupan Imunisasi Di Puskesmas Pundong Tahun 2016

Desa UCI (Universal Child Imunization)di wilayah kerja Puskesmas Pundong Tahun 2016 sebesar 99.8 %.

Kejadian Luar Biasa
Pada tahun 2016 dapat dilaporkan bahwa terdapat KLB/ Kejadian Luar Biasa di Desa Panjangrejo yang disebabkan oleh Penyakit DBD. De    ngan adanya kematian DBD maka perlu adanya kesadaran hidup bersih dan sehat terutama dalam menjalankan Program 3M, baik secara mandiri ataupun yang diadakan serempak oleh lintas sector. (Lampiran : Tabel 28).