Pemberdayaan Dokter Gigi Kecil Dalam Pencegahan Karies Gigi Geraham Pertama Permanen Dengan Metode Permainan Ular Tangga di SD 1 Srandakan

Tujuan pembangunan kesehatan adalah terciptanya masyarakat Indonesia yang hidup dan berperilaku dalam lingkungan yang sehat dan mampu menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu. Dalam upaya mencapai tujuan pembangunan kesehatan tersebut, ditetapkan misi  pembangunan kesehatan yaitu  Menggerakkan pembangunan nasional berwawasan kesehatan, mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat, memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata dan terjangkau serta memelihara dan meningkatkan kesehatan individu, keluarga, masyarakat beserta lingkungannya.

            Undang-undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan pasal 93 dan 94 dinyatakan bahwa pelayanan kesehatan gigi dan mulut dilakukan untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dalam bentuk peningkatan kesehatan gigi, pencegahan penyakit gigi, pengobatan penyakit gigi dan pemulihan kesehatan gigi yang dilakukan secara terpadu , terintegrasi dan berkesinambungan dan dilaksanakan melalui pelayanan kesehatan perseorangan, pelayanan kesehatan gigi masyarakat, usaha kesehatan gigi sekolah, serta pemerintah dan pemerintah daerah wajib menjamin ketersediaan tenaga , fasilitas pelayanan, alat dan obat kesehatan gigi dan mulut dalam rangka memberikan pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang aman , bermutu dan terjangkau oleh masyarakat.

                        Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar 2015 ( Kemenkes ) menunjukkkan prevalensi  karies gigi di Indonesia adalah 23,5 % dan DI Yogyakarta prevalensi berada diatas prevalensi nasional. Prevalensi Nasional Gosok Gigi Setiap Hari 91,1 % , dan DI Yogyakarta mempunyai prevalensi di bawahnya. Prevalensi nasional karies aktif sebesar 43,4% dan Daerah Istimewa Yogyakarta mempunyai prevalensi karies aktif diatasnya.

            Puskesmas Srandakan adalah unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul dengan wilayah kerja berada di kecamatan Srandakan, mempunyai tiga fungsi pokok yaitu :

  1. Menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan
  2. Memberdayakan masyarakat dan memberdayakan keluarga
  3. Memberikan pelayanan kesehatan strata pertama meliputi kesehatan perorangan dan pelayanan kesehatan masyarakat.

Data profil Puskesmas Srandakan tahun 2015,  penyakit yang berhubungan

dengan kesehatan gigi dan mulut masih masuk dalam 15 besar penyakit di puskesmas Srandakan,  yang mana urutan ke 11 yaitu penyakit pulpa, urutan ke 13 yaitu penyakit periodontal dan urutan ke 15 yaitu gingivitis.

 Program kesehatan gigi dan mulut di Puskesmas Srandakan selain  memberikan pelayanan kesehatan perorangan juga pelayanan Usaha Kesehatan Gigi Masyarakat ( UKGM ) dan Usaha Kesehatan Gigi Sekolah ( UKGS ). Kegiatan UKGS meliputi penyuluhan kesehatan gigi dan mulut, skrening dan sikat gigi bersama.  Hasil penjaringan kesehatan gigi dan mulut pada siswa  sekolah dasar klas I,III dan V  tahun 2015, prosentase siswa yang  menderita karies gigi cukup tinggi yaitu 70,93% dari jumlah seluruh siswa yang diperiksa sebanyak 1063 siswa. Siswa yang telah dilakukan perawatan kesehatan gigi dan mulut  yaitu 46,2 % dan belum mencapai target puskesmas yaitu 100%. Salah satu upaya dalam mengatasi hal ini perlu adanya peningkatan upaya promotif dan preventif yang terintegrasi khususnya dalam  kegiatan Usaha Kesehatan Gigi Sekolah ( UKGS ).

Jumlah SD UKGS diwilayah kecamatan Srandakan yaitu 16 SD dengan jumlah siswa seluruhnya 2286 siswa . SD 1 Srandakan merupakan SD dengan jumlah murid paling banyak yaitu 297 ( 13%) siswa seluruhnya. Letak yang strategis di tengah kota kecamatan dengan status karies gigi DMF-T sebesar 1,16 termasuk dalam kategori sangat rendah dan deft 3,41  termasuk dalam kategori sedang. Keadaan ini ada kemungkinan untuk dipertahankan,  sehingga dipilih sebagai SD binaan Puskesmas Srandakan.

Salah satu kegiatan Usaha Kesehatan Gigi Sekolah adalah kegiatan penyuluhan. Kegiatan penyuluhan yang telah dilakukan selama ini berupa ceramah , ceramah dengan  menggunakan pantom gigi. Metode ini dianggap kurang  menarik sehingga siswa menjadi jenuh.  Berdasarkan penelitian Rusli (2003 ), Penyuluhan kesehatan gigi dan mulut dengan metode bermain lebih baik daripada metode ceramah. Metode penyuluhan dipilih ular tangga dimana permainan ini mudah dilakukan, merupakan permainan tradisional, dimainkan berkelompok dan menyenangkan.

Tujuan pembangunan kesehatan adalah terciptanya masyarakat Indonesia yang hidup dan berperilaku dalam lingkungan yang sehat dan mampu menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu. Dalam upaya mencapai tujuan pembangunan kesehatan tersebut, ditetapkan misi  pembangunan kesehatan yaitu  Menggerakkan pembangunan nasional berwawasan kesehatan, mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat, memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata dan terjangkau serta memelihara dan meningkatkan kesehatan individu, keluarga, masyarakat beserta lingkungannya.

            Undang-undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan pasal 93 dan 94 dinyatakan bahwa pelayanan kesehatan gigi dan mulut dilakukan untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dalam bentuk peningkatan kesehatan gigi, pencegahan penyakit gigi, pengobatan penyakit gigi dan pemulihan kesehatan gigi yang dilakukan secara terpadu , terintegrasi dan berkesinambungan dan dilaksanakan melalui pelayanan kesehatan perseorangan, pelayanan kesehatan gigi masyarakat, usaha kesehatan gigi sekolah, serta pemerintah dan pemerintah daerah wajib menjamin ketersediaan tenaga , fasilitas pelayanan, alat dan obat kesehatan gigi dan mulut dalam rangka memberikan pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang aman , bermutu dan terjangkau oleh masyarakat.

                        Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar 2015 ( Kemenkes ) menunjukkkan prevalensi  karies gigi di Indonesia adalah 23,5 % dan DI Yogyakarta prevalensi berada diatas prevalensi nasional. Prevalensi Nasional Gosok Gigi Setiap Hari 91,1 % , dan DI Yogyakarta mempunyai prevalensi di bawahnya. Prevalensi nasional karies aktif sebesar 43,4% dan Daerah Istimewa Yogyakarta mempunyai prevalensi karies aktif diatasnya.

            Puskesmas Srandakan adalah unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul dengan wilayah kerja berada di kecamatan Srandakan, mempunyai tiga fungsi pokok yaitu :

  1. Menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan
  2. Memberdayakan masyarakat dan memberdayakan keluarga
  3. Memberikan pelayanan kesehatan strata pertama meliputi kesehatan perorangan dan pelayanan kesehatan masyarakat.

Data profil Puskesmas Srandakan tahun 2015,  penyakit yang berhubungan

dengan kesehatan gigi dan mulut masih masuk dalam 15 besar penyakit di puskesmas Srandakan,  yang mana urutan ke 11 yaitu penyakit pulpa, urutan ke 13 yaitu penyakit periodontal dan urutan ke 15 yaitu gingivitis.

 Program kesehatan gigi dan mulut di Puskesmas Srandakan selain  memberikan pelayanan kesehatan perorangan juga pelayanan Usaha Kesehatan Gigi Masyarakat ( UKGM ) dan Usaha Kesehatan Gigi Sekolah ( UKGS ). Kegiatan UKGS meliputi penyuluhan kesehatan gigi dan mulut, skrening dan sikat gigi bersama.  Hasil penjaringan kesehatan gigi dan mulut pada siswa  sekolah dasar klas I,III dan V  tahun 2015, prosentase siswa yang  menderita karies gigi cukup tinggi yaitu 70,93% dari jumlah seluruh siswa yang diperiksa sebanyak 1063 siswa. Siswa yang telah dilakukan perawatan kesehatan gigi dan mulut  yaitu 46,2 % dan belum mencapai target puskesmas yaitu 100%. Salah satu upaya dalam mengatasi hal ini perlu adanya peningkatan upaya promotif dan preventif yang terintegrasi khususnya dalam  kegiatan Usaha Kesehatan Gigi Sekolah ( UKGS ).

Jumlah SD UKGS diwilayah kecamatan Srandakan yaitu 16 SD dengan jumlah siswa seluruhnya 2286 siswa . SD 1 Srandakan merupakan SD dengan jumlah murid paling banyak yaitu 297 ( 13%) siswa seluruhnya. Letak yang strategis di tengah kota kecamatan dengan status karies gigi DMF-T sebesar 1,16 termasuk dalam kategori sangat rendah dan deft 3,41  termasuk dalam kategori sedang. Keadaan ini ada kemungkinan untuk dipertahankan,  sehingga dipilih sebagai SD binaan Puskesmas Srandakan.

Salah satu kegiatan Usaha Kesehatan Gigi Sekolah adalah kegiatan penyuluhan. Kegiatan penyuluhan yang telah dilakukan selama ini berupa ceramah , ceramah dengan  menggunakan pantom gigi. Metode ini dianggap kurang  menarik sehingga siswa menjadi jenuh.  Berdasarkan penelitian Rusli (2003 ), Penyuluhan kesehatan gigi dan mulut dengan metode bermain lebih baik daripada metode ceramah. Metode penyuluhan dipilih ular tangga dimana permainan ini mudah dilakukan, merupakan permainan tradisional, dimainkan berkelompok dan menyenangkan.

Langkah langkah Kegiatan

  1. Pembentukan Tim Pembina Sekolah Sehat terdiri dari pemegang program  Promosi Kesehatan, Usaha Kesehatan Gigi Sekolah, Kesehatan   Lingkungan .
  2. Pelatihan Dokter gigi kecil, guru pendamping kelas dan guru PJOK SD 1 Srandakan tentang kesehatan gigi dan mulut dan penggunaan metode penyuluhan dengan permainan ular tangga.
  3. Menentukan kriteria penilaian DMFT,deft, OHIS sebagai berikut :Persiapan

Definisi Oprasional

Indeks DMF-T adalah indeks karies untuk gigi permanen dan def-t adalah indeks  karies untuk gigi sulung.

D /d           : Decay, yaitu kerusakan gigi permanen karena    

         karies dan masih bisa  di tambal.

      M /e     :     Missing /extraction  adalah gigi yang hilang karena    

                         karies atau gigi  karies yang diindikasikan dicabut.

      F/f            : Filling adalah gigi yang sudah dilakukan tindakan      

            tumpatan gigi  karena karies.

Pelaksanaan Kegiatan

    • Memilih 70 siswa dengan gigi geraham pertama permanen sudah muncul sebagai sampel yang akan dilakukan intervensi akan dimotivasi oleh dokter gigi kecil dengan diberikan penyuluhan dengan metode permainan ular tangga.
    • Melakukan pretest dan pemeriksaan awal kesehatan gigi dan mulut Penyuluhan Kesehatan gigi dan mulut dan  praktek sikat gigi  
    • Praktek bermain ular tangga dengan cara :
  • Pemain 4 orang sebagai pion dan 4 orang sebagai pelempar    

 dadu,dan 2 orang pemandu.

  • Bila dadu dilempar, pion berjalan dari kiri ke kanan sejumlah angka di mata dadu.
  • Bila pion berhenti di angka yang terdapat pesan perbuatan baik maka siswa bisa naik ke nomor lebih tingi.
  • Bila mendapat pesan kebiasaan tidak baik maka siswa itu turun melalui ekor ular.
    • Pendampingan dokter gigi kecil dalam memandu permainan ular tangga dan sikat gigi bersama secara berkala
    • Post test dan pemeriksaan kedua kesehatan gigi dan mulut 
    • Evaluasi rujukan  

 Langkah terakhir adalah Pencatatan Hasil kegiatan ( drg.Kristinawati).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *